Hai, ..... semuanya. Kalian pasti sudah tidak sabar ya, untuk membaca dongeng dari Bunda. Tentu saja Bunda akan memberikan sebuah dongeng yang sangat bagus. Tapi sesudah membacanya, ... ambil hikmah da pesan moralnya ya. Kalian pasti tahu donk, peri atau bidadari atau tinkerbell. Nach, ..... dongeng ini menceritakan bidadari yang cantik dan seorang pemuda yang gagah dan tampan. Dongeng ini berasal dari Jawa Tengah. Ayo mulai dongengnya ya ..... !
Di sebuah pinggiran desa, hidup seorang pemuda yang sangat tampan. Ia gemar berburu dengan menggunakan sumpitnya. Pemuda tersebut bernama Jaka Tarub.
Seperti kebiasaannya sehari-hari. Jaka Tarub pergi ke hutan. Namun, sudah cukup lama menyusuri hutan tidak satu pun tampak hewan buruan terlihat. Karena kelelahan ia pun beristirahat.
Suasana hutan yang sangat tenang membuat Jaka Tarub mengantuk. Sambil melepaskan lelah, ia mencoba tidur sejenak. Tapi, tiba-tiba ia mendengar sayup-sayup suara gadis-gadis yang sedang bersenda gurau dan suara gemericik air. Dengan rasa penasaran, Jaka Tarub beranjak dari tempatnya beristirahat. Kemudian, ia mencari sumber suara tersebut.
Betapa terkejutnya Jaka Tarub dengan apa yang dilihatnya. Tujuh orang gadis cantik tengah mandi di sebuah telaga yang berada di dalam hutan. Jaka Tarub mengintip di sela-sela semak belukar dan tertegun melihatnya.
"Betapa cantiknya gadis-gadis itu. Tapi, siapakah mereka? Apakah para bidadari yang sedang mandi?" pikir Jaka Tarub.
Ketika Jaka Tarub sedang melihat para gadis cantik itu mandi dengan riang, ia melihat seonggokan selendang yang tidak jauh dari tempat para gadis itu mandi. Kemudian, muncul pikiran Jaka Tarub untuk menyembunyikan selendang itu. Dengan mengendap-endap Jaka Tarub mengambil sepotong selendang milik salah satu bidadari.
"Adik-adik, hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita segera kembali ke kayangan," ucap salah satu dari para gadis cantik itu.
Jaka Tarub kini yakin, bahwa para gadis cantik itu adalah bidadari yang sedang mandi. Bidadari-bidadari itu kemudian menuju tempat selendang mereka diletakkan. Mereka pun memakai selendang itu. Tapi, apa yang terjadi, salah satu dari bidadari itu kehilangan selendangnya. "Aduh, bagaimana ini? Selendangku hilang. Bagaimana aku dapat terbang ke kayangan," ucap salah satu bidadari kebingungan.
"Bagaimana mungkin bisa hilang! Coba kau ingat-ingat lagi di mana kau meletakkannya?
kata bidadari lainnya.
Para bidadari itu kemudian mencari selendang yang hilang, sedangkan Jaka Tarub hanya menyaksikan para bidadari itu panik mencari selendang. Hari pun sudah semakin sore. Para bidadari itu tidak dapat lagi tinggal lebih lama di bumi.
"Maaf Nawang Wulan, kami harus segera pergi meninggalkanmu. Kami tidak dapat berbuat apa-apa," ujar salah seorang bidadari kepada bidadari yang kehilangan selendangnya.
Bidadari-bidadari itu kemudian terbang ke angkasa meninggalkan Nawang Wulan yang hanya mampu melihat saudara-saudaranya pergi ke kayangan. Nawang Wulan sangat sedih. Ia tidak dapat pergi ke kayangan tanpa selendang bidadarinya. Ia pun menangis tersedu-sedu.
Pada saat seperti itu, Jaka Tarub muncul di hadapan Nawang Wulan. Jaka Tarub yang sejak tadi sudah mengintp dari balik semak pura-pura bertanya apa yang terjadi. Dengan terisak-isak, Nawang Wulan menceritakan semuanya.
"Betapa malang nasibmu, biarkan aku menolongmu. Untuk sementara waktu, tinggallah dulu di gubukku sampai selendangmu ditemukan," ajak Jaka Tarub kepada Nawang Wulan.
