Hmmm .... Indonesia, adalah negara kepulauan yang sangat indah. Dan sudah tentu kamu tahu pulau Kalimantan. Pulau tersebut sangatlah besar dan luas, di sana juga terdapat sungai-sungai yang panjang, luas dan terkenal. Salah satunya adalah sungai Kapuas yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Sungai ini memiliki anak sungai yang banyak. Salah satunya adalah sungai Kawat. Aneh bukan namanya Sungai Kawat? Sudah pasti ada legendanya, mau tahu ceritanya? Mari kita mulai .....
Dahulu kala, di Kalimantan Barat, terdapat sebuah kota kecil yang disebut dengan Kota Sintang. Di Kota Sintang inilah Sungai Kawat berada. Ketika itu, Kota Sintang baru saja didirikan oleh Djubair I.
Di kota ini pula hidup seorang nelayan miskin bersama istri dan anak-anaknya. Setiap hari, nelayan itu hanya hidup dari mencari ikan di Sungai Kawat (dahulu sungai ini belum ada namanya).
Suatu hari, seperti biasa nelayan miskin itu pergi ke sungai untuk mencari ikan. Rencananya, ia akan memancing beberapa ikan untuk dimakan anak dan istrinya hari itu. Segala sesuatunya ia persiapkan seperti membawa umpan dan dua buah alat pancing. Pancing itu sengaja ia bawa lebih untuk berjaga-jaga jika salah satu tali dari alat pancingnya putus.
Sambil terus berdoa dan berharap mendapat ikan yang banyak, si nelayan melangkahkan kakinya dengan mantap menuju sungai. Di sana, sudah ada sebuah perahu yang biasa ia gunakan untuk mencari ikan. Perahu pun didayung ke tengah sungai. Lalu, pancing yang telah diberi umpan ia lemparkan ke sungai. Dengan sabar nelayan itu menunggu alat pancingnya bergerak hingga mendapatkan ikan. Tidak terasa matahari sudah mulai tinggi, tidak seekor ikan pun berhasil menyangkut di kailnya. Entah kenapa, hari itu umpan yang ia pasang tidak sedikit pun menarik perhatian ikan-ikan untuk memangsanya. Jangankan berharap mendapat ikan yang banyak, seekor ikan kecil pun tidak ia dapatkan.
Meski pun demikian, si nelayan tidak putus asa. Dengan sabar ia tetap berusaha memancing. Ia bertekad mendapatkan ikan meski hanya seekor untuk dimakan anak dan istrinya yang telah menunggu di rumah.
Beberapa kali ia pindah tempat memancing, berharap ada seekor ikan yang bisa ditangkapnya. Akan tetapi, hingga matahari telah condong ke barat, nelayan itu belum juga mendapatkan hasil.
"Ah, mungkin jika aku lebih ke hulu, aku akan mendapat ikan," pikir nelayan yang kemudian mendayung perahunya menuju ke hulu.
Sesampainya di sana, ia menemukan sebuah teluk kecil yang berbatu. Tanah di sekitar teluk itu berlumut dan ditumbuhi pepohonan kayu yang rimbun dan besar.
"Nah, sepertinya di sini aku akan mendapatkan ikan."
Si nelayan mulai mempersiapkan alat pancingnya dan mengganti umpannya. Setelah itu, pancing diulur ke dalam sungai. Berjam-jam sudah ia menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda sedikit pun pancingnya ditarik oleh ikan.
Hari sudah menjelang malam. Matahari hampir terbenam. Namun, nelayan itu belum juga pulang dari sungai. Belum seekor ikan pun ia dapatkan. Akhirnya, dengan perasaan kecewa si nelayan hendak kembali ke rumahnya.
"Ah, sudahlah. Mungkin hari ini memang bukan hari keberuntunganku," pikir nelayan.
Akan tetapi, ketika ia hendak mengangkat pancingnya, tiba-tiba pancing itu bergerak dengan keras seolah-olah ada yang menariknya dari dalam air. Dengan sigap nelayan tersebut menahan dan menarik pancing dengan kuat.
"Wah, sepertinya aku dapat ikan besar kali ini," teriaknya bahagia.
Tapi, tarikan dari dalam air sangat kuat hingga menarik tali pancing itu ke sela-sela batu yang berada di tepi sungai. Tali pancing segera di ulur agar tidak putus. Ketika tarikan dari dalam air mulai melemah, si nelayan menarik tali pancingnya.
