Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Sunday, October 11, 2015

Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Hmmm, kamu pasti tahu gunung Tangkuban Perahu, bukan ? Ya .... sudah pasti. gunung Tangkuban perahu adalah gunung yang sangat indah dan menarik. Gunung tersebut berada di daerah Jawa Barat.
dan menurut kata orang tua dulu, terbentuknya gunung Tangkuban Perahu ada legendanya.
Begini ceritanya :

          Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang cantik bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi memiliki kegemaran menenun. Suatu hari ketika ia sedang menenun sambil menikmati pemandangan dari ruang atas istana, pintalan benang yang ia letakkan di pinggir jendela istana terjatuh dan menggelinding keluar.

          Dengan kesal, ia berucap sesumbar, "Aduh, benangku terjatuh, siapa pun yang mengambilkan benang itu untukku, jika ia perempuan akan ku jadikan saudara, sedangkan jika ia laki-laki akan ku jadikan suami.

          Tidak lama kemudian, datang seekor anjing bernama Tumang mengambil benang Dayang Sumbi yang terjatuh dan mengantarkan kepadanya. Ia pun teringat dengan ucapannya. Jika ia tidak menepatinya, para Dewa pasti akan marah dan menghukumnya. Oleh karena itu, ia pun menikah dengan Tumang yang ternyata seorang titisan Dewa. Tumang adalah Dewa yang dikutuk menjadi binatang dan dibuang ke bumi.

          Hari-hari telah berlalu, Dayang Sumbi akhirnya mengandung anak Tumang. Setelah beberapa bulan, Dayang Sumbi melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Sangkuriang.
Sangkuriang kecil sangat gemar berburu. Ketika berburu, Sangkuriang selalu ditemani oleh seekor anjing yang tidak lain adalah Tumang, ayahnya sendiri. Meski pun demikian, Sangkuriang tidak mengetahui bahwa Tumang adalah ayahnya.

          Suatu hari, Sangkuriang diminta ibunya untuk mencari hati seekor kijang. Ia kemudian pergi berburu bersama Tumang. Ketika melewati pohon rimbun dan semak-semak belukar didalam hutan, ia melihat seekor kijang yang sedang mencari makan.
"Tumang, sepertinya dibalik pohon itu ada seekor kijang. Cepat kau kejar kijang itu Tumang !" teriak Sangkuriang.

          Tapi, Tumang yang ketika itu tidak terlalu bersemangat untuk berburu hanya berdiri di samping Sangkuriang. Sangkuriang tampak kesal, ia kembali menyuruh Tumang untuk mengejar kijang itu. Tumang tetap diam di samping Sangkuriang.

          "Cepat kejar kijang itu Tumang ! Jika kamu tidak mau mengejarnya, aku akan membunuhmu,
juga mengambil hatimu dan akan kubawa ke ibu sebagai pengganti hati kijang" teriak Sangkuriang.

           Mendengar ancaman itu, Tumang tetap diam dan tidak beranjak sekalipun dari tempatnya. Tidak disangka-sangka, Sangkuriang yang kala itu sudah naik pitam, segera mencabut anak panahnya dan memanah Tumang. Tumang akhirnya mati di tangan anaknya. Benar saja,hati Tumang diambil oleh Sangkuriang sebagai pengganti kijang yang lepas dari buruannya.

          Sangkuriang pun pulang dengan membawa hati Tumang. Ia berpikir ibunya tidak akan mengetahui bahwa yang ia bawa bukanlah hati kijang. Sesampainya di istana, ibunya bertanya, "Sangkuriang, mana hati kijang yang ibu pesan?" Kemudian Sangkuriang memberikan hati yang ada di tangannya. Dayang Sumbi tampak bingung, hati yang ia dapat bukanlah hati kijang.

          "Anakku, ini bukan hati kijang. Kamu berbohong pada ibu ya? Lalu di mana Tumang? Mengapa ia tidak pulang bersamamu?" tanya Dayang Sumbi. Sangkuriang yang merasa bersalah, hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dayang Sumbi pun mengulang pertanyaannya. Akhirnya, Sangkuriang menceritakan kejadian di hutan.

         Bukan kepalang kaget dan marahnya Dayang Sumbi mendengar cerita itu. Tanpa sadar, gayung yang kala itu dipegangnya ia pukulkan ke kepala Sangkuriang sehingga menimbulkan bekas luka. Sangkuriang merasa sakit hati atas tindakan ibunya yang lebih memperhatikan seekor anjing dibandingkan dirinya. Ia pun pergi meninggalkan istana.

