Hallo apa kabar semua, ketemu lagi bersama Bunda, ya. Hari ini Bunda mau cerita tentang Cindelaras, seorang pemuda yang mempunyai ayam Jantan yang tangguh. Maaf jika beberapa hari Bunda tidak ada di sini, sebab harus buat laporan untuk siswa siswi. Ok .... selamat membaca dan ambil hikmahnya.
Dahulu, disebuah kerajaan bernama Jenggala, hidup seorang raja bernama Raden Putra. Ia memiliki seorang permaisuri yang sangat cantik dan baik hati. Selain itu, ia juga memiliki seorang selir yang juga sangat cantik. Sayangnya, selir cantik itu memiliki hati yang busuk atau jahat. Ia merasa iri terhadap permaisuri yang selalu diperhatikan oleh sang raja. "Huh, seharusnya aku yang menjadi permaisuri. Kecantikanku juga tidak kalah dengan permaisuri. Aku akan membuat baginda hanya memperhatikan aku," ucap selir dalam hati.
Rasa iri sang selir membawanya memiliki niat jahat terhadap permaisuri. Suatu hari, sang selir berkomplot bersama tabib istana membuat rencana agar selir berpura-pura sakit parah. Keesokan harinya, rencana tersebut dilaksanakan. Sang selir berpura-pura merintih menahan sakit. Raja yang melihat selir kesayangannya jatuh sakit segera memerintahkan pengawal kerajaan memanggil tabib istana.
"Tabib, sebenarnya apa yang terjadi dengan selirku? Mengapa sakitnya mendadak danterlihat sangat parah? Padahal kemarin ia tampak sehat-sehat saja," ucap Raja.
"Begini Baginda, sebenarnya hamba tidak berani mengatakannya. Sebab, jika Baginda mengetahuinya, Baginda pasti akan murka," ucap tabib istana. "Ada apa sebenarnya?" tanya raja semakin penasaran.
"Maafkan hamba sebelumnya. Sepertinya, selir terkena racun dari air minumnya. Sebelumnya, selir mengatakan kepada hamba bahwa permaisuri yang membawakan minuman itu untuknya. Jadi, menurut hamba, permaisuri sengaja meracuni minuman selir karena merasa iri Baginda terlalu sayang kepada selir," ucap tabib istana.
"Apa? Benar-benar keterlaluan. Berani benar permaisuri melakukan hal itu pada selir kesayanganku. Pengawal, panggil permaisuri untuk menghadapku sekarang juga, cepat!" perintah raja dengan murka.
Para pengawal segera memanggil permaisuri untuk menghadap raja. Ia tidak mengetahui alasan raja yang sangat tergesa-gesa memanggilnya. Saat permaisuri menghadap raja, betapa terkejutnya ia mendengar tuduhan sang raja kepadanya. Permaisuri yang tidak merasa melakukan hal tersebut, mengelak tuduhan itu.
"Berani sekali kau menyangkal apa yang telah kau perbuat. Hukuman untuk seseorang yang hendak membunuh adalah pelakunya harus dibunuh," ucap sang raja murka.
Karena terbakar amarah, sang raja memerintahkan para pengawalnya untuk mengusir permaisuri dari istana. Ia pun memerintahkan patih istana untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya. Raja tidak mengetahui bahwa permaisuri dalam keadaan mengandung. Akhirnya, patih membawa permaisuri yang sedang mengandung ke hutan. Patih merasa yakin bahwa permaisuri tidak bersalah. Permaisuri yang baik hati dan bijaksana tidak mungkin meracuni selir. Oleh karena itu, sang patih melanggar titah raja.
"Permaisuri, hamba mengetahui semua ini adalah perbuatan licik selir. Hamba juga tidak sampai hati untuk menyakiti permaisuri. Biarlah hamba berdusta kepada baginda tentang permaisuri. Hamba akan mengatakan bahwa permaisuri telah hamba bunuh. Jagalah baik-baik calon bayi itu. Kelak, ia akan menjadi seorang putra mahkota Kerajaan Jenggala," ucap patih.
"Terima kasih atas kebaikanmu, Patih. Aku akan menjaga baik-baik kandunganku," kata permaisuri.
Kemudian, patih membuat rumah-rumahan dari ranting pohon dan dedaunan untuk sang permaisuri selama tinggal di hutan. Ia juga melumuri pedangnya dengan darah kelinci untuk mengelabui raja. Setelah itu, ia kembali ke istana melaporkan bahwa dirinya telah membunuh permaisuri, Raja mengangguk puas.
Bulan berganti bulan. Anak yang berada dalam kandungan permaisuri pun telah lahir. Anak itu tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan tampan. Ia diberi nama Cindelaras, Karena sejak kecil tinggal di hutan, Cindelaras banyak berteman dengan binatang. Suatu hari, ketika Cindelaras sedang bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam.
