Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Friday, June 12, 2020

Joko Tengger dan Senjata Pusaka

Apa kabar semua? Bunda hadir lagi disini ..... dimana? sudah tentu "Tell Story". Pasti sudah kangen ya dengan cerita Bunda. Ayo, .... kita mulai saja ......


          Dahulu, di Tengger terdapat sepasang suami istri yang memiliki seorang anak laki-laki bernama Joko Tengger. Sang suami bernama Ki Umah. Mereka hidup dengan bahagia dan tentram.

          Joko Tengger adalah pemuda yang baik hati dan memiliki kesaktian. Meskipun demikian, ia tidak pernah sombong dan selalu hormat kepada kedua orang tuanya. Suatu hari, Ki Umah menyuruh Joko Tengger untuk menjual hasil ladangnya ke kota.

          "Anakku, bawalah hasil ladang kita ke kota"
          "Baiklah, Ayah," jawab Joko Tengger.

          Joko Tengger kemudian mengumpulkan semua hasil ladang. Ternyata, hasil ladang itu sangatlah banyakdan cukup berat. Meskipun demikian, Joko Tengger tetap membawa semua hasil ladang itu hanya dengan sebatang pohon cemara. Meskipun tubuhnya tampak biasa-biasa saja, tapi kekuatannya sangatlah luar biasa. Orang biasa tidak akan mampu membawa hasil ladang yang jumlahnya sangat banyak itu. 

          Kehebatan Joko Tengger akhirnya sampai terdengar ke telinga Sri Sultan Kartasura. Kemudian, Sri Sultan Kartasura menyuruh para pengawalnya memanggil Joko Tengger untuk menghadap. Tidak berapa lama, Joko Tengger tiba di istana.

          "Hamba menghadap, Yang Mulia," ucap Joko Tengger.
          " Benarkah kamu Joko Tengger?" tanya Sri Sultan Kartasura.   

          "Benar, Yang Mulia. Hamba adalah Joko Tengger."
          "Aku dengar kau sangat hebat. Aku ingin kau mengabdi di istana," pinta Sri Sultan Kartasura.

          "Dengan senang hati, Yang Mulia," kata Joko Tengger.

          Akhirnya, Joko Tengger tinggal di istana dan mengabdi pada kerajaan Kartasura. Suatu hari, Sri Sultan Kartasura bertanya kepada Joko Tengger. 

          "Hai Joko Tengger, sebenarnya senjata apakah yang kamu miliki?"
          "Ampun Yang Mulia, hamba tidak memiliki senjata apa pun. Orangtua hamba juga tidak mewariskan apa-apa kepada hamba," jawab Joko Tengger dengan penuh hormat.

          "Sangat disayangkan, seharusnya sebagai prajurit kau harus memiliki senjata," kata Sri Sultan Kartasura.

          "Maaf Yang Mulia. Mungkin orangtua hamba belum sempat mewariskan senjata untuk hamba. Jika diizinkan, hamba akan kembali ke kampung halaman untuk bertanya kepada orangtua hamba," pinta Joko Tengger.

          "Jika itu maumu, baiklah. Aku akan mengizinkanmu kembali ke kampung halaman. Tanyakan halitu kepada kedua orangtuamu. Jika sudah selesai, segeralah kembali ke istana,"

          "Baiklah, Yang Mulia," jawab Joko Tengger.

          Akhirnya, Joko Tengger pergi ke kampung halamannya. Perjalanan dari Kartasura ke Tengger biasanya ditempuh dalam beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Namun, karena kesaktian Joko Tengger, perjalanan dari Kartasura ke Tengger hanya ditempuh dalam waktu yang singkat.

          Saat tiba di kampung halamannya, Joko Tengger disambut dengan suka cita oleh kedua orangtuanya. Ki Umah dan istrinya sangat merindukan anak semata wayangnya yang sudah lama tidak berjumpa. Kemudian, Joko Tengger menyampaikan pesan Sri Sultan Kartasura kepada kedua orangtuanya. 

          "Ayah, Ibu, kemarin Sri Sultan Kartasura bertanya kepadaku tentang senjata pusaka. "Sekarang aku diizinkan kembali ke rumah untuk menanyakan hal itu. Adakah senjata warisan untukku?" tanya Joko Tengger.

          Mendengar hal itu, kedua orangtua Joko Tengger sangat sedih karena mereka tak memiliki apa pun untuk diwariskan kepada anaknya. Mereka tidak tahu lagi harus berkata apa. Namun, mereka harus menjawab pertanyaan anak semata wayangnya.

          "Anakku tercinta, kau perlu tahu satu hal bahwa senjata warisan yang paling ampuh adalah kedua orangtuamu. Dia adalah ayah dan ibumu," ucap ayahnya.

          Joko Tengger sangat bahagia mendengar penjelasan ayahnya. Dengan demikian, berarti kedua orangtuanya dapat dibawa untuk menemui Sri Sultan. "Kalau begitu, ayah dan ibu harus ikut aku ke istana untuk bertemu Sri Sultan Kartasura. Aku akan memberitahukan bahwa ayah da ibu adalah warisan dan senjata pusaka untukku," kata Joko Tengger.

          Betapa terkejutnya Ki Umah dan istrinya mendengar ucapan anaknya. Sebenarnya, Ki Umah hanya memberikan kata kiasan kepada Joko Tengger. Tapi apa boleh buat, ia sudah terlanjur berkata demikian. Ia tidak ingin anaknya kecewa.

          Keesokan harinya, Joko Tengger dan kedua orangtuanya datang ke istana menemui Sri Sultan Kartasura. Saat tiba di istana, hal yang ajaib terjadi. Ki Umah dan istrinya berubah bentuk menjadi dua buah meriam yang sangat ampuh. Melihat hal itu, Joko Tengger sangat terkejut. Ia pun sangat sedih karena harus kehilangan kedua orangtuanya yag sangat dicintainya. Meskipun dalam keadaan berduka, Joko Tengger harus segera menghadap Sri Sultan Kartasura.

          "Yang Mulia, hamba datang menghadap," kata Joko Tengger.
    
          "Bagaimana Joko Tengger, apa yang kau bawa dari kampung halamanmu?" tanya Sri Sultan Kartasura.

          "Hamba datang membawa dua senjata ini," jawab Joko Tengger sambil menyerahkan dua meriam yang merupakan perubahan bentuk dari kedua orangtuanya.

          Benar saja, ternyata kedua meriam itu sangat ampuh dan berguna untuk pertahanan Kerajaan Kartasura. Pada beberapa kali peperangan, meriam itu dapat digunakan untuk menghancurkan pertahanan musuh.