"Mengapa ikan besar itu belum juga terlihat ya?" tanyanya dalam hati sambil menarik pancingnya perlahan.
Tidak terasa hari sudah gelap. Pepohonan rimbun di sekitar sungai menambah mencekamnya suasana. Air sungai pun tidak lagi membiaskan cahaya, yang ada tinggal kegelapan.
Ketika tali pancing telah terangkat, betapa terkejutnya nelayan itu. Bukan seekor ikan besar yang ia dapatkan, tetapi hanya tali kawat berwarna kekuningan yang tersangkut di ujung tali pancingnya.
"Ah, sayang sekali. Ikan besar itu telah lepas," ucapnya dengan kecewa.
Ketika si nelayan hendak melepaskan tali kawat itu, ia baru tersadar bahwa tali kawat yang menyangkut di pancingnya adalah kawat emas. Ia terkejut sekaligus bahagia karena usahanya sejak pagi mendapatkan hasil meski pun bukan seekor ikan yang didapatkannya, melainkan kawat emas.
"Kalau tali kawat ini panjang, aku bisa kaya mendadak!" teriaknya.
Satu depa (depa; ukuran sepanjang kedua belah tangan merentang dari ujung jari tengah tangan kiri sampai ke ujung jari tengah tangan kanan), dua depa, tiga depa, kawat emas itu ia tarik. Tapi, tali kawat belum juga habis. Nelayan itu belum juga merasa cukup. Dengan serakah, ia menarik terus tali kawat emas hingga seluruh perahunya terisi kawat emas. Meski pun si nelayan sudah menariknya berkali-kali,tali kawat itu belum juga habis.
"Aku benar-benar menjadi orang kaya!"
"Tiba-tiba dari dalam air terdengar teriakan, "Sudaaaah ..... sudaaah ..... sudah cukup kau tarik kawat ini."
Meski pun mendengar teriakan itu, si nelayan tidak menggubrisnya. Dengan serakahnya, ia terus menarik kawat hingga perahunya mulai sedikit tenggelam. "Sudah ..... sudah cukup kau ambil kawat emas ini! Janganlah kau tarik lagi! Potong saja talinya!" teriak suara dari dalam air.
Sekali lagi, si nelayan tidak menggubris peringatan itu. Perahu yang ia tumpangi tanpa disadarinya mulai tenggelam. Ia baru tersadar setelah air yang masuk ke perahunya sudah sampai ke lutut. Semakin lama, perahu semakin tenggelam karena beban berat dari kawat emas.
"Tolong ..... tolong ..... tolong aku!" teriak nelayan yang sudah mulai tenggelam bersama perahunya.
Meski pun berkali-kali ia meminta tolong dengan suara yang hampir habis , tetap saja tidak ada yang membantu. Ia tidak sadar bahwa dirinya berada di tengah-tengah sungai yang gelap dan tidak ada seorang pun berada di sana. Akhirnya, ia mati tenggelam bersama perahu dan kawat emasnya. Seandainya ia tidak serakah dan mematuhi peringatan dalam air itu tentu saja ia tidak akan mati sia-sia.
Nach, ..... itulah cerita atau legenda dari Kalimantan Barat. Bagus bukan ? Nantikan legenda selanjutnya ya. Sebab masih banyak lagi dari provinsi lain yang ada di Indonesia tercinta ini. Dan baca juga ya pesan moralnya.
Pesan Moral :
Jadilah orang yang pandai bersyukur. Jika apa yang didapatkan sudah mencukupi kebutuhan hidup, berhentilah. Sebab,jika kita selalu ingin hidup berlebihan dengan sifat serakah, justru akan mencelakai kita.
Dahulu kala, di Kalimantan Barat, terdapat sebuah kota kecil yang disebut dengan Kota Sintang. Di Kota Sintang inilah Sungai Kawat berada. Ketika itu, Kota Sintang baru saja didirikan oleh Djubair I.
Di kota ini pula hidup seorang nelayan miskin bersama istri dan anak-anaknya. Setiap hari, nelayan itu hanya hidup dari mencari ikan di Sungai Kawat (dahulu sungai ini belum ada namanya).