Telur tersebut jatuh tepat di hadapan cindelaras. Hap! Dengan sigap Cindelaras menangkap telur tersebut. Ternyata, Cindelaras membiarkan telur tersebut selama tiga minggu sampai menetas.
Cindelaras merawat anak ayam itu dengan baik hingga menjadi seekor ayam jantan dewasa yang bagus dan kuat. Satu hal yang membuat ayam milik Cindelaras berbeda dengan ayam lainnya, yaitu kokokannya. "Kukuruyuk ..... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra ....."
Cindelaras sangat takjub dengan ayam miliknya. Ia pun memberitahukan hal tersebut kepada ibunya. Akhirnya, sang ibu memberitahukan asal-usul Cindelaras dan kejadian yang menimpa mereka. Mendengar cerita itu, Cindelaras bertekad untuk pergi ke istana menemui ayahandanya dan membongkar perbuatan jahat yang dilakukan oleh selir.
Keesokan harinya, dengan izin sang ibu, Cindelaras pergi menuju istana dengan membawa ayam kesayangannya. Di tengah perjalanan, ia dipanggil oleh beberapa orang yang sedang menyabung (mengadu) ayam. "Hai, kemarilah! Kalau berani, adu ayam jantanmu dengan ayam jantan milikku ini! tantang salah seorang penyabung ayam.
Akhirnya, Cindelaras mengadu ayam jantan miliknya dengan ayam para penyabung itu. Berkali-kali diadu, ayam milik Cindelaras selalu menang. Ketangguhan ayam Cindelaras menyebar dengan cepat sampai ke telinga raja. Mendengar hal tersebut, raja memerintahkan hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana.
"Hamba menghadap, Paduka Raja," ucap Cindelaras dengan santun. "Hmm ....., anak ini tampan dan cerdas. Ia juga sangat sopan. Sepertinya ia bukan dari golongan rakyat jelata," pikir raja.
"Hamba bersedia Paduka. Jika hamba kalah, hamba bersedia dipancung. Tapi, jika hamba menang, separuh kekayaan Paduka akan menjadi milik hamba," ucap Cindelaras.
"Benar-benar tawaran yang sangat berani," pikir raja. "Baiklah, aku setuju dengan syaratmu," ucap raja menyanggupi.
Kabar tentang adu ayam milik raja dengan ayam milik Cindelaras pun tersebar ke seluruh rakyat Jenggala. Akhirnya, acara tersebut digelar dan ditonton oleh seluruh rakyat. Tibalah waktu yang dinantikan, Ayam Cindelaras berhasil mengalahkan ayam raja. Seluruh penonton bersorak sorai dan mengelu-elukan nama Cindelaras dan ayamnya.
Raja pun tersenyum. Ia berbesar hati menerima kekalahan. "Aku mengaku kalah dan akan menepati janji. Tapi, siapakah dirimu sebenarnya?" tanya raja.
Cindelaras mengambil ayamnya. Ia seperti membisikkan sesuatu di telinga ayam kesayangannya. Tiba-tiba saja ayam itu berkokok, "Kukuruyuk ..... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra ....."
Mendengar kokokan itu raja sangat terkejut. Ia terperanjat dari singgasananya. Raja semakin penasaran dengan sosok pemuda yang ada di hadapannya. "Benarkah apa yang dikatakan oleh ayammu itu anak muda?" tanya raja. "Benar Paduka, nama hamba Cindelaras. Ibu hamba adalah permaisuri Kerajaan Jenggala yang telah dibuang ke hutan," jawab Cindelaras.
Mendengar pengakuan Cindelaras raja semakin terkejut. Patih yang mendengar penjelasan itu kemudian menghadap raja dan memberitahukan kejadian yang sebenarnya.
"Aku telah melakukan kesalahan, Patih. Aku benar-benar tidak menyangka selir kesayanganku bisa berbuat sekejam itu. Sekarang juga, tangkap selir itu dan seret ke hadapanku! Ia harus diberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya!" titah sang raja.
Tidak berapa lama, selir jahat sudah berada di hadapannya. Dengan murka, raja menyuruh para pengawalnya untuk membuang selir ke hutan. "Ampuni hamba, Baginda ..... Hamba mengaku bersalah. Jangan buang hamba, Baginda .....," ratap selir jahat.
Ratapan selir tidak digubris sedikit pun oleh raja. Raja yang melihat buah hatinya berada dihadapannya segera berlari dan memeluknya dengan erat. Raja meminta maaf kepada Cindelaras atas kesalahannya. Setelah itu, raja memerintahkan hulubalang nya untuk menjemput permaisuri di hutan. Mereka pun hidup bahagia di istana. Sepeninggal Raden Putra, kedudukannya sebagai raja digantikan oleh Cindelaras yang memerintah dengan arif dan bijaksana.