         
          Kemudian, kedua meriam itu diberi nama Kyai Setomo dan Nyai Setomi yang masih ada hingga sekarang. Meriam Kyai Setomo kini berada di Taman Fatahillah, Jakarta. Sedangkan, meriam Nyai Setomi berada di Kartasura. (*Informasi terakhir, meriam Nyai Setomi berada di Krobongan, Sitingil Lor, Komplek Keraton, Jawa Tengah)



Pesan Moral :
Hal yang patut diteladani dari kisah ini adalah kejujuran Joko Tengger. Selain itu, meski Joko Tengger memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain, ia tidak pernah sombong ataupun bersikap angkuh. Oleh karena itu sikap baik Joko Tengger perlu dicontoh.

☕ Dukung Saya

Suka dengan tulisan saya? Kamu bisa mendukung lewat PayPal 💙

☕ Dukung Blog Ini

Saturday, November 24, 2018

Sultan Domas yang baik hati

Hai .... semuanya selamat jumpa lagi dengan Bunda. Lama Bunda tidak menyapa di blog Tell_Story, tapi kini Bunda akan kembali bercerita ..... Cerita ini berasal dari Lampung, wilayah selatan dari pulau Sumatra. Tapi bukan Palembang ya, sebab Lampung mempunyai ibu kota Bandar Lampung

          Di sebuah kota tua bernama Sukadana, Lampung, terdapat sebuah kisah tentang seorang pemuda yatim piatu yang hidupnya sangat miskin. Pemuda itu bernama Domas. Ia tinggal di desa yang penduduknya masih sangat jarang. Kebanyakan dari mereka hidup dalam kesederhanaan dengan mata pencaharian berladang dan berkebun.

          Setelah ditinggal kedua orangtuanya, tidak ada sanak saudara yang dapat ia jadikan sandaran hidup. Hidup yang miskin membuat Domas sering dicci maki oleh penduduk desa. Karenanya, Domas jarang sekali keluar dari gubuk reyot peninggalan orang tuanya dan jarang pula bergaul dengan penduduk sekitar. Meskipun begitu, tidak ada sedikitpun dendam di hati Domas atas caci maki itu.

          Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Domas cukup mencari ikan di sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.

          Suatu hari, Domas pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Namun, setelah selesi mencari kayu bakar dan kembali pulang, Domas kaget mendapati gubuk tuanya telah dibakar orang. Ia sangat sedih, hatinya hancur lebur. Kini, sudah tidak ada lagi yang tersisa. Domas yang yatim piatu tidak tahu harus ke mana lagi mencari tempat berlindung. Akhirnya, untuk sementara waktu, Domas tidur di bawah sebuah pohon di depan sisa-sisa bakaran gubuknya.

          Malam pun tiba, Domas yang kelelahan akhirnya tertidur pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu seorang kakek berjanggut putih. Kakek itu berbicara padanya, "Hai Domas pergilah kau ke arah selatan. Carilah sebuah sungai besar yang banyak dikelilingi pohon besar. Jika kau sudah menemukannya, menetaplah disana. Untuk memenuhi kebutuhan hidupmu sehari-hari, bukalah ladang, lalu tanami dengan sayur-sayuran dan buah-buahan".

          Tidak berapa lama, Domas terbangun dari tidurnya. Ia masih bingung tentang pesan kakek yang ditemuinya dalam mimpi. "Hruskah aku mengikuti pesan sang kakek dalam tidurku tadi?" pikirnya. Tapi, hendak kemana lagi ia pergi. Ia sudah tidak memiliki tempat tinggal atau sanak saudara. Penduduk di desa juga tidak ada yang peduli dengannya. "Apa salahnya jika aku mengikuti pesan si kakek," pikir Domas kembali.

         Akhirnya, dengan tekd yang bulat, pagi-pagi sekli Domas pergi meninggalkan desa. Domas melakukan perjalanan yang cukup jauh. Berbagai perkampungan ia lewati. Hingga tidak urung ia harus keluar masuk hutan dan menghadapi berbagai macam rintangan seperti serangan binatang buas dan gangguan dari mahluk halus. Namun, Domas adalah pemuda yang cerdik sehingga ia dapat melewati rintangan-rintangan itu dengan baik.

         Waktu cepat berlalu. Tidak terasa Domas telah melakukan perjalanan berbulan-bulan. Ia pun tiba di sebuah hutan lebat yang memiliki sungai besar dan berair jernih. Untuk sesaat, Domas tertegun di tempat itu. Ia teringat akan pesan kakek yang ditemuinya dalam mimpi.

          Oleh karena itu, Domas segera mengumpulkan dahan-dahan pohon serta daun-daun untuk membuat sebuah pondok yang mungil di tepi sungai. Sekarang, daerah tepi sungai ini bernama Way Sekampung.

          Setelah membangun pondok mungilnya, Domas menebang kayu untuk membuka ladang. Ia hidup dengan tenang dan tentram di sana. Jika ingin makan, ia tinggal pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Sayur-mayur pun mudah di dapat dari ladangnya.

          Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Tidak terasa Domas telah tinggal cukup lama di daerah itu. Kehidupan yang tenang dan tidak adanya pekerjaan lain selain bercocok tanam membuat Domas menjadi sering bersemedi.

         Suatu hari, dalam semedinya Domas mendapat bisikan gaib. Ia diberi kesaktian, sebilah pedang, dan tongkat kayu berbentuk ular. Betapa bahagianya hati Domas mendapat kesaktian itu. Orang-orang kemudian biasa memanggilnya dengan nama Sultan Domas.

          Semakin lama, daerah yang dibuka oleh Domas banyak dikunjungi orang-orang dari berbagai tempat. Di antara mereka ada yang mencari kayu untuk membangun rumah, ada yang mencari rotan, dan ada yang mencari ikan di sungai. Kebanyakan dari mereka pernah bertemu dengan Sultan Domas. Meskipun usianya semakin lanjut, Sultan Domas tetap terlihat sehat dan kuat.

          Tidak jarang para pencari ikan sering diselamtkan oleh Sultan Domas dari buaya-buaya yang hendak memangsa mereka. Selain itu, para pencari rotan dan kayu juga sering diselamatkan oleh Sultan Domas dari serangan binatang-binatang buas. Oleh sebab itu, nama Sultan Domas semakin dikenal oleh masyarakat sebagai orang tua yang sangat bijaksana dan suka menolong. Ia pun semakin dihormati dan disegani karena suka menolong tanpa pamrih.

