Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Sunday, October 18, 2015

Kembang Wijaya Kusuma

          Kamu tahu, bunga apa itu ? Warnanya putih, bunganya harum sekali bila mekar, dan akan mekar jika menjelang malam atau tengah malam. Boleh dikatakan bunga lambang kejayaan. Yach, ..... bunga Wijaya Kusuma. Bunga yang harum dan banyak disukai karena harumnya, tapi banyak juga yang takut berada didekatnya.
Bunda juga punya bunga Wijaya Kusuma ini. Kalau mau mekar Bunda suka berada didekatnya. Dan bunga ini juga punya kisah legendanya. Pasti mau dengar kisahnya.

          Pada masa kerajaan Kediri dipimpin oleh Prabu Aji Pamoso, hidup seorang resi (petapa atau seorang suci) yang sakti mandraguna. Resi itu dikenal dengan nama Resi Kano. Prabu Aji Pamoso yang mendengar kesaktian Resi Kano, tampak gundah gulana. Ia tidak ingin seorang pun dapat mengalahkan kesaktiannya. Jika sampai rakyatnya tahu bahwa ia terkalahkan oleh Resi Kano, wibawanya di mata rakyat akan turun. Oleh karena itu, Prabu Aji Pamoso mencari cara untuk mengusir Resi Kano dari Kediri dan kemudian membunuhnya.

         Resi Kano yang sakti, mengetahui rencana jahat sang Prabu. Sebelum tertangkap oleh para pengawal kerajaan, Resi Kano pergi meninggalkan wilayah Kediri. Tindakan Resi Kano yang melarikan diri membuat Prabu Aji Pamoso semakin murka. Dengan ditemani para pengawalnya, Prabu Aji Pamoso segera memburu Resi Kano.

         Resi Kano menyelamatkan diri hingga ke pantai Pulau Jawa, dekat daerah Cilacap. Di sana, ia mencari tempat yang sunyi dan tentram untuk bertapa. Ia meminta kepada Dewata Agung untuk menyelamatkannya dari pengejaran Prabu Aji Pamoso dan pengawalnya.

          Namun, karena kegigihan Prabu Aji Pamoso, akhirnya tempat persembunyian Resi Kano dapat ditemukan. Sewaktu Resi Kano sedang melakukan semedi, sang Prabu membunuhnya. Anehnya, ketika Resi Kano terbunuh, tidak hanya jiwanya yang melayang tapi raganya pun menghilang. Melihat hal itu, Prabu Aji Pamoso sangat terkejut. Ditambah lagi dengan munculnya suara-suara gemuruh dan angin ribut yang menakutkan.

          Untuk mengatasi ketakutannya, sang Prabu mengucapkan mantra-mantra saktinya. Suara gemuruh pun mereda. Tiba-tiba saja hal yang tidak diduga terjadi. Muncul seekor naga raksasa yang mendesis. Mulutnya yang besar menganga lebar seolah-olah hendak memakan bulat-bulat sang prabu.
                Seiring dengan munculnya sang naga raksasa, ombak di pantai Cilacap semakin meninggi dan menakutkan. Prabu Aji Pamoso yang merasa keselamatannya terancam segera mengeluarkan panah saktinya.

          Panah itu dilepaskan dan tepat mengenai naga raksasa. Naga itu pun menggeliat-geliat dan akhirnya mati bersimbah darah.

          Keanehan terjadi lagi, tiba-tiba saja dari arah timur muncul sesosok wanita cantik memanggil-manggil nama Prabu Aji Pamoso. Melihat hal itu, sang prabu terperangah.

          "Si..... si ... siapa kamu sebenarnya? Apa maumu?" tanya Prabu Aji Pamoso terbata-bata.

         "Jangan takut, Baginda.Nama hamba Dewi Wasowati. Hamba justru ingin berterima kasih, karena berkat jasa Baginda hamba kembali menjadi manusia,"ucap putri cantik itu sambil tersenyum. Prabu Aji Pamoso yang masih terkejut dengan kejadian itu tidak bisa berkata apa-apa. Sang Prabu masih terdiam seribu bahasa sambilmenatap Dewi Wasowati.

         "Sebagai balas jasaku, kupersembahkan kembang wijaya kusuma ini kepada Baginda. Bunga ini tidak akan didapatkan di alam biasa. Bagi siapa saja yang memiliki kembang wijaya kusuma ini maka ia akan dapat menurunkan raja-raja yang berkuasa di Pulau Jawa," ucap Dewi Wasowati.

         Mendengar ucapan Dewi Wasowati, Prabu Aji Pamoso sangat bahagia. Sang Prabu pun menghampiri Dewi Wasowati yang berada di sebuah pulau kecil diseberang laut. Dengan kesaktiannya, sang prabu mengayuh perahunya dengan semangat. Akhirnya, tiba juga ia di hadapan Dewi Wasowati.

         "Baginda, kuberikan kembang wijaya kusuma ini kepada Baginda. Dan pulau karang ini akan kuberi nama Nusa Kambangan sebagai tanda bahwa aku menyerahkan kembang ini kepada Baginda."

         Setelah menyerahkan kembang wijaya kusuma, Dewi Wasowati lenyap dari hadapan Prabu Aji Pamoso. Sang prabu kemudian kembali ke pantai Cilacap dengan perahu kecilnya. Namun sangat disayangkan, karena kurang hati-hati, kembang wijaya kusuma yang digenggamnya hilang di tengah samudra. Prabu Aji Pamoso baru menyadari setibanya ia di pantai. Sang Prabu sangat menyesal karena kembang wijaya kusuma tidak berhasil ia bawa ke Kediri.

PESAN MORAL :

Janganlah kita merasa iri atas keberhasilan atau kesuksesan orang lain. Belajarlah untuk menerima kekalahan dengan besar hati. Selain itu, kita harus dapat menghargai setiap pemberian dari orang lain. Jagalah dengan hati-hati. 



No comments:

Post a Comment