Apa kabar semuanya? Semoga baik dan sehat selalu ya. Sudah lama Bunda tidak menyapa, biasa Bunda sembunyi dulu. Tapi begitu muncul .... banyak berita yang sudah bertimbun, dan membuat miris, sedih hati Bunda. Sebab belum lama ini terjadi tawuran pelajar, dan membuat salah satu siswa meninggal dunia. Bagaimana perasaan orang tuanya, yang meninggal dan yang melakukan perbuatan tersebut ? ..... Bunda hanya berpesan jauhilah perbuatan seperti itu, sebab tidak ada gunanya !!! Nah, saat ini Bunda akan bercerita kembali tentang legenda Sawerigading, legenda tersebut berasal dari Sulawesi Barat.
Dikisahkan, dahulu kala bumi adalah sebuah tempat yang sangat luas dan belum dihuni oleh siapa pun. Raja Langit yang bernama La Patiganna bermusyawarah dengan keluarga kerajaan serta beberapa kerajaan langit yang juga dihadiri oleh Senrijawa dan Peretiwi yang berasal dari alam gaib.
"Saudara-saudaraku, bumi adalah tempat yang sangat luas dan indah. Tapi, kulihat tidak ada seorang pun manusia yang hidup di bumi. Sangat disayangkan jika keindahan bumi tidak dikelola dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Bagaimana jika kita mengirim seseorang untuk mengatur segala sesuatunya di bumi dan menjadi raja? ujar Raja Langit.
"Aku akan mengirim putra tertuaku, La Toge Langi," ucap Raja Langit.
Semua yang hadir ketika itu menyepakati bahwa La Toge Langi lah yang akan ke bumi. Namun, bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang Raja Bumi. Ia harus melalui masa ujian selama 40 hari, 40 malam.
Hari berganti hari, La Toge Langi melalui masa ujian tersebut dengan sabar. Kesabarannya pun membuahkan hasil. Ia dinyatakan layak untuk dikirim ke bumi. Setelah itu, berangkatlah ia ke bumi sebagai seorang Raja Alekawa (Bumi) dan menggunakan gelar Batara Guru. Wilayah tempat pertama kali La Toge Langi berpijak adalah Ussu. Wilayah ini sekarang terletak di daerah Luwu Timur yang terletak di Teluk Bone.
Setelah beberapa lama menjadi seorang raja di Bumi, La Toge Langi menikah dengan anak Raja Alam Gaib yang bernama Guru Ri Selleng, yang terhitung masih sepupunya. Wanita itu bernama We Nyili'timo.
Waktu berlalu, La Toge Langi dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu bernama La Tiuleng. Ketika La Tiuleng beranjak dewasa, kedudukan sebagai Raja Bumi digantikan olehnya. Ia pun diberi gelar Batara Lattu. Setelah itu, ia dikaruniai dua anak kembar, yaitu seorang anak laki-laki bernama Lawe atau La Madukelleng, sering juga disebut dengan Sawerigading (Putra Ware) dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng.
Sawerigading dan We Tenriyabeng tidak dibesarkan bersama-sama. Mereka hidup terpisah satu sama lain tidak saling mengenal. Tahun berganti tahun, Sawerigadig dan We Tenriyabeng tumbuh dewasa. Suatu hari, ketika Sawerigading sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ia melihat gadis yang sangat cantik berlalu dihadapannya. Pada pandangan pertama, Sawerigading jatuh hati.
"Siapakah namamu gadis catik?" tanya Sawerigading.
" Namaku We Tenriyabeng," jawab We Tenriyabeng dengan tersipu.
Perkenalan mereka pun berlanjut. Sawerigading mengutarakan keinginannya untuk menikahi We Tenriyabeng. Ketika keduanya sepakat untuk meminta restu kedua orang tua, betapa terkejutnya mereka mengetahui bahwa mereka adalah saudara kembar yang terpisah. Hancurlah perasaan keduanya. Sawerigading dengan hatinya yang kecewa pergi meninggalkan Luwu dan bersumpah tidak ingin kembali. Sedangkan, We Tenriyabeng pergi entah ke mana.
Sawerigading yang ketika itu pergi mengembara akhirnya tiba di sebuah negeri. Negeri itu bernamaTiongkok. Di sana dikabarkan ia mengalahkan beberapa kesatria Kerajaan Tiongkok bahkan pemerintahan Jawa Wollo, yaitu Setia Bonga. Kisah cinta Sawerigading ternyata belum berakhir, ia bertemu seorang putri cantik asal Tiongkok bernama Cudai.
Setelah sekian lama, ternyata Sawarigading menjadi seorang kapten perkasa. Dalam perjalanannya, ia berlayar ke daerah Taranate (Ternate) di Maluku, Gima (daerah yang diduga bernama Bima dan Sumbawa), Jawa Rilau dan Jawa Ritengga (kemungkianan Jawa Timur dan tengah), Sunra Rilau dan Sunra Riaja (kemungkinan daerah itu bernama Sunda. Kemungkinan Sunda Timur, Sunda Barat dan Malaka).