          Meskipun Sultan Domas telah banyak berbuat baik kepada setiap orang, namun masih banyak orang-orang yang iri dengannya. Bahkan, banyak yang berniat jahat kepadanya.

          Suatu hari ketika Sultan Domas mencari ikan di hulu sungai Way Sekampung, datanglah lima orang laki-laki tak dikenal masuk ke pondoknya. Mereka hendak mencuri barang-barang termasuk dua benda pusaka miliknya.

          Setelah semua barang dan benda pusaka milik Sultan Domas berhasil dicuri, kelima lelaki tersebut hendak pergi meninggalkan pondok dan berniat untuk membakarnya. Akan tetapi, api itu selalu mati setiap kali disulut. Niat untuk membakar pondok Sultan Domas pun dibatalkan. Namun, betapa terkejutnya kelima lelaki itu ketika akan meninggalkan pondok. Seekor ular besar dengan semburan yang berhawa panas menghadang mereka di pintu. Mereka lari ketakutan dan hendak keluar melalui jendela. Tetapi yang terjadi adalah seekor buaya besar yang siap menerkam sudah menunggu di balik jendela. Merek sangat takut dan tidak bisa kemana-mana lagi sehingga Sultan Domas pulang.
         
          Melihat kelima laki-laki tak dikenal berada di dalam pondoknya, Sultan Domas tidak terkejut. Dengan ramahnya, ia menjamu orang-orang jahat itu. Kelima lelaki itu tidak bisa berkata apa-apa. Mulut mereka terasa terkunci. Setelah Sultan Domas mengucapkan salam kepada mereka, barulah kelima lelaki itu dpat berbicara kembali. Sultan Domas kemudian mengajak mereka untuk bermalam.

          Keesokan harinya, kelima lelaki itu kembali ke kampung mereka dan menceritakan kejadian yang mereka alami kepada para tetangga. Cerita pun tersebar tentang adanya orang tua yang sangat sakti dan baik hati di dalam hutan Way Sekampung. Akhirnya, banyak orang yang mulai berdatangan ke Way Sekampung untuk membuka ldang.

         Semakin lama, Way Sekampung berubah menjadi sebuah perkampungan. Sultan Domas kemudian diangkat menjadi pemimpin. Ketika Sultan Domas meninggal, ia pun dimakamkan di pinggir sungai Way Sekampung. Sampai sekarang, makam itu masih dapat kita lihat di desa Sidomukti, Provinsi Lampung dan dianggap keramat oleh masyarakat sekitar. Anehnya, jika sungai Way Sekampung meluap dan terjadi banjir besar, makam Sultan Domas tidak pernah tenggelam. Padahal, tempat-tempat disekitarnya digenangi air.


Pesan Moral :
Jadilah orang yang rendah hati dan suka menolong. Segala perbuatan akan ada ganjarannya. Jika melakukan perbuatan baik, balasannya pun akan baik pula. Begitu pula sebaliknya.

Monday, July 9, 2018

Asal usul ikan duyung

Hallo semua, apa kabarnya dengan kalian? Maaf, jika Bunda sudah lama tidak muncul dengan cerita-cerita legenda. Iya dech, kita mulai saja. Pastinya kamu tahu dengan ikan duyung, ya banyak yang berkata jika ikan duyung adalah ikan yang cantik. Mari kita cari legendanya. Kebetulan Bunda punya cerita legendanya yang berasal dari Sulawesi Tengah. Monggo di simak ya ceritanya ......

          Dahulu, di Sulawesi Tengah, ada sebuah keluarga yang bahagia. Keluarga itu terdiri dari Ayah, Ibu, dan ketiga anak mereka yang masih kecil. Setiap pagi, sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga tersebut untuk sarapan bersama. Mereka berkumpul di meja makan dan berbagi cerita. Selesai sarapan, sang ayah berangkat ke kebun untuk bekerja.

          Suatu hari, setelah sarapan, sang ayah berpesan, "Bu, tolong simpan sisa ikan ini! Aku akan memakannya nanti sore sepulang dari kebun".

          "Baik, ayah. Akan saya simpan," ucap si ibu.

          Berangkatlah sang ayah ke kebun untuk mengolah tanah, sedangkan si ibu menyimpan sisa lauk ikan di lemari makan. Siang harinya, si ibu dan ketiga anaknya berkumpul di meja makan untuk makan siang. Tapi, ketika akan makan, anak yang paling kecil merengek untuk makan dengan lauk ikan yang disimpan di lemari makan.

          "Nak, lauk ikan itu untuk ayah. Tadi, sebelum ke kebun, ayah berpesan kepada ibu untuk menyimpannya. Sebab, ayah ingin memakannya nanti sore", jelas si ibu.

          "Pokoknya aku cuma mau makan pakai lauk ikan. Aku mau lauk ikan, ibu .....", teriak anak yang paling kecil sambil menangis.

          Si ibu semakin bingung. Ia tidak tahu lai bagaimana harus membujuk anaknya agar dapat mengerti pesan ayahnya. Si anak terus saja menangis dan tidak mau makan dengan lauk lainnya. Semakin lama si ibu tidak tega melihat anaknya menangis dengan perut yang masih kosong. Akhirnya, ia mengeluarkan lauk ikan itu dari dalam lemari makanan. Disuapi lauk ikan yang hanya tinggal sedikit kepada si anak hingga tidak tersisa lagi.

          Saat sore datang, sang ayah segera bergegas untuk pulang ke rumah. Perutnya terasa sangat lapar. "Wah, masih ada sisa ikan tadi pagi. Aku akan memakannya sekarang", pikirnya.

          Setibanya di rumah, ia segera mencari istrinya agar menyiapkan makan sore untuknya. "Bu ..... aku pulang!! Tolong siapkan makananku di meja makan". "Baik ayah," jawab ibu.

          Istrinya pun sibuk menyiapkan makanan dengan lauk lain.

          " Ini ayah makanannya".

          "Lho, mana sisa ikan yang aku pesan tadi pagi?" tanya sang suami.

          "Maaf ayah. Tadi siang si kecil merengek minta makan dengan lauk ikan. Ia tidak mau makan dengan lauk lainnya", ucap sang istri.

          "Tapi, bukankah aku sudah pesan agar lauk itu disimpan untuk makanku sore ini. Seharusnya kau menyimpannya dengan baik jangan sampai ketahuan anak kita", katanya.

