Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Wednesday, March 15, 2017

Kisah tiga taduloko asal Bulili

Hallo ....., apa kabarnya ? Semoga kalian sehat dan baik-baik saja. Bagaimana, dengan pelajaran kalian yang masih sekolah? dan pekerjaan kalian yang sudah bekerja. Semoga sukses, ya semuanya. Saat ini Bunda mau bercerita tentang tiga orang pendekar yang berasal dari Sulawesi Tengah. Mari kita simak dengan seksama .....

          Pendekar di Sulawesi Tengah disebut dengan taduloko yang berarti panglima perang. Kisah dari Sulawesi Tengah ini menceritakan tentang tiga orang taduloko yang hidup di Desa Bulili, Sulawesi Tengah. Mereka sangat kuat dan tiada bandignya. Tiga orang taduloko ini bernama Bantili, Molove, dan Makeku. Tidak ada taduloko lainnya yang mampu menandingi kesaktian taduloko dari Bulili ini. Berkat para taduloko sakti ini, Desa Bulili menjadi aman. Semua gentar jika mendengar nama ketiga taduloko ini.

          Suatu hari, Desa Bulili kedatangan seorang raja dari Sigi. Ketika sedang berjalan-jalan, sang raja melihat seorang gadis cantik asal Bulili. Raja Sigi pun kemudian meminang gadis cantik itu. Mereka menikah dan tinggal di Bulili.

          Berbulan-bulan sudah Raja Sigi tinggal di Bulili. Istrinya pun mulai mengandung. Namun, ketika sang istri ingin dimanja dan disayang oleh suaminya, Raja Sigi malah mengutarakan keinginannya untuk kembali ke Sigi.

          "Adinda, aku harus kembali ke Sigi. Sudah cukup lama aku meninggalkan Sigi. Banyak urusan yang belum terselesaikan di sana", ucap Raja Sigi.

          "Haruskah Kakanda pergi? Tidakkah Kakanda akan kehilanganku dan anak kita?" bujuk istrinya. "Rakyat Sigi membutuhkanku, Dinda. Aku harap Dinda mau mengerti", kata Raja Sigi.

          "Aku dan anak kita yang masih dalam kandungan juga membutuhkanmu, Kanda. Apakah Kanda tidak ingin melihat anak kita lahir ke dunia?" tanya sang istri.

          "Bukan begitu, Dinda. Kanda yakin Dinda adalah wanita yang kuat. Jadi, tunggulah Kanda di sini", ucap Raja Sigi.

          Keesokan harinya, Raja Sigi kembali ke negerinya. Istrinya tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mampu menahan suaminya untuk pergi. Tinggallah ia di Bulili tanpa suami. Namun, ia tidak seorang diri, beberapa kerabatnya pun tinggal tidakjauh dari rumahnya. Tetangga dan sahabat-sahabatnya dengan senang hati menemaninya siang dan malam.

          Bulan demi bulan ia lewati. Tanpa terasa, tibalah saat untuk melahirkan buah hatinya. Tanpa ditemani sang suami, ia melahirkan anak yang lucu dan sehat. Semua warga Bulili sangat bahagia menyambut mahluk kecil itu sebagai warga baru mereka. Para pemuka desa pun segera memerintahkan dua taduloko yang gagah untuk pergi ke Sigi menemui Raja Sigi. Akhirnya, berangkatlah Makeku dan Bantili ke sigi mengemban tugas.

          Sesampainya di sana, ia langsung menemui sang raja. Namun, bukanlah keramahan yang mereka dapatkan tapi ucapan sinis yang keluar dari Raja Sigi. "Apa maksud kedatangan kalian ke istanaku?" tanya Raja Sigi dengan sinis.

          "Maaf, Baginda. Kami diutus untuk meminta padi di lumbung Sigi. Padi itu untuk anak Baginda yang baru saja lahir", jawab Bantili.

          Mendengar berita itu, Raja Sigi bukanlah merasa senang, tetapi justru melecehkan kedua taduloko yang sakti itu. "Baiklah. Jika kalian menginginkan lumbung padi milikku, coba kalian angkat dan bawalah lumbung itu. Cukup kalian tahu, dengan puluhan tenaga orang saja baru bisa menggeser lumbung itu", ucap Raja Sigi dengan angkuh.

          Merasa diremehkan, Makeku dan Bantili segera pergi menuju lumbung padi Raja Sigi. Dengan kesaktiannya, Bantili mampu mengangkat lumbung padi yang besar itu, sedangkan Makeku mengawal Bantili dari belakang.

          Betapa terkejut dan marahnya Raja Sigi melihat lumbung padinya berhasil dibawa. Akhirnya, ia mengerahkan para pengawal kerajaan untuk menangkap dua taduloko itu.

          "Para pengawal, cepat tangkap orang-orang Bulili itu!" teriak Raja Sigi.

          Dengan sigap, para pengawal mengejar Makeku dan Bantili. Meski pun tenaga sudah dikerahkan, mereka tetap tidak mampu mengejar kedua taduloko dari Bulili itu. Sampai akhirnya, tibalah Makeku dan Bantili disebuah sungai yang sangat besar dan dalam. Para pengawal tampak senang, mereka mengira kedua taduloko pasti akan menyerah. Namun dugaan mereka meleset, kedua taduloko dari Bulili itu dengan mudah menyeberangi sungai yang besar dan dalam itu. Meski pun Bantili membawa lumbung padi yang sangat besar, bukanlah hal yang sulit untuknya menyeberangi sungai. Para pengawal kerajaan yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terperangah. Mereka tidak mampu menyeberangi sungai yang besar dan dalam itu. Akhirnya, loloslah Makeku dan Bantili dari kejaran para pengawal Raja Sigi. Makeku dan Bantili pun tiba di Desa Bulili dengan selamat.

Pesan Moral :
Tepatilah janji yang telah diucapkan. Selain itu, janganlah menjadi pemimpin yang angkuh dan sombong.

No comments:

Post a Comment