Hallo ..... semua, apa kabarnya? Maaf jika Bunda dalam beberapa lama tidak muncul dan tampak di hadapan kalian. Biasa Bunda banyak pekerjaan, membuat soal bagi murid-murid Bunda untuk menghadapi ujian semester ..... Kalian tahu gambar apa disamping kanan ini. Gambar yang begitu indah dan penuh mistis. Ya, .... itu adalah gunung Bromo. Dan pasti ada legendanya, mau tahu ....?! Ayo ....baca ya dan simak dengan baik.
Pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit, Raja-rajanya bergelar Prabu Brawijaya. Kisah ini menceritakan seorang Prabu Brawijaya yang memiliki seorang putri bernama Roro Anteng. Selain cantik, ia juga dikenal karena budi pekertinya yang luhur.
Ketika usia sang putri sudah menginjak dewasa, ia jatuh hati kepada seorang pemuda keturunan Brahmana. Pemuda itu dikenal dengan nama Joko Seger. Kedudukan mereka memang sangat jauh berbeda. Karenanya, Joko Seger pun dinasehati oleh ayahnya.
"Anakku, apa kau sudah memikirkan tentang kelanjutan kisah kasihmu dengan putri Roro Anteng? Ingatlah! Beliau adalah putri raja, sedangkan kita hanya rakyat kecil. Pasti baginda tidak akan meyetujuinya," ucap ayah Joko Seger.
Meski pun demikian, Joko Seger tidak patah semangat. Ia tetap melanjutkan hubungannya dengan Roro Anteng. Hingga suatu hari, orang tua Joko Seger memberanikan diri datang ke istana Majapahit untuk melamar sang putri. Ia siap menerima apa pun yang terjadi. Ternyata, pikirannya selama ini meleset. Prabu Brawijaya sama sekali tidak mempermasalahkan tentang kedudukan mereka yang jauh berbeda.
"Jika putriku bisa hidup bahagia dengan putramu, aku pasti menerimanya. Hal ini dapat membantuku untuk meringankan segala kegundahanku selama ini. Apakah kau sudah tahu mengenai kabar yang beredar di Majapahit tentang masuknya agama baru?" tanya prabu Brawijaya.
"Apakah maksud baginda adalah agama Islam?" tanya ayah Joko Seger menegaskan.
"Benar. Aku mendapat wangsit bahwa zaman akan berubah, dan aku tidak dapat membendungnya karena Islam datang dengan baik-baik. Tapi, aku ingin keturunanku nanti akan meneruskan kepercayaan leluhur kita. Kurasa Joko Seger dan Roro Anteng adalah orang yang tepat untuk meneruskan tradisi leluhur," ucap Prabu Brawijaya.
Setelah mendapat restu dari raja, Joko Seger dan Roro Anteng pun menikah. Atas pertimbangan sang prabu, mereka berdua harus menyingkir dari Majapahit. Rakyat yang masih mengikuti kepercayaan leluhur pergi bersama Joko Seger dan Roro Anteng ke timur. Hal ini dilakukan untuk menghindari para penyebar agama baru.
Joko Seger dan Roro Anteng beserta pengikutnya akhirnya tiba di daerah dekat gunung berapi. Karena dirasa aman dari para penyebar agama baru, mereka pun membuat pemukiman di daerah itu. Daerah itu kemudian diberi nama Tengger. Nama ini berasal dari kata Teng dan Ger, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
Gunung berapi yang berada di dekat pemukiman mereka diberi nama Gunung Bromo. Nama ini diambil dari nama Dewa Brahmana, kepercayaan agama Hindu. Gunung Bromo dianggap sebagai tempat keramat karena telah melindungi mereka dari para penyebar agama baru.
Di bawah kepemimpinan Joko Seger dan Roro Anteng, para penduduk hidup aman dan tentram. Mereka menjauhi pengaruh luar. Namun, sekian lama manikah, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Akhirnya, keduanya bersemedi di puncak gunung Bromo. Mereka meminta kepada Dewata agar dikaruniai keturunan. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara gemuruh dan percikan api yang berasal dari dalam kepundan Gunung Bromo.