Akhirnya, Nawang Wulan tinggal di gubuk Jaka Tarub. Hari demi hari mereka lalui bersama. Benih-benih cinta pun muncul di antara keduanya sehingga Jaka Tarub memperistri Nawang Wulan.
Setahun berlalu, Jaka Tarub dan Nawang Wulan dikaruniai seorang anak perempuan. Mereka memberi nama Nawangsih. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan. Dengan kesaktian yang dimiliki Nawang wulan, mereka pun tidak pernah kekurangan makanan. Selain itu, lumbung padi yang mereka miliki selalu penuh.
Suatu hari, Nawang Wulan disuruh Jaka Tarub untuk menanak nasi. Lalu, ia pun menjalankan perintah tersebut. Akan tetapi, karena ada keperluan, ia meminta izin pada suaminya untuk pergi sebentar. Ia berpesan pada Jaka Tarub agar tidak membuka panci yang sedang digunakan untuk menanak nasi.
Setelah Nawang Wulan pergi, Jaka Tarub yang penasaran dengan isi dalam panci akhirnya nekat melanggar pesan yang diberikan istrinya. Dibukanya panci itu. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub, karena iamelihat hanya ada satu padi yang dimasak oleh Nawang Wulan.
Saat Nawang Wulan pulang, ia mengetahui Jaka Tarub telah melanggar pesannya. Ia menjadi sangat marah. Keesokan hari, Nawang Wulan menanak nasi dengan beras yang banyak. Itu dilakukannya setiap hari. Lama-kelamaan, persediaan padi yang ada di lumbung semakin sedikit. Itu artinya tumpukan padi semakin menipis.
Saat akan mengambil tumpukan padi yang sedikit itu, tiba-tiba di bawah tumpukan padi, Nawang Wulan menemukan sebuah selendang. Ia sangat kenal dengan selendang ini. Ternyata, itu memang selendang miliknya yang telah hilang.
"Hah, selendangku yang hilang. Mengapa ada di sini? Benarkah kakang Jaka yang telah mengambilnya?" tanya Nawang Wulan dalam hati. Nawang Wulan segera mengenakan selendang itu.
Sementara itu, Jaka Tarub sudah sejak tadi mencari-cari istrinya. Ia pergi menuju lumbung. Siapa tahu istrinya berada di sana. Namun, betapa terkejutnya Jaka Tarub dengan apa yang dilihatnya. Nawang Wulan telah mengenakan selendang bidadarinya.
"Maaf Kakang, aku harus pergi kembali ke kayangan," ucap Nawang Wulan.
"Nawang Wulan, aku tahu aku salah. Aku telah mencuri selendangmu. Tapi, bagaimana dengan anak kita? Apa kau tega meninggalkannya?" tanya Jaka Tarub sambil memelas.
"Aku tidak menyangka kau telah menipuku sekian lama. Aku memang tidak tega meninggalkan Nawangsih. Tapi aku terpaksa melakukannya. Aku harus kembali ke kayangan karena itulah tempatku," ucap Nawang Wulan.
"Tapi, anak kita masih sangat membutuhkanmu. Ia masih menyusu. Lalu, apa yang harus ku perbuat tanpamu, Nawang Wulan?" ucap Jaka Tarub.
"Aku akan tetap menjalankan kewajibanku untuk menyusuinya. Aku akan datang setiap malam untuk menyusui. Karenanya, buatkanlah dangau (gubuk atau rumah kecil di sawah/ di ladang yang di gunakan untuk berteduh ketika menjaga tanaman/padi) untukku. Letakkan Nawangsih di situ. Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah kau mendekati dangau itu selama aku menyusui," ucap Nawang Wulan.
"Nawang Wulan, tidak bisakah kau tinggal bersama kami di sini. Aku minta maaf atas segala kesalahanku. Tapi kumohon, kau jangan pergi," bujuk Jaka Tarub.
Tapi, keputusan Nawang Wulan tidak dapat ditawar lagi. Tekadnya untuk kembali ke kayangan sudah bulat. Dengan beruarai air mata, Nawang Wulan menciumi Nawangsih yang berada dalam dekapan Jaka Tarub. Setelah itu, Nawang Wulan terbang ke kayangan sambil melambaikan tangannya.
Sepeninggal Nawang Wulan, Jaka Tarub menuruti pesan Nawang Wulan untuk membuat sebuah dangau. Setiap malam, sesuai janji, Nawang Wulan datang untuk menyusui Nawangsih.
