Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Monday, March 28, 2016

Nyi Loro Kidul

Selamat jumpa kembali dengan Bunda di dalam Tell_Story. Pada kesempatan ini Bunda mau bercerita tentang seorang putri yang cantik. Dan dalam cerita ini Bunda bercerita berdasarkan versi legenda dari Jawa Barat. Ya ..... legenda Nyi Loro Kidul ini pun dapat di jumpai dalam versi Jawa tepatnya Jogyakarta. Ayo .... kita simak versi dari Jawa Barat.

          Banyak versi yang menceritakan tentang Nyi Loro Kidul, Nyi Loro Kidul dipercaya sebagai seorang Ratu Kidul yang sangat sakti dan menguasai Samudra Indonesia. Bahkan sampai saat ini, di Pantai Parang Tristis masih dilakukan upacara yang berkaitan dengan Nyi Loro Kidul. Kali ini, kisah yang diceritakan tentang Nyi Loro Kidul merupakan versi dari Jawa Barat.

          Dahulu, di Jawa Barat, terdapat sebuah kerajaan bernama Pajajaran. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja yang sangat tampan dan bijksana. Semua rakyat Pajajaran mencintainya. Raja itu bernama Prabu Mundingsari.

          Suatu hari, ketika Prabu Mundingsari sedang melakukan perburuan di hutan bersama para pengawalnya, ia terpisah dari rombongan dan tersesat di dalam hutan yang gelap. Berkali-kali ia mencoba keluar dari hutan, tapi ternyata ia hanya berputar-putar di tempat yang sama. Jejak para pengawalnya pun sudah tidak terlihat lagi.

          Hari sudah semakin gelap, ia pun mulai merasa lelah. Akhirnya, ia memutuskan untuk sementara bermalam di dalam hutan karena esok paginya ia berencana untuk mencari jalan kembali ke istana.

          Kemudian, Prabu Mundingsari tertidur di dalam hutan. Tapi, dalam keadaan setengah sadar, ia merasa ada seseorang didekatnya. Oleh karena itu, ia segeraterjaga dari tidurnya. Benar saja, di hadapannya kini ada seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu tersenyum kepadanya.
   
          Prabu Mundingsari pun bertanya kepada gadis cantik tersebut, "Hai gadis cantik, siapakah dirimu sebenarnya? Apakah aku bermimpi?"

          "Tidak. Baginda tidak bermimpi. Aku adalah cucu dari raja rimba ini. Sudilah kiranya Baginda singgah ke istana kakekku sambil beristirahat", pinta gadis cantik itu.

          Tanpa merasa ragu, Prabu Mundingsari akhirnya menerima undangan si gadis cantik. Tidak berapa lama, ia pun tiba di sebuah istana tempat tinggal sang gadis dan kakeknya. Ketika memasuki istana, betapa terkejutnya ia melihat seorang kakek berwajah menyeramkan menyambutnya dengan hangat. Kakek itu menyapa dirinya dengan sangat ramah.

          "Selamat datang di istanaku Prabu Mundingsari. Meskipun tempatku tidak seindah istanamu, tempat ini sangatlah nyaman. Kuharap kau akan betah tinggal disini", kata sang kakek.

          Kakek itu melanjutkan pembicaraannya kembali. "Mengenai terpisahnya sang Prabu dari para pengawal sampai tersesatnya di hutan, akulah yang mengaturnya. Aku harap sang Prabu tidak marah akan hal ini"

          "Mengapa kau berbuat seperti itu? Apa salahku?" tanya Prabu Mundingsari.
       
          "Ini semua kulakukan karena cucu kesayanganku jatuh hati kepadamu. Ia selalu memimpikan wajah Baginda hingga jatuh sakit," ucap sang kakek.

          Prabu Mundingsari hampir tidak percaya mendengar mendengar semua itu. Ia pun menoleh ke arah gadis cantik yang berada di sebelahnya. Tapi, sedikitpun ia tidak menyanggah penjelasan sang kakek. Gadis itu hanya tersipu malu.

          Kecantikan sang gadis memang menawan hati. Prabu Mundingsari yang saat itu melihatnya untuk pertama kali pun langsung jatuh hati kepadanya. Sikapnya yang lemah lembut serta tutur bahasanya yang halus dan sopan membuat ia terpana. Setelah Prabu Mundingsari setuju untuk menikah, acara pernikahan pun digelar.