          Sang ayah yang kala itu sangat lapar tidak dapat menahan emosinya. Ia terus marah-marah menyalahkan istrinya. Hari pun mulai malam, tapi kemarahan sang ayah bukan makin mereda tapi semakin menjadi-jadi. Istrinya sangat bingung dan sedih menghadapi suaminya yang terus marah. Tidak ada pengertian sedikitpun dari suaminya hanya karena anaknya memakan sisa lauk ikan yang ia pesan.
       
           Akhirnya, malam itu sang ibu pergi ke laut sambil menangis. Ketiga anaknya tidak ada yang mengetahui ibunya telah pergi meninggalkannya. Mereka masih lelap tertidur. Sang ibu sudah tidak tahan lagi mendengar amarah suaminya yang tiada henti.

          Pagi harinya, ketiga anak itu mencari ibu mereka. Dicarinya ke seluruh ruangan, tapi sang ibu tidak ditemukan. Kemudian, anaknya yang tertua mengajak adik-adiknya mencari sang ibu di laut.

          "Dik, mari kita ke laut. Siapa tahu ibu ada di sana", ucap sang kakak.

          "Baiklah, kak ..... mungkin ibu mencari ikan di laut agar ayah tidak marah-marah lagi", jawab adiknya.

          "Makanya dik, lain kali kalau ibu menasihati, kamu tidak boleh marah-marah atau menangis. Kasihan ibu kalau nanti dimarahi ayah", jawab kakaknya.

          "Iya kak, aku menyesal", ucap sang adik.

          Ketiga anak itu kemudian pergi ke laut sambil berteriak-teriak memanggil ibunya. Setelah beberapa lama memanggil, sang ibu akhirnya muncul. Sang ibu memeluk ketiga anaknya kemudian menyusui anaknya yang paling kecil.

          "Nak, setelah ini kalian harus segera pulang ke rumah ya!" pesan sang ibu. "Iya bu", jawab ketiga anaknya.

          Ketiga anak itu menuruti pesan sang ibu. Tapi sampai malam menjelang, ibu mereka tidak kunjung kembali ke rumah. Oleh karena itu, keesokan paginya mereka kembali mencari sang ibu di laut.

          Setibanya di laut, ketiga anak itu kembali berteriak-teriak memanggil ibu mereka. "Ibu ..... ibu ..... ibu ..... pulanglah! Si bungsu lapar dan ingin menyusu", kata anak paling tua.

          Setelah tiga kali memanggil, si ibu muncul dari dalam laut. Ia segera menyusui anak bungsunya dengan penuh kasih sayang. Namun, lama-kelamaan tanpa disadari tubuh sang ibu sudah mulai bersisik seperti ikan.

          Ketika anak-anaknya datang kembali ke laut, melihat si ibu dengan kondisi seperti itu membuat mereka takut dan tidak mau percaya lagi jika wanita itu adalah ibu mereka.

          "Kemarilah bungsu, ibu akan menyusuimu", kata si ibu.

          "Bukan!!! Kau bukan ibuku. Ibuku tidak bersisik sepertimu!!" kata ketiga anaknya.

          "Aku adalah ibumu, nak. Percayalah!!" kata si ibu memelas.

          "Kami tidak percaya kepadamu. Kau hanya mirip dengan ibu kami", kata ketiga anaknya.

          Betapa sedih hati sang ibu mendengar ucapan anaknya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi kerena memang tubuhnya sekarang tidak seperti dulu. Di tubuhnya kini telah muncul sisik-sisik seperti ikan.

          Ketiga anak itu terus berjalan mencari ibu mereka menelusuri tepian laut sambil berteriak-teriak memanggil si ibu. Setiap itu pula si ibu muncul dari laut dengan wujud yang semakin menakutkan dengan tubuh yang semakin dipenuhi dengan sisik ikan. Inilah dongeng tentang asal-usul ikan duyung yang berasal dari cerita rakyat Sulawesi Tengah.

Pesan Moral :
Kisah ini mengajarkan kita agar senantiasa menuruti nasehat orang tua. Selain itu, sebuah masalah tidak dapat diatasi dengan kemarahan, hadapilah dengan kesabaran.. 

Wednesday, March 15, 2017

Kisah tiga taduloko asal Bulili

Hallo ....., apa kabarnya ? Semoga kalian sehat dan baik-baik saja. Bagaimana, dengan pelajaran kalian yang masih sekolah? dan pekerjaan kalian yang sudah bekerja. Semoga sukses, ya semuanya. Saat ini Bunda mau bercerita tentang tiga orang pendekar yang berasal dari Sulawesi Tengah. Mari kita simak dengan seksama .....

          Pendekar di Sulawesi Tengah disebut dengan taduloko yang berarti panglima perang. Kisah dari Sulawesi Tengah ini menceritakan tentang tiga orang taduloko yang hidup di Desa Bulili, Sulawesi Tengah. Mereka sangat kuat dan tiada bandignya. Tiga orang taduloko ini bernama Bantili, Molove, dan Makeku. Tidak ada taduloko lainnya yang mampu menandingi kesaktian taduloko dari Bulili ini. Berkat para taduloko sakti ini, Desa Bulili menjadi aman. Semua gentar jika mendengar nama ketiga taduloko ini.

          Suatu hari, Desa Bulili kedatangan seorang raja dari Sigi. Ketika sedang berjalan-jalan, sang raja melihat seorang gadis cantik asal Bulili. Raja Sigi pun kemudian meminang gadis cantik itu. Mereka menikah dan tinggal di Bulili.

          Berbulan-bulan sudah Raja Sigi tinggal di Bulili. Istrinya pun mulai mengandung. Namun, ketika sang istri ingin dimanja dan disayang oleh suaminya, Raja Sigi malah mengutarakan keinginannya untuk kembali ke Sigi.

          "Adinda, aku harus kembali ke Sigi. Sudah cukup lama aku meninggalkan Sigi. Banyak urusan yang belum terselesaikan di sana", ucap Raja Sigi.

          "Haruskah Kakanda pergi? Tidakkah Kakanda akan kehilanganku dan anak kita?" bujuk istrinya. "Rakyat Sigi membutuhkanku, Dinda. Aku harap Dinda mau mengerti", kata Raja Sigi.

          "Aku dan anak kita yang masih dalam kandungan juga membutuhkanmu, Kanda. Apakah Kanda tidak ingin melihat anak kita lahir ke dunia?" tanya sang istri.

          "Bukan begitu, Dinda. Kanda yakin Dinda adalah wanita yang kuat. Jadi, tunggulah Kanda di sini", ucap Raja Sigi.