Pesan Moral :
Jangan sekali-kali berbohong. Sebab berbohong akan mencelakai diri kita sendiri maupun orang lain. Sebaik-baik kita menutupi kebohongan, nantinya akan terungkap juga.
Di sebuah pinggiran desa, hidup seorang pemuda yang sangat tampan. Ia gemar berburu dengan menggunakan sumpitnya. Pemuda tersebut bernama Jaka Tarub.
Seperti kebiasaannya sehari-hari. Jaka Tarub pergi ke hutan. Namun, sudah cukup lama menyusuri hutan tidak satu pun tampak hewan buruan terlihat. Karena kelelahan ia pun beristirahat.
Suasana hutan yang sangat tenang membuat Jaka Tarub mengantuk. Sambil melepaskan lelah, ia mencoba tidur sejenak. Tapi, tiba-tiba ia mendengar sayup-sayup suara gadis-gadis yang sedang bersenda gurau dan suara gemericik air. Dengan rasa penasaran, Jaka Tarub beranjak dari tempatnya beristirahat. Kemudian, ia mencari sumber suara tersebut.
Betapa terkejutnya Jaka Tarub dengan apa yang dilihatnya. Tujuh orang gadis cantik tengah mandi di sebuah telaga yang berada di dalam hutan. Jaka Tarub mengintip di sela-sela semak belukar dan tertegun melihatnya.
"Betapa cantiknya gadis-gadis itu. Tapi, siapakah mereka? Apakah para bidadari yang sedang mandi?" pikir Jaka Tarub.
Ketika Jaka Tarub sedang melihat para gadis cantik itu mandi dengan riang, ia melihat seonggokan selendang yang tidak jauh dari tempat para gadis itu mandi. Kemudian, muncul pikiran Jaka Tarub untuk menyembunyikan selendang itu. Dengan mengendap-endap Jaka Tarub mengambil sepotong selendang milik salah satu bidadari.
"Adik-adik, hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita segera kembali ke kayangan," ucap salah satu dari para gadis cantik itu.
Jaka Tarub kini yakin, bahwa para gadis cantik itu adalah bidadari yang sedang mandi. Bidadari-bidadari itu kemudian menuju tempat selendang mereka diletakkan. Mereka pun memakai selendang itu. Tapi, apa yang terjadi, salah satu dari bidadari itu kehilangan selendangnya. "Aduh, bagaimana ini? Selendangku hilang. Bagaimana aku dapat terbang ke kayangan," ucap salah satu bidadari kebingungan.
"Bagaimana mungkin bisa hilang! Coba kau ingat-ingat lagi di mana kau meletakkannya?
kata bidadari lainnya.
Para bidadari itu kemudian mencari selendang yang hilang, sedangkan Jaka Tarub hanya menyaksikan para bidadari itu panik mencari selendang. Hari pun sudah semakin sore. Para bidadari itu tidak dapat lagi tinggal lebih lama di bumi.
"Maaf Nawang Wulan, kami harus segera pergi meninggalkanmu. Kami tidak dapat berbuat apa-apa," ujar salah seorang bidadari kepada bidadari yang kehilangan selendangnya.
Bidadari-bidadari itu kemudian terbang ke angkasa meninggalkan Nawang Wulan yang hanya mampu melihat saudara-saudaranya pergi ke kayangan. Nawang Wulan sangat sedih. Ia tidak dapat pergi ke kayangan tanpa selendang bidadarinya. Ia pun menangis tersedu-sedu.
Pada saat seperti itu, Jaka Tarub muncul di hadapan Nawang Wulan. Jaka Tarub yang sejak tadi sudah mengintp dari balik semak pura-pura bertanya apa yang terjadi. Dengan terisak-isak, Nawang Wulan menceritakan semuanya.
"Betapa malang nasibmu, biarkan aku menolongmu. Untuk sementara waktu, tinggallah dulu di gubukku sampai selendangmu ditemukan," ajak Jaka Tarub kepada Nawang Wulan.
Akhirnya, Nawang Wulan tinggal di gubuk Jaka Tarub. Hari demi hari mereka lalui bersama. Benih-benih cinta pun muncul di antara keduanya sehingga Jaka Tarub memperistri Nawang Wulan.
