Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Saturday, November 24, 2018

Sultan Domas yang baik hati

Hai .... semuanya selamat jumpa lagi dengan Bunda. Lama Bunda tidak menyapa di blog Tell_Story, tapi kini Bunda akan kembali bercerita ..... Cerita ini berasal dari Lampung, wilayah selatan dari pulau Sumatra. Tapi bukan Palembang ya, sebab Lampung mempunyai ibu kota Bandar Lampung

          Di sebuah kota tua bernama Sukadana, Lampung, terdapat sebuah kisah tentang seorang pemuda yatim piatu yang hidupnya sangat miskin. Pemuda itu bernama Domas. Ia tinggal di desa yang penduduknya masih sangat jarang. Kebanyakan dari mereka hidup dalam kesederhanaan dengan mata pencaharian berladang dan berkebun.

          Setelah ditinggal kedua orangtuanya, tidak ada sanak saudara yang dapat ia jadikan sandaran hidup. Hidup yang miskin membuat Domas sering dicci maki oleh penduduk desa. Karenanya, Domas jarang sekali keluar dari gubuk reyot peninggalan orang tuanya dan jarang pula bergaul dengan penduduk sekitar. Meskipun begitu, tidak ada sedikitpun dendam di hati Domas atas caci maki itu.

          Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Domas cukup mencari ikan di sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.

          Suatu hari, Domas pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Namun, setelah selesi mencari kayu bakar dan kembali pulang, Domas kaget mendapati gubuk tuanya telah dibakar orang. Ia sangat sedih, hatinya hancur lebur. Kini, sudah tidak ada lagi yang tersisa. Domas yang yatim piatu tidak tahu harus ke mana lagi mencari tempat berlindung. Akhirnya, untuk sementara waktu, Domas tidur di bawah sebuah pohon di depan sisa-sisa bakaran gubuknya.

          Malam pun tiba, Domas yang kelelahan akhirnya tertidur pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu seorang kakek berjanggut putih. Kakek itu berbicara padanya, "Hai Domas pergilah kau ke arah selatan. Carilah sebuah sungai besar yang banyak dikelilingi pohon besar. Jika kau sudah menemukannya, menetaplah disana. Untuk memenuhi kebutuhan hidupmu sehari-hari, bukalah ladang, lalu tanami dengan sayur-sayuran dan buah-buahan".

          Tidak berapa lama, Domas terbangun dari tidurnya. Ia masih bingung tentang pesan kakek yang ditemuinya dalam mimpi. "Hruskah aku mengikuti pesan sang kakek dalam tidurku tadi?" pikirnya. Tapi, hendak kemana lagi ia pergi. Ia sudah tidak memiliki tempat tinggal atau sanak saudara. Penduduk di desa juga tidak ada yang peduli dengannya. "Apa salahnya jika aku mengikuti pesan si kakek," pikir Domas kembali.

         Akhirnya, dengan tekd yang bulat, pagi-pagi sekli Domas pergi meninggalkan desa. Domas melakukan perjalanan yang cukup jauh. Berbagai perkampungan ia lewati. Hingga tidak urung ia harus keluar masuk hutan dan menghadapi berbagai macam rintangan seperti serangan binatang buas dan gangguan dari mahluk halus. Namun, Domas adalah pemuda yang cerdik sehingga ia dapat melewati rintangan-rintangan itu dengan baik.

         Waktu cepat berlalu. Tidak terasa Domas telah melakukan perjalanan berbulan-bulan. Ia pun tiba di sebuah hutan lebat yang memiliki sungai besar dan berair jernih. Untuk sesaat, Domas tertegun di tempat itu. Ia teringat akan pesan kakek yang ditemuinya dalam mimpi.

          Oleh karena itu, Domas segera mengumpulkan dahan-dahan pohon serta daun-daun untuk membuat sebuah pondok yang mungil di tepi sungai. Sekarang, daerah tepi sungai ini bernama Way Sekampung.

          Setelah membangun pondok mungilnya, Domas menebang kayu untuk membuka ladang. Ia hidup dengan tenang dan tentram di sana. Jika ingin makan, ia tinggal pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Sayur-mayur pun mudah di dapat dari ladangnya.

          Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Tidak terasa Domas telah tinggal cukup lama di daerah itu. Kehidupan yang tenang dan tidak adanya pekerjaan lain selain bercocok tanam membuat Domas menjadi sering bersemedi.