"Istriku, dengarlah! Sepertinya Dewata mengabulkan permohonan kita. Terima kasih Dewata Yang Agung. Kelak anak bungsuku akan kupersembahkan untukmu sebagai ucapan rasa terima kasihku," ucap Joko Seger dengan senang hati.
Karena terlalu senang, ucapan janji yang dikatakannya tidak dipikirkan terlebih dahulu. Joko Seger yang terlalu gegabah tidak menyadari bahwa janjinya akan sulit dipenuhi.
"Suamiku, apa yang kau ucapkan! Kita tidak akan mungkin tega mengorbankan anak kandung kita untuk dijadikan persembahan.
"Maafkan aku. Karena terlalu senang, aku tidak berpikir jernih ketika mengucapkannya. Tapi aku juga tidak bisa menarik kata-kataku kepada Dewata. Dewata bisa marah kepada kita," katanya kembali.
Tahun berganti tahun, keinginan Joko Seger dan Roro Anteng terkabul. Mereka akhirnya dikaruniai sepuluh orang anak. Setelah anak yang kesepuluh, mereka tidak lagi dikaruniai anak. Oleh karena itu, anak ke sepuluh tersebut dianggap sebagai anak yang paling bungsu. Anak itu bernama Kesuma.
Setelah sekian lama, anak-anak mereka tumbuh dewasa. Joko Seger dan Roro Anteng belum juga melaksanakan janji yang pernah diucapkan. Hidup mereka menjadi tidak tenang.
Suatu hari, muncul peristiwa dahsyat yang mengejutkan seluruh penduduk Tengger. Gunung Bromo yang dikeramatkan meletus. Gunung tersebut mengeluarkan asap hitam dan lahar. Penduduk Tengger panik dan segera mengungsi. Hanya Joko Seger dan keluarganya yang tetap bertahan di daerah itu. Meskipun mereka menyadari bahaya yang dapat menimpa, mereka mencoba bertahan.
"Istriku, sepertinya Dewata benar-benar menagih janji kita," ucap JokoSeger lirih.
Kegundahan suami istri itu menimbulkan pertanyaan dari anak-anak mereka. "Ada apakah gerangan ayah dan ibu sangat cemas? Jika mereka takut akan gunung meletus, pastinya mereka telah mengungsi sejak kemarin," pikir anak-anak mereka.
Akhirnya, Joko Seger dan Roro Anteng menceritakan kejadian beberapa tahun silam kepada anak-anaknya. Mendengar cerita itu, anak-anaknya sangat sedih. Karena untuk melaksanakan janji kedua orang tuanya, mereka harus kehilangan adik bungsunya. Namun, jika kedua orang tuanya tidak melaksanakan janji tersebut, Dewata pasti akan marah dan dapat mencelakai seluruh penduduk Tengger. Bagaikan makan buah simalakama, tidak seorangpun dari anak-anak mereka yang berani bicara.
Tiba-tiba saja si bungsu (Kesuma) berkata, "Ayah, ibu dan kakak-kakakku tercinta , relakan aku pergi. Semoga Dewata menerima pengorbananku.
Tentu saja perkataannya membuat semua keluarga kaget dan sedih. Mereka tidak ingin kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Tapi, janji harus ditepati demi ketentraman rakyat Tengger. "Aku hanya berpesan kepada kalian agar mengingat kepergianku. Kirimlah hasil ladang dan ternak kalian ke kawah Bromo setiap terang bulan, tanggal 14 bulan Kasadha," ucap Kesuma.
Setelah berpamitan kepada keluarganya, pergilah Kesuma ke puncak Gunung Bromo. Tidak ada rasa takut yang tampak dari wajahnya. Dengan berani, ia menceburkan dirinya ke dalam kawah Bromo. Setelah pengorbanan tersebut, Gunung Bromo tampak tenang. Mereka menganggap bahwa Dewata sudah tidak marah lagi. Semenjak kejadian itu, tradisi mengirim hasil ladang dan ternak ke dalam kawah Bromo masih tetap berlangsung sampai sekarang. Tradisi yang dilaksanakan tiap tahun pada bulan Jawa Asyuro (Suro) ini kemudian dinamakan Kasadha.
