Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Friday, October 16, 2015

Batu Menangis ...

Hallo .... semua, bertemu lagi sama Bunda. Nah .... sekarang Bunda mau cerita tentang Batu menangis. Pasti heran ya, kok ada batu bisa menangis? Secara logika, mungkin ada sumber air yang berada di bawah batu. Tapi ini ada legenda nya. Kebetulan legenda ini berasal dari Kalimantan Barat walau ada versi dari Sumatra. Hanya saat ini Bunda mau cerita dari  Pulau Kalimantan, tepatnya Kalimantan Barat. OK .... sekarang Bunda ceritakan ya, dan ambil hikmahnya, ya ....!!!!

          Di sebuah desa kecil di Kalimantan Barat, hiduplah seorang gadis cantik bersama dengan ibunya yang lembut dan bijaksana. Kecantikan si gadis tidak ada bandingnya. Matanya indah dan bersinar. Rambutnya hitam, panjang, dan berkilau bagaikan mutiara hitam. Kulitnya putih dan lembut bagaikan sutra. Parasnya cantik menawan. Semua orang mengakui dan mengagumi kecantikan si gadis.

          Gadis itu tidak bosan-bosannya memandangi cermin. Dalam hati, gadis itu berkata, "Betapa cantiknya diriku. Semua orang yang melihatku pasti mengagumi kecantikanku. Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kecantikanku."

          Mengetahui keangkuhan anaknya, si ibu berulang kali berusaha menasehatinya. "Anakku, wajahmu yang rupawan janganlah menjadikanmu angkuh dan congkak. Jadikan karunia Tuhan itu sebagai sesuatu yang harus disyukuri dengan kerendahan hati."

          Tapi, nasehat ibunya dianggap seperti angin lalu. Ia masih tetap angkuh dan sombong. Setiap hari, kerja gadis itu hanya bersolek dan bercermin. Ia tidak pernah membantu ibunya yang dibiarkan bekerja seorang diri. Meskipun begitu, si ibu tidak pernah mengeluh. Ia hanya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, lindungilah anak hamba dan sadarkanlah anak hamba."

          Pada suatu pagi, seperti kebiasaan gadis itu sehari-hari, ia tidak pernah lupa untuk bersolek. Ia bisa bercermin selama berjam-jam dan mengurung diri di kamar. Si gadis tidak mau kulitnya yang putih dan halus terkena debu ataupun sinar matahari yang dapat merusak kecantikan kulitnya.

        Sementara itu, ibunya dijadikan layaknya pembantu. Ketika si gadis merawat kulitnya yang halus, tidak biasanya si ibu lupa menyiapkan lulur dan air hangat untuk mandi anaknya. "Ibu ....., kemana air hangat dan lulur untukku? Kamarku juga belum dirapikan," teriak si gadis dari dalam kamarnya.

         Dengan tergopoh-gopoh, si ibu lari menuju kamar anak gadisnya, "Maaf, ibu tidak sempat menyiapkannya untukmu. Hari ini pekerjaan ibu banyak sekali. Ibu harus mencuci, memasak, dan membersihkan rumah," jawab si ibu dengan lembut.

         "Bagaimana sih ibu ini. Aku khan harus membersihkan kulitku agar sehat dan cantik. Tidak seperti kulit ibu yang kusam dan tidak terawat, " ucap gadis itu.

         "Cobalah sekali-sekali kamu siapkan sendiri kebutuhanmu. Jangan hanya mengandalkan ibu saja. Kamu khan sudah dewasa," nasehat si ibu.
          "Aku khan sibuk," jawab gadis itu dengan ketus.

          Si ibu mencoba bersabar. Ia sudah mengetahui tabiat anaknya. Setiap hari yang dilakukan gadis itu hanya mempercantik diri tanpa mempedulikan ibunya. Bahkan pekerjaan yang setidaknya dapat dilakukan gadis itu sendiri masih saja si ibu yang mengerjakannya. Si ibu berulang kali mencoba menasehati anaknya untuk mengubah tabiat buruknya.

         "Anakku, jika kamu terus begini, bagaimana kamu bisa mandiri? Dan jika suatu hari nanti ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi, bagaimana kamu bisa mengurusi dirimu sendiri? Cobalah kamu melakukan pekerjaan yang setidaknya dapat kamu lakukan sendiri. Jadi, ibu tidak khawatir lagi jika suatu hari nanti harus meninggalkanmu sendiri," kata si ibu.

         "Aku tidak pernah meminta ibu untk melahirkan aku ke dunia. Aku juga tidak pernah meminta ibu untuk menjadi ibuku," jawab si gadis dengan ketus.

          Betapa sedih dan teririsnya hati si ibu. Dalam hatinya ia berdoa," Ya Tuhan, ampunilah dosa anakku dan sadarkanlah anakku."

