Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Monday, December 7, 2015

Asal mula permusuhan ayam jantan dan tongkol

       
          Hmmm, ..... persahabatan sangatlah mahal harganya. Siapa pun bisa bersahabat tapi untuk menjaganya sangatlah sulit. Seperti yang sering kita lihat dan bahkan kita alami. Persahabatan ada yang dapat kembali dengan baik tapi banyak yang retak dan hancur tak bersisa. Bunda hendak bercerita tentang sebuah legenda suatu persahabatan ....

          Dahulu, terdapat kisah persahabatan antara ayam jantan dan ikan tongkol. Mereka saling membantudalam kesulitan. Suatu hari, rakyat ayam mendengar adanya acara yang akan diadakan oleh salah seorang nelayan yang tinggal di pinggir pantai. Nelayan itu akan mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan anaknya. Sang nelayan mengundang seluruh orang di kepulauan itu.

          Kabar ini kemudian disampaikan oleh rakyat ayam kepada rakyat ikan tongkol di laut. "Hai Ikan Tongkol sahabatku, aku mendengar di daratan akan diadakan pesta besar. Di pesta itu akan diadakan pertunjukan. Jika kau tertarik, datanglah nanti malam," ucap Kepala Suku Ayam kepada Kepala Suku Ikan Tongkol.

          "Benarkah? Wah, kalau begitu kami ingin melihatnya. Rasanya bosan juga terus-terusan di laut yang sepi. Kami ingin melihat acara yang berbeda di laut", ucap Kepala Suku Ikan Tongkol.

          Baru beberapa langkah Kepala Suku Ayam pergi meninggalkan rakyat dan Kepala Suku Ikan Tongkol di laut, Kepala Suku Ikan Tongkol memanggil kembali. "Tunggu sebentar Ayam, bolehkah aku meminta tolong kepadamu?" tanya Kepala Suku Ikan Tongkol.

          "Ada apa sahabatku? Jika aku bisa melakukannya, akan aku bantu," jawab Kepala Suku Ayam.

          "Begini, biasanya jika terbit fajar, air laut akan mengalami gelombang surut sehingga daratan menjadi kering. Oleh karena itu, sebelum fajar terbit, tolong beritahu kami. Kami harus meninggalkan daratan untukkembali ke laut," pinta Kepala Suku Ikan Tongkol.

          "Baiklah sahabatku, kalian tidak usah khawatir. Aku akan memberi tahu kalian sebelum terbit fajar," jawab Kepala Suku Ayam.

          "Terima kasih sahabatku," kata Kepala Suku Ikan Tongkol. Kepala Suku Ayam akhirnya menyanggupi permintaan Kepala Suku Ikan Tongkol. Ia tidak ingin sahabat-sahabatnya celaka. Dan juga sudah menjadi kebiasaan ayam jantan berkokok setiap menjelang pagi untuk membangunkan seluruh warga kepulauan.

          Malam pun menjelang. Saat itu malam bulan purnama. Air laut perbani ( laut mengalami gelombang pasang besar). Rakyat ikan tongkol pun berbondong-bondong memasuki wilayah pantai. Mereka mengendap-endap ke daratan dan bersembunyi di kolong balai-balai.

          Keramaian di rumah nelayan sudah terjadi sejak tadi sore. Rakyat ikan tongkol dan rakyat ayam juga sudah bersiap-siap untuk melihat pertunjukan yang mereka nanti-nantikan. Pertunjukan itu adalah zikir bardah (doa atau puji-pujian berlagu) yang diiringi dengan gendang rebana. Bunyi-bunyian ini sangat disukai rakyat ikan tongkol. Akhirnya, mereka bisa menikmatinya dari jarak dekat.

          Semakin malam, pertunjukan itu semakin mengasyikkan. Rakyat Ikan Tongkol sangat menikmati syair-syair dari zikir bardah itu. "Wah, betapa merdu dan bagusnya syair-syair ini," ujar Kepala Suku Ikan Tongkol.

          Tanpa disadari oleh rakyat ikan tongkol, hari sudah sangat larut dan mereka tertidur pulas. Tapi tidak diduga sebelumnya, ternyata tidak hanya ikan tongkol saja yang tertidur, rakyat ayam pun juga terlena dan tertidur pulas. Padahal, mereka punya tugas untuk membangunkan para ikan tongkol dengan berkokok sebelum fajar tiba. Baik ayam yang berada di kandang maupun yang bertengger, semua tertidur.

          Malapetaka pun datang. Subuh sudah menjelang, tapi tidak satu pun rakyat ayam jantan yang berkokok. "Ya ampun, gawat. Aku lupa berkokok," kata salah satu ayam jantan.

         "Air laut sudah surut. Bagaimana dengan nasib sahabatku ikan tongkol? Mereka pasti akan marah pada kita," ucap Kepala Suku Ayam.

          Benar saja, rakyat ikan tongkol kaget bukan kepalang. Ketika mereka bangun dari tidur, hari sudah pagi dan daratan sudah kering. Mereka tidak dapat lagi kembali ke laut. Para ikan tongkol pun segera berhamburan ke lekuk-lekuk karang yang berisi air yang berada tidak jauh dari pantai. Tapi, sebagian besar lagi terjebak di daratan dan tidak bisa pergi ke mana-mana.

          Pagi itu, seluruh penduduk pantai terkejut melihat banyak sekali ikan tongkol di daratan. Ikan tongkol itu menggelepar-gelepar kekeringan di kolong balai-balai.

          "Wah, kenapa banyak sekali ikan tongkol di sini?" tanya salah satu penduduk keheranan.

          Penduduk pantai pun beramai-ramai menangkap ikan tongkol yang malang itu. Sedangkan Kepala Suku Ikan Tongkol sangat murka kepada ayam jantan yang tidak berkokok dan membangunkan mereka.

          "Dasar, kurang ajar kamu Ayam. Kamu mencelakai rakyatku," teriak Kepala Suku Ikan Tongkol sambil mengepalkan tangannya yang seolah-olah ingin memukul Ayam.

          "Mulai saat ini, kami akan memangsa semua rakyat ayam, terutama ayam jantan!" sumpah Kepala Suku Ikan Tongkol.

         
Sejak saat itu, ayam dan ikan tongkol bermusuhan. Persahabatan mereka telah berubah menjadi dendam. Para nelayan pun sejak saat itu dengan mudah mendapatkan ikan tongkol jika umpannya adalah bulu ayam jantan.

Pesan Moral :

Memegang janji memang tidak mudah. Untuk itu, berhati-hatilah jika kita membuat janji dengan orang lain. Sebab, janji adalah utang yang harus kita tepati. 

No comments:

Post a Comment