          Keesokan harinya, Raja Sigi kembali ke negerinya. Istrinya tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mampu menahan suaminya untuk pergi. Tinggallah ia di Bulili tanpa suami. Namun, ia tidak seorang diri, beberapa kerabatnya pun tinggal tidakjauh dari rumahnya. Tetangga dan sahabat-sahabatnya dengan senang hati menemaninya siang dan malam.

          Bulan demi bulan ia lewati. Tanpa terasa, tibalah saat untuk melahirkan buah hatinya. Tanpa ditemani sang suami, ia melahirkan anak yang lucu dan sehat. Semua warga Bulili sangat bahagia menyambut mahluk kecil itu sebagai warga baru mereka. Para pemuka desa pun segera memerintahkan dua taduloko yang gagah untuk pergi ke Sigi menemui Raja Sigi. Akhirnya, berangkatlah Makeku dan Bantili ke sigi mengemban tugas.

          Sesampainya di sana, ia langsung menemui sang raja. Namun, bukanlah keramahan yang mereka dapatkan tapi ucapan sinis yang keluar dari Raja Sigi. "Apa maksud kedatangan kalian ke istanaku?" tanya Raja Sigi dengan sinis.

          "Maaf, Baginda. Kami diutus untuk meminta padi di lumbung Sigi. Padi itu untuk anak Baginda yang baru saja lahir", jawab Bantili.

          Mendengar berita itu, Raja Sigi bukanlah merasa senang, tetapi justru melecehkan kedua taduloko yang sakti itu. "Baiklah. Jika kalian menginginkan lumbung padi milikku, coba kalian angkat dan bawalah lumbung itu. Cukup kalian tahu, dengan puluhan tenaga orang saja baru bisa menggeser lumbung itu", ucap Raja Sigi dengan angkuh.

          Merasa diremehkan, Makeku dan Bantili segera pergi menuju lumbung padi Raja Sigi. Dengan kesaktiannya, Bantili mampu mengangkat lumbung padi yang besar itu, sedangkan Makeku mengawal Bantili dari belakang.

          Betapa terkejut dan marahnya Raja Sigi melihat lumbung padinya berhasil dibawa. Akhirnya, ia mengerahkan para pengawal kerajaan untuk menangkap dua taduloko itu.

          "Para pengawal, cepat tangkap orang-orang Bulili itu!" teriak Raja Sigi.

          Dengan sigap, para pengawal mengejar Makeku dan Bantili. Meski pun tenaga sudah dikerahkan, mereka tetap tidak mampu mengejar kedua taduloko dari Bulili itu. Sampai akhirnya, tibalah Makeku dan Bantili disebuah sungai yang sangat besar dan dalam. Para pengawal tampak senang, mereka mengira kedua taduloko pasti akan menyerah. Namun dugaan mereka meleset, kedua taduloko dari Bulili itu dengan mudah menyeberangi sungai yang besar dan dalam itu. Meski pun Bantili membawa lumbung padi yang sangat besar, bukanlah hal yang sulit untuknya menyeberangi sungai. Para pengawal kerajaan yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terperangah. Mereka tidak mampu menyeberangi sungai yang besar dan dalam itu. Akhirnya, loloslah Makeku dan Bantili dari kejaran para pengawal Raja Sigi. Makeku dan Bantili pun tiba di Desa Bulili dengan selamat.

Pesan Moral :
Tepatilah janji yang telah diucapkan. Selain itu, janganlah menjadi pemimpin yang angkuh dan sombong.

Tuesday, February 28, 2017

Legenda Sawerigading

Apa kabar semuanya? Semoga baik dan sehat selalu ya. Sudah lama Bunda tidak menyapa, biasa Bunda sembunyi dulu. Tapi begitu muncul .... banyak berita yang sudah bertimbun, dan membuat miris, sedih hati Bunda. Sebab belum lama ini terjadi tawuran pelajar, dan membuat salah satu siswa meninggal dunia. Bagaimana perasaan orang tuanya, yang meninggal dan yang melakukan perbuatan tersebut ? ..... Bunda hanya berpesan jauhilah perbuatan seperti itu, sebab tidak ada gunanya !!! Nah, saat ini Bunda akan bercerita kembali tentang legenda Sawerigading, legenda tersebut berasal dari Sulawesi Barat.

          Dikisahkan, dahulu kala bumi adalah sebuah tempat yang sangat luas dan belum dihuni oleh siapa pun. Raja Langit yang bernama La Patiganna bermusyawarah dengan keluarga kerajaan serta beberapa kerajaan langit yang juga dihadiri oleh Senrijawa dan Peretiwi yang berasal dari alam gaib.

          "Saudara-saudaraku, bumi adalah tempat yang sangat luas dan indah. Tapi, kulihat tidak ada seorang pun manusia yang hidup di bumi. Sangat disayangkan jika keindahan bumi tidak dikelola dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Bagaimana jika kita mengirim seseorang untuk mengatur segala sesuatunya di bumi dan menjadi raja? ujar Raja Langit.

          "Aku akan mengirim putra tertuaku, La Toge Langi," ucap Raja Langit.

          Semua yang hadir ketika itu menyepakati bahwa La Toge Langi lah yang akan ke bumi. Namun, bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang Raja Bumi. Ia harus melalui masa ujian selama 40 hari, 40 malam.

          Hari berganti hari, La Toge Langi melalui masa ujian tersebut dengan sabar. Kesabarannya pun membuahkan hasil. Ia dinyatakan layak untuk dikirim ke bumi. Setelah itu, berangkatlah ia ke bumi sebagai seorang Raja Alekawa (Bumi) dan menggunakan gelar Batara Guru. Wilayah tempat pertama kali La Toge Langi berpijak adalah Ussu. Wilayah ini sekarang terletak di daerah Luwu Timur yang terletak di Teluk Bone.

          Setelah beberapa lama menjadi seorang raja di Bumi, La Toge Langi menikah dengan anak Raja Alam Gaib yang bernama Guru Ri Selleng, yang terhitung masih sepupunya. Wanita itu bernama We Nyili'timo.

          Waktu berlalu, La Toge Langi dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu bernama La Tiuleng. Ketika La Tiuleng beranjak dewasa, kedudukan sebagai Raja Bumi digantikan olehnya. Ia pun diberi gelar Batara Lattu. Setelah itu, ia dikaruniai dua anak kembar, yaitu seorang anak laki-laki bernama Lawe atau La Madukelleng, sering juga disebut dengan Sawerigading (Putra Ware) dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng.