          Prabu Mundingsari kemudian menetap di dalam istana rimba bersama istrinya. Mereka hidup berbahagia. Tidak terasa, dirinya sudah cukup lama meninggalkan istana Pajajaran. Ia pun sangat rindu kepada keluarga dan rakyatnya. Kerinduan kepada keluarga dan rakyat Pajajaran kemudian disampaikan kepada sang istrinya.

          "Dinda, rasanya sudah cukup lama aku meninggalkan Pajajaran. Aku ingin melihat keadaan istana dan rakyatku," ucapnya.

          "Meskipun aku berat melepaskan Kakanda, tapi aku rela. Aku tahu bahwa Kakanda adalah raja yang bijaksana dan selalu memperhatikan rakyatnya. Sesekali datanglah ke sini untuk melihat keadaanku dan melepas rindu," sahut sang istri.

          Setelah mendapat izin dari sang istri, Prabu Mundingsari pulang ke Pajajaran. Awalnya, ia harus keluar dari hutan belantara. Namun kali ini, ia dapat menemukan jalan pulang dengan mudah. Tidak seperti dulu sewaktu ia terpisah dari para pengawalnya.

          Berbulan-bulan sudah Prabu Mundingsari pergi meninggalkan rakyatnya. Setibanya ia di Pajajaran, seluruh istana dan rakyat menyambut dengan rasa haru dan bahagia. Sebelumnya, rakyat mengira telah kehilangan raja mereka dalam sebuah perburuan.

          Kini, Prabu Mundingsari kembali memimpin kerajaan. Pajajaran telah memiliki seorang pemimpin. Berbulan-bulan sudah Prabu Mundingsari meninggalkan istrinya di istana belantara. Suatu malam, ia terjaga dari tidurnya. Ia mendengar suara tangis bayi. Akibatnya, ia bangun dan mencari sumber suara tersebut. Benar saja, ia melihat seorang bayi sedang menangis.

          Dengan segera Prabu Mundingsari menggendong bayi itu. Ketika dilihat lebih jelas, ternyata bayi itu adalah bayi perempuan. Tiba-tiba saja muncul seraut wajah yang ia kenal. Wajah itu adalah wajah istrinya dari istana belantara.
       
          "Kakanda, bayi itu adalah anak kita. Dia kuserahkan padamu untuk kau rawat dengan baik. Aku ingin anak kita dibesarkan di kalangan manusia," pinta sang istri. "Apa maksudnya dengan kalangan manusia?" tanya Prabu Mundingsari heran.

          "Sebenarnya, aku berasal dari kalangan siluman. Maafkan aku karena tidak mengatakan sebelumnya, " jawab istrinya kembali.

          Prabu Mundingsari hanya dapat tertegun beberapa saat hingga bayangan istrinya perlahan menghilang. Akhirnya, bayi itu diasuh oleh Prabu Mundingsari di kalangan istana Pajajarn. Bayi perempuan itu diberi nama Ratna Dewi Suwido. Sayangnya, permaisuri Prabu Mundingsari tidak menyukai kehadiran Dewi Suwido. Ia selalu memperlakukan Dewi Suwido dengan kasar.

          Delapan belas tahun telah berlalu. Dewi Suwido tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik. Kecantikannya tersebar ke seluruh negeri. Tidak ada yang dapat menandingi kecantikannya. Hal ini membuat permaisuri semakin membenci. Di tambah lagi putrinya tidak secantik Dewi Suwido.

          Banyak para pangeran hendak mempersunting Dewi  Suwido hingga membuat permaisuri semakin geram. Akhirnya, ia berniat untuk mencelakai Dewi Suwido dan menyingkirkannya dari istana.

          Suatu hari, permaisuri menemui seorang ahli tenung yang terkenal sangat sakti. Ia pun menyampaikan niat jahatnya kepada ahli tenung tersebut. "Tenang saja Permaisuri, pecayakan tugas ini kepada hamba. Hamba akan melakukan yang terbaik," ucap si ahli tenung.

          "Pokoknya, aku tidak ingin orang lain tahu bahwa aku yang mencelakainya. Kau buat saja wajah gadis itu rusak sehingga tak seorang pun sudi melihatnya!", pesan permaisuri.