Setahun berlalu, Jaka Tarub dan Nawang Wulan dikaruniai seorang anak perempuan. Mereka memberi nama Nawangsih. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan. Dengan kesaktian yang dimiliki Nawang wulan, mereka pun tidak pernah kekurangan makanan. Selain itu, lumbung padi yang mereka miliki selalu penuh.
Suatu hari, Nawang Wulan disuruh Jaka Tarub untuk menanak nasi. Lalu, ia pun menjalankan perintah tersebut. Akan tetapi, karena ada keperluan, ia meminta izin pada suaminya untuk pergi sebentar. Ia berpesan pada Jaka Tarub agar tidak membuka panci yang sedang digunakan untuk menanak nasi.
Setelah Nawang Wulan pergi, Jaka Tarub yang penasaran dengan isi dalam panci akhirnya nekat melanggar pesan yang diberikan istrinya. Dibukanya panci itu. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub, karena iamelihat hanya ada satu padi yang dimasak oleh Nawang Wulan.
Saat Nawang Wulan pulang, ia mengetahui Jaka Tarub telah melanggar pesannya. Ia menjadi sangat marah. Keesokan hari, Nawang Wulan menanak nasi dengan beras yang banyak. Itu dilakukannya setiap hari. Lama-kelamaan, persediaan padi yang ada di lumbung semakin sedikit. Itu artinya tumpukan padi semakin menipis.
Saat akan mengambil tumpukan padi yang sedikit itu, tiba-tiba di bawah tumpukan padi, Nawang Wulan menemukan sebuah selendang. Ia sangat kenal dengan selendang ini. Ternyata, itu memang selendang miliknya yang telah hilang.
"Hah, selendangku yang hilang. Mengapa ada di sini? Benarkah kakang Jaka yang telah mengambilnya?" tanya Nawang Wulan dalam hati. Nawang Wulan segera mengenakan selendang itu.
Sementara itu, Jaka Tarub sudah sejak tadi mencari-cari istrinya. Ia pergi menuju lumbung. Siapa tahu istrinya berada di sana. Namun, betapa terkejutnya Jaka Tarub dengan apa yang dilihatnya. Nawang Wulan telah mengenakan selendang bidadarinya.
"Maaf Kakang, aku harus pergi kembali ke kayangan," ucap Nawang Wulan.
"Nawang Wulan, aku tahu aku salah. Aku telah mencuri selendangmu. Tapi, bagaimana dengan anak kita? Apa kau tega meninggalkannya?" tanya Jaka Tarub sambil memelas.
"Aku tidak menyangka kau telah menipuku sekian lama. Aku memang tidak tega meninggalkan Nawangsih. Tapi aku terpaksa melakukannya. Aku harus kembali ke kayangan karena itulah tempatku," ucap Nawang Wulan.
"Tapi, anak kita masih sangat membutuhkanmu. Ia masih menyusu. Lalu, apa yang harus ku perbuat tanpamu, Nawang Wulan?" ucap Jaka Tarub.
"Aku akan tetap menjalankan kewajibanku untuk menyusuinya. Aku akan datang setiap malam untuk menyusui. Karenanya, buatkanlah dangau (gubuk atau rumah kecil di sawah/ di ladang yang di gunakan untuk berteduh ketika menjaga tanaman/padi) untukku. Letakkan Nawangsih di situ. Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah kau mendekati dangau itu selama aku menyusui," ucap Nawang Wulan.
"Nawang Wulan, tidak bisakah kau tinggal bersama kami di sini. Aku minta maaf atas segala kesalahanku. Tapi kumohon, kau jangan pergi," bujuk Jaka Tarub.
Tapi, keputusan Nawang Wulan tidak dapat ditawar lagi. Tekadnya untuk kembali ke kayangan sudah bulat. Dengan beruarai air mata, Nawang Wulan menciumi Nawangsih yang berada dalam dekapan Jaka Tarub. Setelah itu, Nawang Wulan terbang ke kayangan sambil melambaikan tangannya.
Sepeninggal Nawang Wulan, Jaka Tarub menuruti pesan Nawang Wulan untuk membuat sebuah dangau. Setiap malam, sesuai janji, Nawang Wulan datang untuk menyusui Nawangsih.
Pesan Moral :
Jangan sekali-kali berbohong. Sebab berbohong akan mencelakai diri kita sendiri maupun orang lain. Sebaik-baik kita menutupi kebohongan, nantinya akan terungkap juga.



No comments:
Post a Comment