          Sawerigading dan We Tenriyabeng tidak dibesarkan bersama-sama. Mereka hidup terpisah satu sama lain tidak saling mengenal. Tahun berganti tahun, Sawerigadig dan We Tenriyabeng tumbuh dewasa. Suatu hari, ketika Sawerigading sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ia melihat gadis yang sangat cantik berlalu dihadapannya. Pada pandangan pertama, Sawerigading jatuh hati.

          "Siapakah namamu gadis catik?" tanya Sawerigading.

          " Namaku We Tenriyabeng," jawab We Tenriyabeng dengan tersipu.

          Perkenalan mereka pun berlanjut. Sawerigading mengutarakan keinginannya untuk menikahi We Tenriyabeng. Ketika keduanya sepakat untuk meminta restu kedua orang tua, betapa terkejutnya mereka mengetahui bahwa mereka adalah saudara kembar yang terpisah. Hancurlah perasaan keduanya. Sawerigading dengan hatinya yang kecewa pergi meninggalkan Luwu dan bersumpah tidak ingin kembali. Sedangkan, We Tenriyabeng pergi entah ke mana.

          Sawerigading yang ketika itu pergi mengembara akhirnya tiba di sebuah negeri. Negeri itu bernamaTiongkok. Di sana dikabarkan ia mengalahkan beberapa kesatria Kerajaan Tiongkok bahkan pemerintahan Jawa Wollo, yaitu Setia Bonga. Kisah cinta Sawerigading ternyata belum berakhir, ia bertemu seorang putri cantik asal Tiongkok bernama Cudai.

          Setelah sekian lama, ternyata Sawarigading menjadi seorang kapten perkasa. Dalam perjalanannya, ia berlayar ke daerah Taranate (Ternate) di Maluku, Gima (daerah yang diduga bernama Bima dan Sumbawa), Jawa Rilau dan Jawa Ritengga (kemungkianan Jawa Timur dan tengah), Sunra Rilau dan Sunra Riaja (kemungkinan daerah itu bernama Sunda. Kemungkinan Sunda Timur, Sunda Barat dan Malaka).

          Setelah menikah, Sawerigading dikaruniai seorang anak laki-laki,ia bernama I La Galigo dengan gelarnya Datunna Kelling. Dikisahkan bahwa I La Galigo ketika dewasa menjadi seorang kapten kapal seperti ayahandanya. Namun, ia tidak pernah menjadi seorang raja. I La Galigo dibarkarkan memiliki empat orang istri dari pelbagai negeri. Ia pun dikaruniai anak yang salah satunya bernama La Tenritatta. La Tenritatta adalah keturunan terakhir yang dinobatkan di Luwu.


Pesan Moral :
Kenalilah saudara sendiri dan jalinlah hubungan persaudaraan dengan baik. Sebab, jika kita tidak mengenalnya, suatu hari akan membawa petaka yang buruk yang akan menimpa kita sendiri.

lihat pula di sini ya .....https://id.wikipedia.org/wiki/Sawerigading

Monday, December 26, 2016

Aji Saka dan asal mula huruf Jawa

Hallo ..... apa kabar semua? Selamat Natal dan damai sejahtera Bunda ucapkan bagi yang merayakannya. Kiranya kita selalu diberi kesehatan, kedamaian dan saling mengasihi sesama. Hari ini Bunda akan mengenalkan huruf Jawa, dan sudah tentu ada legendanya. Yach, ..... Bunda sebagai orang Indonesia dan berasal dari Jawa, jadi ingin mengenalkan asal usul huruf tersebut. Mari kita simak ya .....

          Dahulu, berdiri sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang dipimpin oleh seorang raja yang jahat bernama Prabu Dewata Cengkar. Ada satu hal yang sagat membuat takut rakyat Medang Kamulan. Sebab, sang Prabu suka memakan daging manusia. Tidak ada yang berani menentang keinginannya. Setiap hari, Patih Jugul Muda harus sibuk mencari korban manusia untuk dipersembahkan kepada sang Prabu, hingga rakyat Medang Kamulan berbondong-bondong mengungsi ke daerah lain menyelamatkan diri. 

          Kabar tentang kejahatan Prabu Dewata Cengkar sampai juga ke Desa Medang Kawit. Di sana, tinggal seorang pemuda sakti dan gagah berani bernama Aji Saka. Ia tidak tega mendengar banyak rakyat Medang Kamulan menjadi korban kebiadaban Prabu Dewata Cengkar. Akhirnya, Dora dan Sembada, dua pengawal setianya, Aji Saka pergi ke Medang Kamulan.

          Sebelum tiba di Medang Kamulan, mereka singgah di sebuah pegunungan bernama Kendeng. Di sana Aji Saka berkata kepada Sembada, "Sembada, besok aku akan ke Medang Kamulan. Kutitipkan keris ini kepadamu. Jangan berikan kepada siapa pun karena aku sendiri yang akan datang mengambil keris ini".

          Keesokan harinya, pergilah Aji Saka melanjutkan perjalanan ke Medang Kamulan seorang diri. Setibanya di sana, ia mendengar kabar bahwa Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak berhasil mendapatkan persembahan untuknya. Mendengar hal itu, Aji Saka pergi menemui Patih Jugul Muda. "Patih, bawalah aku bersamamu menemui Prabu Dewata Cengkar," ucap Aji Saka.

          "Apa aku tidak salah dengar? Semua orang lari terbirit-birit jika mereka diminta untuk menjadi korban sang prabu. Tapi, kau justru malah menyerahkan dirimu untuk dijasikan korban," ucap Patih Jugul Muda.

          "Kau tidak salah dengar, Patih. Aku bermaksud menghentikan kezaliman di desa ini," jawab Aji Saka.
      
          Akhirnya, pergilah mereka berdua ke istana menghadap Prabu Dewata Cengkar. "Maaf Baginda, sebelum hamba mati dan menjadi korban, izinkan hamba meminta satu hal," pinta Aji Saka kepada Prabu Dewata Cengkar. Dengan suaranya yang menggelegar, Prabu Dewata Cengkar berkata, "Cepat katakan, apa keinginanmu? Aku akan mewujudkan keinginanmu karena aku sudah lapar sekali."

          "Aku ingin mendapatkan imbalan tanah seluas sorban yang aku pakai ini," ucap Aji Saka.

          "Ha ... ha ... ha ..., itukah keinginanmu? Baiklah. Sekarang coba kau rentangkan sorbanmu ke tanah. Aku pasti akan mengabulkannya," ucap Prabu Dewata Cengkar sambil tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Aji Saka.