Pesan Moral :
Janji adalah utang. Oleh karena itu, jangan pernah mengucapkan janji yang tidak bisa kita tepati.
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tengger
wisatabromo.com/suku-tengger-bromo
news.okezone.com/.../legenda-yadnya-kasada-dan-leluhur-suku-tengger
Pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit, Raja-rajanya bergelar Prabu Brawijaya. Kisah ini menceritakan seorang Prabu Brawijaya yang memiliki seorang putri bernama Roro Anteng. Selain cantik, ia juga dikenal karena budi pekertinya yang luhur.
Ketika usia sang putri sudah menginjak dewasa, ia jatuh hati kepada seorang pemuda keturunan Brahmana. Pemuda itu dikenal dengan nama Joko Seger. Kedudukan mereka memang sangat jauh berbeda. Karenanya, Joko Seger pun dinasehati oleh ayahnya.
"Anakku, apa kau sudah memikirkan tentang kelanjutan kisah kasihmu dengan putri Roro Anteng? Ingatlah! Beliau adalah putri raja, sedangkan kita hanya rakyat kecil. Pasti baginda tidak akan meyetujuinya," ucap ayah Joko Seger.
Meski pun demikian, Joko Seger tidak patah semangat. Ia tetap melanjutkan hubungannya dengan Roro Anteng. Hingga suatu hari, orang tua Joko Seger memberanikan diri datang ke istana Majapahit untuk melamar sang putri. Ia siap menerima apa pun yang terjadi. Ternyata, pikirannya selama ini meleset. Prabu Brawijaya sama sekali tidak mempermasalahkan tentang kedudukan mereka yang jauh berbeda.
"Jika putriku bisa hidup bahagia dengan putramu, aku pasti menerimanya. Hal ini dapat membantuku untuk meringankan segala kegundahanku selama ini. Apakah kau sudah tahu mengenai kabar yang beredar di Majapahit tentang masuknya agama baru?" tanya prabu Brawijaya.
"Apakah maksud baginda adalah agama Islam?" tanya ayah Joko Seger menegaskan.
"Benar. Aku mendapat wangsit bahwa zaman akan berubah, dan aku tidak dapat membendungnya karena Islam datang dengan baik-baik. Tapi, aku ingin keturunanku nanti akan meneruskan kepercayaan leluhur kita. Kurasa Joko Seger dan Roro Anteng adalah orang yang tepat untuk meneruskan tradisi leluhur," ucap Prabu Brawijaya.
Setelah mendapat restu dari raja, Joko Seger dan Roro Anteng pun menikah. Atas pertimbangan sang prabu, mereka berdua harus menyingkir dari Majapahit. Rakyat yang masih mengikuti kepercayaan leluhur pergi bersama Joko Seger dan Roro Anteng ke timur. Hal ini dilakukan untuk menghindari para penyebar agama baru.
Joko Seger dan Roro Anteng beserta pengikutnya akhirnya tiba di daerah dekat gunung berapi. Karena dirasa aman dari para penyebar agama baru, mereka pun membuat pemukiman di daerah itu. Daerah itu kemudian diberi nama Tengger. Nama ini berasal dari kata Teng dan Ger, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
Gunung berapi yang berada di dekat pemukiman mereka diberi nama Gunung Bromo. Nama ini diambil dari nama Dewa Brahmana, kepercayaan agama Hindu. Gunung Bromo dianggap sebagai tempat keramat karena telah melindungi mereka dari para penyebar agama baru.
Di bawah kepemimpinan Joko Seger dan Roro Anteng, para penduduk hidup aman dan tentram. Mereka menjauhi pengaruh luar. Namun, sekian lama manikah, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Akhirnya, keduanya bersemedi di puncak gunung Bromo. Mereka meminta kepada Dewata agar dikaruniai keturunan. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara gemuruh dan percikan api yang berasal dari dalam kepundan Gunung Bromo.
"Istriku, dengarlah! Sepertinya Dewata mengabulkan permohonan kita. Terima kasih Dewata Yang Agung. Kelak anak bungsuku akan kupersembahkan untukmu sebagai ucapan rasa terima kasihku," ucap Joko Seger dengan senang hati.