          Dayang Sumbi yang tidak menyangka Sangkuriang akan pergi meninggalkannya, menyesali perbuatannya. Ia pun pergi meninggalkan istana dan melakukan pertapaan. Karena ketekunannya dalam bertapa, para Dewa memberinya kecantikan yang abadi. Dayang Sumbi akan tampak selalu muda.

          Tahun telah berganti, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Kepergiannya mengembara membuat rindu kembali ke kampung halaman. Ketika tiba di kampung halaman, ia bertemu seorang gadis cantik. Gadis cantik itu pun tertarik dengan Sangkuriang yang gagah dan tampan. Selain itu, Sangkuriang merupakan pemuda yang baik dan sopan. Mereka saling mencintai. Sangkuriang akhirnya meminangnya.

          Tapi, perasaan mereka bukanlah hal yang benar. Karena sebenarnya, gadis cantik itu adalah Dayang Sumbi yang tidak lain adalah ibu kandung Sangkuriang. Dayang Sumbi yang ketika itu mengubah namanya tidak mengetahui bahwa pemuda yang dicintainya adalah Sangkuriang, anak kandungnya.

           Suatu hari, ketika pesta pinangan hendak digelar, Sangkuriang berniat untuk pergi berburu. Dayang Sumbi membantu calon suaminya mengenakan ikat kepala. Bukan kepalang kagetnya Dayang Sumbi ketika melihat bekas luka di kepala Sangkuriang. Ia teringat akan anak kandungnya yang dulu pergi meninggalkan istana. Setelah melihat bekas luka itu, Dayang Sumbi semakin yakin bahwa calon suaminya itu adalah anak kandungnya, Sangkuriang.

           Oleh karena itu, ia mencari akal untuk menggagalkan acara pernikahannya. Dayang Sumbi mengajukan dua persyaratan yang sangat sulit. Ia meminta Sangkuriang untuk membendung sungai Citarum dan membuat sampan yang besar untuk menyeberangi sungai itu. Kedua persyaratan itu harus sudah dipenuhi sebelum terbit fajar. Hal ini sangat sulit dilakukan oleh manusia biasa.

             Untuk memenuhi persyaratan itu, Sangkuriang bertapa dan meminta bantuan para Dewa. Dengan kesaktiannya, ia meminta para mahluk gaib untuk membantunya. Fajar masih belum menyingsing, tapi pekerjaan Sangkuriang sudah hampir selesai. Dayang Sumbi yang bermaksud menggagalkan pernikahannya pun kebingungan. Akhirnya, ia bertapa dan memohon pertolongan para Dewa agar fajar datang lebih cepat. Permohonan Dayang Sumbi pun dikabulkan.

            Sangkuriang yang sebelumnya yakin akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum fajar merasa gusar, "Mengapa fajar kali ini datang lebih cepat ? Aku tidak percaya," kata Sangkuriang.
          "Hei para mahluk gaib, cepatlah kalian bantu aku untuk menyelesaikan pekerjaan ini !" seru Sangkuriang.

          Tapi kenyataannya langit sudah menampakkan warna jingga. Pertanda fajar telah menyingsing. Ayam-ayam pun sudah mulai berkokok. Para mahluk gaib akhirnya kalang kabut. Mereka semua berlarian meninggalkan pekerjaan itu.

           "Maaf Tuan, kami tidak dapat meneruskan pekerjaan ini. Kami harus segera pergi karena fajar sudah menyingsing," kata para mahluk gaib.


Sangkuriang pun kesal. Gagalnya pekerjaan itu membuat ia tidak dapat meminang Dayang Sumbi. Akhirnya, bendungan yang sudah hampir selesai ini ia jebol. Banjir besar pun melanda seluruh desa, sedangkan perahu besar yang sudah jadi pun ia tendang sehingga terlempar jauh dan terbalik.

          Perahu besar yang terbalik itu lama kelamaan menjadi sebuah gunung. Gunung itu diberi nama Tangkuban Perahu yang berarti perahu terbalik. Hingga kini, gunung itu masih dapat dinikmati keindahannya di daerah Jawa Barat yang merupakan salah satu obyek wisata.

Pesan Moral :

Berbuatlah jujur ketika hendak melakukan sesuatu. Sebab, kejujuran akan mendatangkan kebaikan, sedangkan kebohongan akan menimbulkan kerugian atau musibah bagi diri sendiri mau pun orang lain.






Nah, itu tadi sebuah legenda rakyat sunda. Dan kamu tahu bukan, bahwa gunung Tangkuban Perahu tetap menjadi obyek wisata yang selalu didatangi para wisatawan lokal atau manca negara.

Tunggu legenda yang lain ya, .....

No comments:

Post a Comment