          Hari berganti hari, kebiasaan gadis yang enggan keluar rumah karena takut kulitnya hitam kini sudah mulai berubah. Ia sudah mau keluar rumah dan mengenal lingkungannya. Setiap ia berjalan, orang selalu menatapnya penuh kekaguman. Kecantikan wajah si gadis, membuat orang lain terpana dan berdecak kagum.

          Suatu hari, tidak biasanya si gadis mau keluar rumah dengan ibunya. Betapa bahagianya hati si ibu melihat anaknya sudah mau menemaninya berbelanja atau hanya sekedar menemani ibunya pergi ke kota.

          Namun, kebahagiaan si ibu tidak berlangsung lama ketika anaknya mengatakan, "Ibu, aku mau sering keluar bersama ibu asalkan tidak mengaku bahwa ibu adalah ibuku. Dan jika aku berjalan, ibu jangan menghalangi pandanganku. Ibu harus berjalan dibelakang aku."

              Kali ini ucapan sang anak bagaikan sambaran petir untuk ibunya. Hatinya terluka sangat dalam. Si ibu hanya bisa pasrah dengan keinginan anaknya. Ia tidak mampu lagi untuk menasehati anaknya yang angkuh.

          "Ya Tuhan, terlalu burukkah aku menjadi ibu untuk anakku? Mengapa anakku sampai malu untuk mengakui bahwa aku adalah ibunya?" tanya si ibu dalam hati.

          Benar saja, ketika gadis itu keluar bersama ibunya, banyak yang bertanya kepada si gadis, siapa perempuan setengah baya yang berjalan di belakangnya. Penampilan mereka jauh berbeda. Si ibu berpakaian sederhana dan bersahaja, sedangkan gadis itu berpakaian indah dan mewah. Penampilan keduanya bertolak belakang. Si ibu hanya berusaha tersenyum ketika orang-orang bertanya. Ia dilarang oleh gadis itu untuk mengakui bahwa ia ibu kandungnya.


          "Hai gadis cantik, apakah beliau ini ibumu?" tanya salah seorang pejalan kaki. "Oh, tentu saja dia bukan ibuku," sangkal si gadis.
           "Benarkah? Pantas saja, kalian tampak berbeda. Tapi, jika dilihat-lihat, wajah kalian sebenarnya mirip," ucap pejalan kaki itu. "Ah, bagaimana mungkin aku mirip dengannya? Dia ini hanya seorang pembantu. Ibuku tentu sangat mirip denganku, cantik dan berkelas," ucap si gadis dengan angkuh.

          Untuk kesekian kalinya, hati si ibu terluka sangat dalam. Hatinya menangis mendengar ucapan anaknya. Tidak pernah ia mengira bahwa anaknya akan mengatakan dirinya seorang pembantu. Sakit hatinya sudah tidak terbendung lagi.

          Si ibu akhirnya berkata dalam hati, "Ya Tuhan, anakku sudah sangat keterlaluan. Hambamu ini tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan cara apa Engkau menghukum anak yang angkuh ini Tuhan!"

          Tuhan Maha Adil dan mendengar doa hambanya. Segala yang dikehendaki-Nya pastilah sesuatu yang baik untuk umatnya. Suatu hari, ketika gadis itu kembali menyakiti hati ibunya, tiba-tiba saja tubuh gadis itu tampak kaku dan tidak dapat bergerak.

         "Ibu ..... apa yang terjadi dengan tubuhku? Aku tidak dapat menggerakkan tubuhku. Apa yang terjadi?" jerit si gadis. "Karena keangkuhan dan kecongkakanmu, Tuhan mungkin menghukummu, Anakku," ucap si ibu.

         Benar saja, tubuh gadis itu semakin lama semakin kaku. Awalnya kakinya mengeras, lalu tubuhnya. Pada kesempatan yang terakhir, ia berteriak meminta maaf. Ia menyadari kesalahannya.
"Ibu, maafkan kesalahanku," jerit gadis itu sambil menangis menyesali perbuatannya.

 Penyesalan memang selalu datang terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan gadis itu sudah tidak berguna. Tubuh si gadis berubah menjadi batu. Sekarang, batu itu dikenal dengan sebutan "Batu Menangis"


PESAN MORAL :         

Surga ada di telapak kaki ibu. Itulah pepatah bijak yang menggambarkan betapa agungnya peran seorang ibu bagi kehidupan anak-anaknya di dunia dan akhirat kelak. Karenanya, berbuat baiklah pada ibu dan jangan menjadi anak durhaka.

Itulah cerita Bunda. Jadi janganlah menjadi anak yang durhaka pada orang tuamu, terutama ibumu. Sebab dia yang mengandung dan melahirkan dirimu.

No comments:

Post a Comment