Dahulu, disebuah kerajaan bernama Jenggala, hidup seorang raja bernama Raden Putra. Ia memiliki seorang permaisuri yang sangat cantik dan baik hati. Selain itu, ia juga memiliki seorang selir yang juga sangat cantik. Sayangnya, selir cantik itu memiliki hati yang busuk atau jahat. Ia merasa iri terhadap permaisuri yang selalu diperhatikan oleh sang raja. "Huh, seharusnya aku yang menjadi permaisuri. Kecantikanku juga tidak kalah dengan permaisuri. Aku akan membuat baginda hanya memperhatikan aku," ucap selir dalam hati.
Rasa iri sang selir membawanya memiliki niat jahat terhadap permaisuri. Suatu hari, sang selir berkomplot bersama tabib istana membuat rencana agar selir berpura-pura sakit parah. Keesokan harinya, rencana tersebut dilaksanakan. Sang selir berpura-pura merintih menahan sakit. Raja yang melihat selir kesayangannya jatuh sakit segera memerintahkan pengawal kerajaan memanggil tabib istana.
"Tabib, sebenarnya apa yang terjadi dengan selirku? Mengapa sakitnya mendadak danterlihat sangat parah? Padahal kemarin ia tampak sehat-sehat saja," ucap Raja.
"Begini Baginda, sebenarnya hamba tidak berani mengatakannya. Sebab, jika Baginda mengetahuinya, Baginda pasti akan murka," ucap tabib istana. "Ada apa sebenarnya?" tanya raja semakin penasaran.
"Maafkan hamba sebelumnya. Sepertinya, selir terkena racun dari air minumnya. Sebelumnya, selir mengatakan kepada hamba bahwa permaisuri yang membawakan minuman itu untuknya. Jadi, menurut hamba, permaisuri sengaja meracuni minuman selir karena merasa iri Baginda terlalu sayang kepada selir," ucap tabib istana.
"Apa? Benar-benar keterlaluan. Berani benar permaisuri melakukan hal itu pada selir kesayanganku. Pengawal, panggil permaisuri untuk menghadapku sekarang juga, cepat!" perintah raja dengan murka.
Para pengawal segera memanggil permaisuri untuk menghadap raja. Ia tidak mengetahui alasan raja yang sangat tergesa-gesa memanggilnya. Saat permaisuri menghadap raja, betapa terkejutnya ia mendengar tuduhan sang raja kepadanya. Permaisuri yang tidak merasa melakukan hal tersebut, mengelak tuduhan itu.
"Berani sekali kau menyangkal apa yang telah kau perbuat. Hukuman untuk seseorang yang hendak membunuh adalah pelakunya harus dibunuh," ucap sang raja murka.
Karena terbakar amarah, sang raja memerintahkan para pengawalnya untuk mengusir permaisuri dari istana. Ia pun memerintahkan patih istana untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya. Raja tidak mengetahui bahwa permaisuri dalam keadaan mengandung. Akhirnya, patih membawa permaisuri yang sedang mengandung ke hutan. Patih merasa yakin bahwa permaisuri tidak bersalah. Permaisuri yang baik hati dan bijaksana tidak mungkin meracuni selir. Oleh karena itu, sang patih melanggar titah raja.
"Permaisuri, hamba mengetahui semua ini adalah perbuatan licik selir. Hamba juga tidak sampai hati untuk menyakiti permaisuri. Biarlah hamba berdusta kepada baginda tentang permaisuri. Hamba akan mengatakan bahwa permaisuri telah hamba bunuh. Jagalah baik-baik calon bayi itu. Kelak, ia akan menjadi seorang putra mahkota Kerajaan Jenggala," ucap patih.
"Terima kasih atas kebaikanmu, Patih. Aku akan menjaga baik-baik kandunganku," kata permaisuri.
Kemudian, patih membuat rumah-rumahan dari ranting pohon dan dedaunan untuk sang permaisuri selama tinggal di hutan. Ia juga melumuri pedangnya dengan darah kelinci untuk mengelabui raja. Setelah itu, ia kembali ke istana melaporkan bahwa dirinya telah membunuh permaisuri, Raja mengangguk puas.
Bulan berganti bulan. Anak yang berada dalam kandungan permaisuri pun telah lahir. Anak itu tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan tampan. Ia diberi nama Cindelaras, Karena sejak kecil tinggal di hutan, Cindelaras banyak berteman dengan binatang. Suatu hari, ketika Cindelaras sedang bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam.