          Sorban Aji Saka pun digelar. Namun, tidak seorang pun menduga sorban itu sangatlah panjang. Luasnya melebihi kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Ketika digelar, sorban itu membentang dari istana, ke perkampungan penduduk, ke hutan, ke gunung, bahkan sampai lembah ngarai. Semua yang menyaksikan hal ini tercengang. Mereka tidak menduga bahwa sorban yang dikenakan Aji Saka sangatlah panjang dan lebar.

          Berdasarkan perjanjian yang telah disetujui sebelumnya, Prabu Dewata Cengkar harus memenuhi janjinya. Itu berarti, wilayah Medang Kamulan menjadi milik Aji Saka. Mengetahui hal itu, Prabu Dewata Cengkar marah bukan kepalang. Namun, dengan kesaktian Aji Saka, Prabu Dewata Cengkar berhasil diatasi. Sorban Aji Saka yang membentang itu, tiba-tiba saja melilit tubuh Prabu Dewata Cengkar. Lilitan itu sangat kuat hingga tubuh sang prabu yang besar bagaikan raksasa tidak mampu bergerak sedikit pun, apalagi meronta-ronta. Kemudian, tubuh Prabu Dewata Cengkar dilemparkan ke dalam Laut Selatan yang berombak besar. Dengan sekejap, tubuh raksasa itu hilang ditelan ombak yang ganas. Prabu Dewata Cengkar akhirnya mati di tangan Aji Saka. Kezaliman Prabu Dewata Cengkar berakhir.

          Mendengar kematian raja mereka, rakyat Medang Kamulan bersorak-sorai. Mereka bahagia karena terbebas dari raja yang suka memakan daging manusia. Aji Saka akhirnya dinobatkan menjadi raja di Medang Kamulan. Ia menjadi raja yang baik hati dan bijaksana. Medang Kamulan pun mengalami masa kejayaan pada saat pemerintahannya.

          Suatu hari, Aji Saka teringat akan kerisnya. Ia pun meminta bantuan Dora untuk mengambil keris yang berada di tangan Sembada. "Dora, tolong kau ambilkan kerisku yang berada di tangan Sembada yang kini berada di pegunungan Kendeng!" perintah Aji Saka. "Baik, akan aku laksanakan," ucap Dora.

          Dora pun pergi ke pegunungan Kendeng menemui Sembada. Setibanya ia di Kendeng, Dora langsung melepas rindu kepada sahabatnya. Keduanya akhirnya berbincang-bincang sejenak dan saling menanyakan kabar. Setelah itu, Dora menyampaikan pesan Aji Saka untuk mengambil keris pusaka. 

          Mendengar hal itu, Sembada menolak dengan tegas permintaan Dora. Sembada teringat akan pesan yang pernah disampaikan Aji Saka kepadanya yaitu jangan pernah memberikan keris pusaka itu kepada siapa pun karena Aji Saka sendiri yang akan mengambilnya.

          "Maaf Sembada, tapi aku benar-benar diminta Aji Saka untuk mengambil keris miliknya. Aku hanya melaksanakan amanat yang diberikannya kepadaku," ucap Dora.

          "Maafkan aku juga Dora. Bukan aku tidak percaya padamu, tapi aku hanya sekedar menjalankan amanat dari Aji Saka yan disampaikan kepadaku untuk tidak memberikan keris ini kepada orang lain," ucap Sembada.

          Akhirnya, dengan berat hati, mereka bertarung untuk melaksanakan amanat yang telah diembannya. Dora diminta untuk mengambil keris pusaka, sedangkan Sembada diminta untuk tetap menjaga keris pusaka itu sampai Aji Saka sendiri yang datang mengambilnya.

          Di lain tempat, Aji Saka sedang menunggu kedatangan Dora. "Seharusnya Dora sudah tiba di sini menemuiku. Tapi, kenapa ia belum datang juga ya?" tanya Aji Saka dalam hati.

          Aji Saka kemudian menyusul Dora ke pegunungan Kendeng. Setibanya di sana, betapa terkejutnya ia melihat dua orang kepercayaannya mati tergeletak bersimbah darah. Rupanya mereka bertarung sampai mati demi memegang amanat yang telah mereka emban. Aji Saka baru teringat akan pesan yang ia sampaikan kepada Sembada untuk tidak memberi keris itu kepada siapa pun. Ia merasa bersalah kepada keduanya.

          Untuk mengabadikan kesetiaan kedua abdinya, Aji Saka menulis huruf-huruf di sebuah batu yang kemudian dikenal dengan nama Carakan. Itulah peninggalan bersejarah yang ditinggalkan oleh Aji Saka untuk mengenang abdinya yang mati dalam menjalankan tugas yang diembannya.

Pesan Moral :
Menjalankan amanat yang telah diberikan orang lain kepada kita adalah sebuah keharusan. Sebab, kepercayaan itu tidak dapat dibayar dengan apa pun.


Catatan untuk diingat :
Aksara Jawa Hanacaraka merupakan salah satu aksara yang digunakan di tanah jawa dan sekitarnya, sering disebut Aksara Jawa. Aksara Hanacaraka sebenarnya diambil dari lima aksara pertama dalam aksara jawa: "ha na ca ra ka". Aksara Jawa sendiri berjumlah dua puluh aksara, yaitu :

Makna dari aksara tersebut adalah :
Ha Na Ca Ra Ka (ono utusan = ada utusan)

Da Ta Sa Wa La (padha kekerengan = saling berkelahi)

Pa Da Ja Ya Nya (padha digdayane = sama-sama saktinya)

Ma Ga Ba Tha Nga (padha nyunggi bathange = saling berpangku saat meninggal)







Sunday, November 20, 2016

Asal mula Batu Raden

Hallo ..... apa kabarnya? Sudah lama Bunda tidak menyapa kalian semua, apa kabarya? Semoga baik dan sehat, ya?! Iya kalian pasti tahu dong, gambar disebelah ini.
Iya, benar itu adalah tempat pariwisata Batu Raden, tempatnya sangat indah dan tenang. Tapi, tahu tidak jika tempat pariwista tersebut ada legendanya?! Mari kita simak dari legenda Batu Raden.

          "Suta .....!Bersihkan kudaku. Aku akan menungganginya keliling kadipaten," perintah Adipati. Suta adalah seorang pembantu yang bertuas mengurus kuda-kuda Adipai. Ia adalah pekerja yang jujur dan ulet. Kuda-kuda milik Adipati selalu dalam keadaan sehat di tangan Suta.