          Permintaan permaisuri segera dilaksanakan oleh ahli tenung itu. Dengan mantra-mantranya, ia gunakan ilmu sihirnya. Esok harinya, ketika Dewi Suwido bangun dari tidurnya, ia merasa seluruh tubuhnya sakit. Entah kenapa, tidak seperti biasanya ia mengalami hal ini. Kulit tubuhnya pun terasa tebal.

          Sebelum beranjak dari kamarnya, ia menyembunyikan diri untuk bercermin. Betapa terkejut dirinya ketika melihat bayangannya di cermin telah berubah menjadi buruk. Dewi Suwido menangis sejadi-jadinya. Kecantikannya sudah tidak tersisa lagi. Ia menjadi sangat malu untuk berjumpa dengan orang lain. Akhirnya, ia hanya mengurung diri di dalam kamar tanpa seorang pun mengetahui apa yang menimpa dirinya. "Ah, apa yang terjadi padaku? Mengapa tiba-tiba kulitku rusak seperti ini?" tanyanya dalam hati sambil menangis.

          Berhari-hari sudah Dewi Suwido mengurung diri di kamar. Hanya permaisuri jahat itu yang mengetahui bahwa sekujur tubuh Dewi Suwido telah rusak. Ia tertawa bahagia dan puas dengan hasil kerja ahli tenung suruhannya. "Hanya selangkah lagi rencanaku akan berhasil. Aku akan memberitahukan kepada sang prabu tentang penyakit menular yang diderita Dewi Suwido. Ia harus keluar dari istana. Ha ..... ha ..... ha ....." pikir Permaisuri sambil tertawa bahagia.

          Benar saja, niat permaisuri akhirnya dilaksanakan. Setelah permaisuri memberitahukan kepada Prabu Mundingsari tentang penyakit yang diderita Dewi Suwido, beliau pun segera menemui putrinya.

          "Anakku, kau menderita penyakit lepra. Penyakit ini sangat menular. Aku takut jika kau tetap tinggal di sini, akan menularkan ke banyak orang. Maafkan ayahandamu, Nak. Bukan ayahanda tidak menyayangimu tapi demi ketentraman negeri ini aku akan mengasingkanmu keluar dari wilayah Pajajaran," ucap Prabu Mundingsari.

          Perkataan sang ayah benar-benar membuatnya sangat sedih. Ia harus menerima bahwa dirinya harus terbuang dari istana dan terpisah dari ayahnya. Dengan berat hati, Dewi Suwido akhirnya keluar dari istana dengan ditemani beberapa pengawal yang mengantarkannya ke dalam rimba.

          Bebarapa pengawal pun hanya mengantarkannya sampai tepi rimba. Mereka juga takut tertular penyakit Dewi Suwido. Setelah itu, ia masuk seorang diri ke dalam hutan rimba. Berjalan dan terus berjalan. Dewi Suwido tidak tahu lagi ke mana ia harus pergi. Hanya isak tangis yang selalu menemaninya sepanjang perjalanan.

          Akhirnya, tibalah Dewi Suwido di sebuah gunung bernama Kombang. Di sana, ia bertapa memohon kepada Dewata agar disembuhkan dari penyakit kulitnya. Bertahun-tahun sudah Dewi Suwido bertapa, tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh.

          Di tengah keputus-asaannya, ia mendengar suara gaib, "Cucuku Dewi Suwido, pergilah kau ke Laut Selatan. Bersatulah dengannya dan jangan pernah kembali dalam pergaulan manusia".

          Mendengar hal itu, Dewi Suwido segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suara gaib. Ia harus berjalan berhari-hari untuk sampai di Laut Selatan. Setibanya di sana, tanpa berpikir panjang, Dewi Suwido segera menceburkan diri ke dalam laut. Benar-benar ajaib. Ketika Dewi Suwido muncul dari dalam air, penyakitnya telah hilang. Kecantikannya kembali seperti semula. Menurut kepercayaan, Dewi Suwido masih tetap hidup sampai sekarang dan menjadi penguasa Laut Selatan. Ia kemudian dikenal dengan nama Nyi Loro Kidul (Loro = derita, Kidul = selatan).

Pesan Moral : 
Berbuat baiklah kepada orang lain. Sebab, perbuatan baik akan mendatangkan ketentraman. Sebaliknya, perbuatan jahat akan mendatangkan musibah bagi orang lain maupun diri sendiri. Ingat juga untuk selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam keadaan senang mau pun susah.



No comments:

Post a Comment