Telur tersebut jatuh tepat di hadapan cindelaras. Hap! Dengan sigap Cindelaras menangkap telur tersebut. Ternyata, Cindelaras membiarkan telur tersebut selama tiga minggu sampai menetas.
Cindelaras merawat anak ayam itu dengan baik hingga menjadi seekor ayam jantan dewasa yang bagus dan kuat. Satu hal yang membuat ayam milik Cindelaras berbeda dengan ayam lainnya, yaitu kokokannya. "Kukuruyuk ..... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra ....."
Cindelaras sangat takjub dengan ayam miliknya. Ia pun memberitahukan hal tersebut kepada ibunya. Akhirnya, sang ibu memberitahukan asal-usul Cindelaras dan kejadian yang menimpa mereka. Mendengar cerita itu, Cindelaras bertekad untuk pergi ke istana menemui ayahandanya dan membongkar perbuatan jahat yang dilakukan oleh selir.
Keesokan harinya, dengan izin sang ibu, Cindelaras pergi menuju istana dengan membawa ayam kesayangannya. Di tengah perjalanan, ia dipanggil oleh beberapa orang yang sedang menyabung (mengadu) ayam. "Hai, kemarilah! Kalau berani, adu ayam jantanmu dengan ayam jantan milikku ini! tantang salah seorang penyabung ayam.
Akhirnya, Cindelaras mengadu ayam jantan miliknya dengan ayam para penyabung itu. Berkali-kali diadu, ayam milik Cindelaras selalu menang. Ketangguhan ayam Cindelaras menyebar dengan cepat sampai ke telinga raja. Mendengar hal tersebut, raja memerintahkan hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana.
"Hamba menghadap, Paduka Raja," ucap Cindelaras dengan santun. "Hmm ....., anak ini tampan dan cerdas. Ia juga sangat sopan. Sepertinya ia bukan dari golongan rakyat jelata," pikir raja.
"Hamba bersedia Paduka. Jika hamba kalah, hamba bersedia dipancung. Tapi, jika hamba menang, separuh kekayaan Paduka akan menjadi milik hamba," ucap Cindelaras.
"Benar-benar tawaran yang sangat berani," pikir raja. "Baiklah, aku setuju dengan syaratmu," ucap raja menyanggupi.
Kabar tentang adu ayam milik raja dengan ayam milik Cindelaras pun tersebar ke seluruh rakyat Jenggala. Akhirnya, acara tersebut digelar dan ditonton oleh seluruh rakyat. Tibalah waktu yang dinantikan, Ayam Cindelaras berhasil mengalahkan ayam raja. Seluruh penonton bersorak sorai dan mengelu-elukan nama Cindelaras dan ayamnya.
Raja pun tersenyum. Ia berbesar hati menerima kekalahan. "Aku mengaku kalah dan akan menepati janji. Tapi, siapakah dirimu sebenarnya?" tanya raja.
Cindelaras mengambil ayamnya. Ia seperti membisikkan sesuatu di telinga ayam kesayangannya. Tiba-tiba saja ayam itu berkokok, "Kukuruyuk ..... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra ....."
Mendengar kokokan itu raja sangat terkejut. Ia terperanjat dari singgasananya. Raja semakin penasaran dengan sosok pemuda yang ada di hadapannya. "Benarkah apa yang dikatakan oleh ayammu itu anak muda?" tanya raja. "Benar Paduka, nama hamba Cindelaras. Ibu hamba adalah permaisuri Kerajaan Jenggala yang telah dibuang ke hutan," jawab Cindelaras.
Mendengar pengakuan Cindelaras raja semakin terkejut. Patih yang mendengar penjelasan itu kemudian menghadap raja dan memberitahukan kejadian yang sebenarnya.
"Aku telah melakukan kesalahan, Patih. Aku benar-benar tidak menyangka selir kesayanganku bisa berbuat sekejam itu. Sekarang juga, tangkap selir itu dan seret ke hadapanku! Ia harus diberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya!" titah sang raja.
Tidak berapa lama, selir jahat sudah berada di hadapannya. Dengan murka, raja menyuruh para pengawalnya untuk membuang selir ke hutan. "Ampuni hamba, Baginda ..... Hamba mengaku bersalah. Jangan buang hamba, Baginda .....," ratap selir jahat.
Ratapan selir tidak digubris sedikit pun oleh raja. Raja yang melihat buah hatinya berada dihadapannya segera berlari dan memeluknya dengan erat. Raja meminta maaf kepada Cindelaras atas kesalahannya. Setelah itu, raja memerintahkan hulubalang nya untuk menjemput permaisuri di hutan. Mereka pun hidup bahagia di istana. Sepeninggal Raden Putra, kedudukannya sebagai raja digantikan oleh Cindelaras yang memerintah dengan arif dan bijaksana.







No comments:
Post a Comment