         Suatu hari, dalam semedinya Domas mendapat bisikan gaib. Ia diberi kesaktian, sebilah pedang, dan tongkat kayu berbentuk ular. Betapa bahagianya hati Domas mendapat kesaktian itu. Orang-orang kemudian biasa memanggilnya dengan nama Sultan Domas.

          Semakin lama, daerah yang dibuka oleh Domas banyak dikunjungi orang-orang dari berbagai tempat. Di antara mereka ada yang mencari kayu untuk membangun rumah, ada yang mencari rotan, dan ada yang mencari ikan di sungai. Kebanyakan dari mereka pernah bertemu dengan Sultan Domas. Meskipun usianya semakin lanjut, Sultan Domas tetap terlihat sehat dan kuat.

          Tidak jarang para pencari ikan sering diselamtkan oleh Sultan Domas dari buaya-buaya yang hendak memangsa mereka. Selain itu, para pencari rotan dan kayu juga sering diselamatkan oleh Sultan Domas dari serangan binatang-binatang buas. Oleh sebab itu, nama Sultan Domas semakin dikenal oleh masyarakat sebagai orang tua yang sangat bijaksana dan suka menolong. Ia pun semakin dihormati dan disegani karena suka menolong tanpa pamrih.

          Meskipun Sultan Domas telah banyak berbuat baik kepada setiap orang, namun masih banyak orang-orang yang iri dengannya. Bahkan, banyak yang berniat jahat kepadanya.

          Suatu hari ketika Sultan Domas mencari ikan di hulu sungai Way Sekampung, datanglah lima orang laki-laki tak dikenal masuk ke pondoknya. Mereka hendak mencuri barang-barang termasuk dua benda pusaka miliknya.

          Setelah semua barang dan benda pusaka milik Sultan Domas berhasil dicuri, kelima lelaki tersebut hendak pergi meninggalkan pondok dan berniat untuk membakarnya. Akan tetapi, api itu selalu mati setiap kali disulut. Niat untuk membakar pondok Sultan Domas pun dibatalkan. Namun, betapa terkejutnya kelima lelaki itu ketika akan meninggalkan pondok. Seekor ular besar dengan semburan yang berhawa panas menghadang mereka di pintu. Mereka lari ketakutan dan hendak keluar melalui jendela. Tetapi yang terjadi adalah seekor buaya besar yang siap menerkam sudah menunggu di balik jendela. Merek sangat takut dan tidak bisa kemana-mana lagi sehingga Sultan Domas pulang.
         
          Melihat kelima laki-laki tak dikenal berada di dalam pondoknya, Sultan Domas tidak terkejut. Dengan ramahnya, ia menjamu orang-orang jahat itu. Kelima lelaki itu tidak bisa berkata apa-apa. Mulut mereka terasa terkunci. Setelah Sultan Domas mengucapkan salam kepada mereka, barulah kelima lelaki itu dpat berbicara kembali. Sultan Domas kemudian mengajak mereka untuk bermalam.

          Keesokan harinya, kelima lelaki itu kembali ke kampung mereka dan menceritakan kejadian yang mereka alami kepada para tetangga. Cerita pun tersebar tentang adanya orang tua yang sangat sakti dan baik hati di dalam hutan Way Sekampung. Akhirnya, banyak orang yang mulai berdatangan ke Way Sekampung untuk membuka ldang.

         Semakin lama, Way Sekampung berubah menjadi sebuah perkampungan. Sultan Domas kemudian diangkat menjadi pemimpin. Ketika Sultan Domas meninggal, ia pun dimakamkan di pinggir sungai Way Sekampung. Sampai sekarang, makam itu masih dapat kita lihat di desa Sidomukti, Provinsi Lampung dan dianggap keramat oleh masyarakat sekitar. Anehnya, jika sungai Way Sekampung meluap dan terjadi banjir besar, makam Sultan Domas tidak pernah tenggelam. Padahal, tempat-tempat disekitarnya digenangi air.


Pesan Moral :
Jadilah orang yang rendah hati dan suka menolong. Segala perbuatan akan ada ganjarannya. Jika melakukan perbuatan baik, balasannya pun akan baik pula. Begitu pula sebaliknya.

No comments:

Post a Comment