Setelah menikah, Sawerigading dikaruniai seorang anak laki-laki,ia bernama I La Galigo dengan gelarnya Datunna Kelling. Dikisahkan bahwa I La Galigo ketika dewasa menjadi seorang kapten kapal seperti ayahandanya. Namun, ia tidak pernah menjadi seorang raja. I La Galigo dibarkarkan memiliki empat orang istri dari pelbagai negeri. Ia pun dikaruniai anak yang salah satunya bernama La Tenritatta. La Tenritatta adalah keturunan terakhir yang dinobatkan di Luwu.
lihat pula di sini ya .....https://id.wikipedia.org/wiki/Sawerigading
Dikisahkan, dahulu kala bumi adalah sebuah tempat yang sangat luas dan belum dihuni oleh siapa pun. Raja Langit yang bernama La Patiganna bermusyawarah dengan keluarga kerajaan serta beberapa kerajaan langit yang juga dihadiri oleh Senrijawa dan Peretiwi yang berasal dari alam gaib.
"Saudara-saudaraku, bumi adalah tempat yang sangat luas dan indah. Tapi, kulihat tidak ada seorang pun manusia yang hidup di bumi. Sangat disayangkan jika keindahan bumi tidak dikelola dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Bagaimana jika kita mengirim seseorang untuk mengatur segala sesuatunya di bumi dan menjadi raja? ujar Raja Langit.
"Aku akan mengirim putra tertuaku, La Toge Langi," ucap Raja Langit.
Semua yang hadir ketika itu menyepakati bahwa La Toge Langi lah yang akan ke bumi. Namun, bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang Raja Bumi. Ia harus melalui masa ujian selama 40 hari, 40 malam.
Hari berganti hari, La Toge Langi melalui masa ujian tersebut dengan sabar. Kesabarannya pun membuahkan hasil. Ia dinyatakan layak untuk dikirim ke bumi. Setelah itu, berangkatlah ia ke bumi sebagai seorang Raja Alekawa (Bumi) dan menggunakan gelar Batara Guru. Wilayah tempat pertama kali La Toge Langi berpijak adalah Ussu. Wilayah ini sekarang terletak di daerah Luwu Timur yang terletak di Teluk Bone.
Setelah beberapa lama menjadi seorang raja di Bumi, La Toge Langi menikah dengan anak Raja Alam Gaib yang bernama Guru Ri Selleng, yang terhitung masih sepupunya. Wanita itu bernama We Nyili'timo.
Waktu berlalu, La Toge Langi dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu bernama La Tiuleng. Ketika La Tiuleng beranjak dewasa, kedudukan sebagai Raja Bumi digantikan olehnya. Ia pun diberi gelar Batara Lattu. Setelah itu, ia dikaruniai dua anak kembar, yaitu seorang anak laki-laki bernama Lawe atau La Madukelleng, sering juga disebut dengan Sawerigading (Putra Ware) dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng.
Sawerigading dan We Tenriyabeng tidak dibesarkan bersama-sama. Mereka hidup terpisah satu sama lain tidak saling mengenal. Tahun berganti tahun, Sawerigadig dan We Tenriyabeng tumbuh dewasa. Suatu hari, ketika Sawerigading sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ia melihat gadis yang sangat cantik berlalu dihadapannya. Pada pandangan pertama, Sawerigading jatuh hati.
"Siapakah namamu gadis catik?" tanya Sawerigading.
" Namaku We Tenriyabeng," jawab We Tenriyabeng dengan tersipu.
Perkenalan mereka pun berlanjut. Sawerigading mengutarakan keinginannya untuk menikahi We Tenriyabeng. Ketika keduanya sepakat untuk meminta restu kedua orang tua, betapa terkejutnya mereka mengetahui bahwa mereka adalah saudara kembar yang terpisah. Hancurlah perasaan keduanya. Sawerigading dengan hatinya yang kecewa pergi meninggalkan Luwu dan bersumpah tidak ingin kembali. Sedangkan, We Tenriyabeng pergi entah ke mana.
Sawerigading yang ketika itu pergi mengembara akhirnya tiba di sebuah negeri. Negeri itu bernamaTiongkok. Di sana dikabarkan ia mengalahkan beberapa kesatria Kerajaan Tiongkok bahkan pemerintahan Jawa Wollo, yaitu Setia Bonga. Kisah cinta Sawerigading ternyata belum berakhir, ia bertemu seorang putri cantik asal Tiongkok bernama Cudai.
Setelah sekian lama, ternyata Sawarigading menjadi seorang kapten perkasa. Dalam perjalanannya, ia berlayar ke daerah Taranate (Ternate) di Maluku, Gima (daerah yang diduga bernama Bima dan Sumbawa), Jawa Rilau dan Jawa Ritengga (kemungkianan Jawa Timur dan tengah), Sunra Rilau dan Sunra Riaja (kemungkinan daerah itu bernama Sunda. Kemungkinan Sunda Timur, Sunda Barat dan Malaka).
Setelah menikah, Sawerigading dikaruniai seorang anak laki-laki,ia bernama I La Galigo dengan gelarnya Datunna Kelling. Dikisahkan bahwa I La Galigo ketika dewasa menjadi seorang kapten kapal seperti ayahandanya. Namun, ia tidak pernah menjadi seorang raja. I La Galigo dibarkarkan memiliki empat orang istri dari pelbagai negeri. Ia pun dikaruniai anak yang salah satunya bernama La Tenritatta. La Tenritatta adalah keturunan terakhir yang dinobatkan di Luwu.
Pesan Moral :
Kenalilah saudara sendiri dan jalinlah hubungan persaudaraan dengan baik. Sebab, jika kita tidak mengenalnya, suatu hari akan membawa petaka yang buruk yang akan menimpa kita sendiri.lihat pula di sini ya .....https://id.wikipedia.org/wiki/Sawerigading

No comments:
Post a Comment