          Suatu hari, seperti biasanya, Suta membersihkan kandang kuda milik Adipati. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Suta berjalan-jalan di sekitar kadipaten. Ia melewati sebuah tempat pemandian yang biasa disebut dengan Tamansari. Namun, keasyikan berjalan-jalannya terganggu oleh suara jeritan seorang wanita. Suta pun segera mencari sumber suara tersebut.

          "Dari mana asal suara itu? Sepertinya tidak jauh dari sini," ucap Suta dalam hati.

          Benar saja, ketika Suta melewati sebuah pohon besar, dilihatnya seorang gadis cantik tengah berteriak ketakutan dan meminta tolong. Gadis itu adalah putri adipati. Suta pun sangat terkejut melihat seekor ular yang sangat besar menggelantung di dahan pohon. Ular tersebut berada persis dihadapan putri Adipati. Dengan mulutnya yang menganga lebar, ular tersebut seolah siap memakan putri Adipati yang ketakutan. Meskipun Suta sebenarnya juga sangat takut, ia tetap saja berusaha menolong putri Adipati. Diambilnya sebuah kayu yang cukup besar, lalu dipukulkannya kepala ular tersebut. Suta berkali-kali memukul hingga ular besar itu menggeliat-geliat dan jatuh ke tanah. Perjuangan Suta menaklukkan ular tersebut ternyata tidak sia-sia. Setelah memukul dengan bertubi-tubi, ular tersebut akhirnya mati.

          "Apakah putri baik-baik saja?" tanya Suta cemas.
       
          "Aku baik-baik saja Suta. Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku," ucap putri Adipati lega.

          "Sudah kewajibanku untuk menolong Putri," ucap Suta.

          Suta pun kemudian mengantar putri Adipati kembali ke kadipaten. Sejak peristiwa itu, Suta dan putri Adipati semakin dekat. Benih-benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya. Suatu hari, Suta datang menghadap Adipati. Ia memberanikan diri untuk melamar putri Adipati.

          "Maafkan jika hamba lancang, Adipati. Kedatangan hamba kali ini menghadap bermaksud untuk melamar putri Adipati," ucap Suta.

          "Apa? Berani-beraninya kau melamar anakku. Ingat, kau hanya seorang pembantu. Kau tidak sederajat dengan kami," ucap Adipati.

          "Tapi ayah, aku juga sangat mencintai Suta," ucap putri Adipati yang saat itu mendengar percakapan antara Suta dengan Adipati.

          Tentu saja pengakuan putrinya membuat Adipati semakin berang. Ia pun berusaha memisahkan putrinya dengan Suta. Tanpa menghiraukan isak tangis putrinya, Adipati menyuruh para pengawalnya untuk menangkap Suta. "Pengawal. tangkap dia dan masukkan ke dalam penjara!" perintah Adipati.

          Kehidupan Suta di dalam penjara sangat memprihatinkan. Suta dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah yang sangat gelap.Selnya pun digenangi air setinggi pinggang. Benar-benar tidak layak untuk ditinggali. Penderitaanya juga bertambah ketika ia tidak diberi makanan meski pun hanya sedikit.

          Keadaan Suta yang sangat menyedihkan terdengar oleh putri Adipati. Ditambah lagi, Suta terserang penyakit demam. Hal ini membuat putri Adipati semakin bingung. Ia sangat ingin menolong kekasih hatinya. Akhirnya, dengan dibantu emban (inang pengasuh) kepercayaannya, putri Adipati membebaskan Suta.

          "Emban, tolong bantu aku menyelamatkan Suta. Sebab, aku pernah berhutang budi padanya," ucap putri Adipati.

          "Hamba akan bantu semampunya," ucap emban.

          "Aku punya rencana. Ketika para pengawal dalam keadaan lengah, emban diam-diam menyelinap ke dalam penjara. Aku akan menunggunya di taman belakang dengan seekor kuda," ucap putri Adipati.

          Saat malam menjelang, rencana putri Adipati pun dilaksanakan. Suta yang berada di penjara bawah tanah dibebaskan oleh emban dengan cara menyelinap. Suta yang dalam keadaan sakit dipapah oleh emban ke taman belakang kadipaten. Disana, putri Adipati sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Betapa bahagianya hati sang putri melihat sosok Suta.

          "Emban, terima kasih engkau sudi menolongku. Jika ayah bertanya tentang aku dan Suta, jawab saja emban tidak tahu apa-apa. Jasamu tidak akan kulupakan, Emban," ucap putri berterima kasih sambil memeluk emban kepercayaannya.

          "Hamba akan melakukan apa saja demi kebahagiaan Putri," ucap emban dengan penuh haru.

          Kemudian, sesegera mungkin sang putri membawa Suta pergi jauh dari kadipaten dengan menunggang kuda. Dengan menyamar sebagai orang desa, mereka pun lolos dari pengejaran. Berkat kesabaran dan perawatan sang putri, Suta pun sembuh dari sakitnya.

          Berhari-hari sudah Suta dan sang putri pergi mengembara. Mereka tiba di sebuah daerah yang subur di kaki Gunung Slamet. Mereka memutuskan untuk menetap di sana. Dua insan yang saling mencintai itu kemudian menikah.

          Daerah yang menjadi tempat tinggal mereka diberi nama Batu Raden. Nama ini diambil dari kata Batur dan Raden. Batur berarti pembantu yang menunjukkan kedudukan Suta sebagai pembantu Adipati, sedangkan Raden menunjukkan kedudukan sang Putri sebagai putri Adipati. Daerah Batu Raden sekarang menjadi daerah wisata yang berada di daerah Purwokerto, Jawa Tengah.

PESAN MORAL :
Cinta adalah anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Dengan cinta, hidup akan damai. Sebab, cinta tidak memandang status maupun jabatan. Dalam cinta, hanya ada ketulusan dan kerelaan untuk berkorban.

Nah, bagaimana?! sudah tahu bukan asal usul Batu Raden. Pasti ingin dong mengunjunginya?! Kalau begitu ini ada lima lokasi yang patut kalian kunjungi selama di Batu Raden, kalian bisa link di sini ya, http://anekatempatwisata.com/5-lokasi-wisata-menarik-di-baturaden-yang-wajib-dikunjungi/#

Dan pastinya kalian juga akan mencari aksesnya, akomodasi atau hotel untuk menginapnya, cukup klik saja yang ada disini, ya. Sudah disediakan ..... Bye sampai jumpa, sayonara and see you next time .....