Karena terlalu senang, ucapan janji yang dikatakannya tidak dipikirkan terlebih dahulu. Joko Seger yang terlalu gegabah tidak menyadari bahwa janjinya akan sulit dipenuhi.
"Suamiku, apa yang kau ucapkan! Kita tidak akan mungkin tega mengorbankan anak kandung kita untuk dijadikan persembahan.
"Maafkan aku. Karena terlalu senang, aku tidak berpikir jernih ketika mengucapkannya. Tapi aku juga tidak bisa menarik kata-kataku kepada Dewata. Dewata bisa marah kepada kita," katanya kembali.
Tahun berganti tahun, keinginan Joko Seger dan Roro Anteng terkabul. Mereka akhirnya dikaruniai sepuluh orang anak. Setelah anak yang kesepuluh, mereka tidak lagi dikaruniai anak. Oleh karena itu, anak ke sepuluh tersebut dianggap sebagai anak yang paling bungsu. Anak itu bernama Kesuma.
Setelah sekian lama, anak-anak mereka tumbuh dewasa. Joko Seger dan Roro Anteng belum juga melaksanakan janji yang pernah diucapkan. Hidup mereka menjadi tidak tenang.
Suatu hari, muncul peristiwa dahsyat yang mengejutkan seluruh penduduk Tengger. Gunung Bromo yang dikeramatkan meletus. Gunung tersebut mengeluarkan asap hitam dan lahar. Penduduk Tengger panik dan segera mengungsi. Hanya Joko Seger dan keluarganya yang tetap bertahan di daerah itu. Meskipun mereka menyadari bahaya yang dapat menimpa, mereka mencoba bertahan.
"Istriku, sepertinya Dewata benar-benar menagih janji kita," ucap JokoSeger lirih.
Kegundahan suami istri itu menimbulkan pertanyaan dari anak-anak mereka. "Ada apakah gerangan ayah dan ibu sangat cemas? Jika mereka takut akan gunung meletus, pastinya mereka telah mengungsi sejak kemarin," pikir anak-anak mereka.
Akhirnya, Joko Seger dan Roro Anteng menceritakan kejadian beberapa tahun silam kepada anak-anaknya. Mendengar cerita itu, anak-anaknya sangat sedih. Karena untuk melaksanakan janji kedua orang tuanya, mereka harus kehilangan adik bungsunya. Namun, jika kedua orang tuanya tidak melaksanakan janji tersebut, Dewata pasti akan marah dan dapat mencelakai seluruh penduduk Tengger. Bagaikan makan buah simalakama, tidak seorangpun dari anak-anak mereka yang berani bicara.
Tiba-tiba saja si bungsu (Kesuma) berkata, "Ayah, ibu dan kakak-kakakku tercinta , relakan aku pergi. Semoga Dewata menerima pengorbananku.
Tentu saja perkataannya membuat semua keluarga kaget dan sedih. Mereka tidak ingin kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Tapi, janji harus ditepati demi ketentraman rakyat Tengger. "Aku hanya berpesan kepada kalian agar mengingat kepergianku. Kirimlah hasil ladang dan ternak kalian ke kawah Bromo setiap terang bulan, tanggal 14 bulan Kasadha," ucap Kesuma.
Setelah berpamitan kepada keluarganya, pergilah Kesuma ke puncak Gunung Bromo. Tidak ada rasa takut yang tampak dari wajahnya. Dengan berani, ia menceburkan dirinya ke dalam kawah Bromo. Setelah pengorbanan tersebut, Gunung Bromo tampak tenang. Mereka menganggap bahwa Dewata sudah tidak marah lagi. Semenjak kejadian itu, tradisi mengirim hasil ladang dan ternak ke dalam kawah Bromo masih tetap berlangsung sampai sekarang. Tradisi yang dilaksanakan tiap tahun pada bulan Jawa Asyuro (Suro) ini kemudian dinamakan Kasadha.
Pesan Moral :
Janji adalah utang. Oleh karena itu, jangan pernah mengucapkan janji yang tidak bisa kita tepati.
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tengger
wisatabromo.com/suku-tengger-bromo
news.okezone.com/.../legenda-yadnya-kasada-dan-leluhur-suku-tengger





No comments:
Post a Comment