Suatu hari, seperti biasa nelayan miskin itu pergi ke sungai untuk mencari ikan. Rencananya, ia akan memancing beberapa ikan untuk dimakan anak dan istrinya hari itu. Segala sesuatunya ia persiapkan seperti membawa umpan dan dua buah alat pancing. Pancing itu sengaja ia bawa lebih untuk berjaga-jaga jika salah satu tali dari alat pancingnya putus.
Sambil terus berdoa dan berharap mendapat ikan yang banyak, si nelayan melangkahkan kakinya dengan mantap menuju sungai. Di sana, sudah ada sebuah perahu yang biasa ia gunakan untuk mencari ikan. Perahu pun didayung ke tengah sungai. Lalu, pancing yang telah diberi umpan ia lemparkan ke sungai. Dengan sabar nelayan itu menunggu alat pancingnya bergerak hingga mendapatkan ikan. Tidak terasa matahari sudah mulai tinggi, tidak seekor ikan pun berhasil menyangkut di kailnya. Entah kenapa, hari itu umpan yang ia pasang tidak sedikit pun menarik perhatian ikan-ikan untuk memangsanya. Jangankan berharap mendapat ikan yang banyak, seekor ikan kecil pun tidak ia dapatkan.
Meski pun demikian, si nelayan tidak putus asa. Dengan sabar ia tetap berusaha memancing. Ia bertekad mendapatkan ikan meski hanya seekor untuk dimakan anak dan istrinya yang telah menunggu di rumah.
Beberapa kali ia pindah tempat memancing, berharap ada seekor ikan yang bisa ditangkapnya. Akan tetapi, hingga matahari telah condong ke barat, nelayan itu belum juga mendapatkan hasil.
"Ah, mungkin jika aku lebih ke hulu, aku akan mendapat ikan," pikir nelayan yang kemudian mendayung perahunya menuju ke hulu.
Sesampainya di sana, ia menemukan sebuah teluk kecil yang berbatu. Tanah di sekitar teluk itu berlumut dan ditumbuhi pepohonan kayu yang rimbun dan besar.
"Nah, sepertinya di sini aku akan mendapatkan ikan."
Si nelayan mulai mempersiapkan alat pancingnya dan mengganti umpannya. Setelah itu, pancing diulur ke dalam sungai. Berjam-jam sudah ia menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda sedikit pun pancingnya ditarik oleh ikan.
Hari sudah menjelang malam. Matahari hampir terbenam. Namun, nelayan itu belum juga pulang dari sungai. Belum seekor ikan pun ia dapatkan. Akhirnya, dengan perasaan kecewa si nelayan hendak kembali ke rumahnya.
"Ah, sudahlah. Mungkin hari ini memang bukan hari keberuntunganku," pikir nelayan.
Akan tetapi, ketika ia hendak mengangkat pancingnya, tiba-tiba pancing itu bergerak dengan keras seolah-olah ada yang menariknya dari dalam air. Dengan sigap nelayan tersebut menahan dan menarik pancing dengan kuat.
"Wah, sepertinya aku dapat ikan besar kali ini," teriaknya bahagia.
Tapi, tarikan dari dalam air sangat kuat hingga menarik tali pancing itu ke sela-sela batu yang berada di tepi sungai. Tali pancing segera di ulur agar tidak putus. Ketika tarikan dari dalam air mulai melemah, si nelayan menarik tali pancingnya.
"Mengapa ikan besar itu belum juga terlihat ya?" tanyanya dalam hati sambil menarik pancingnya perlahan.
Tidak terasa hari sudah gelap. Pepohonan rimbun di sekitar sungai menambah mencekamnya suasana. Air sungai pun tidak lagi membiaskan cahaya, yang ada tinggal kegelapan.
Ketika tali pancing telah terangkat, betapa terkejutnya nelayan itu. Bukan seekor ikan besar yang ia dapatkan, tetapi hanya tali kawat berwarna kekuningan yang tersangkut di ujung tali pancingnya.
"Ah, sayang sekali. Ikan besar itu telah lepas," ucapnya dengan kecewa.
Ketika si nelayan hendak melepaskan tali kawat itu, ia baru tersadar bahwa tali kawat yang menyangkut di pancingnya adalah kawat emas. Ia terkejut sekaligus bahagia karena usahanya sejak pagi mendapatkan hasil meski pun bukan seekor ikan yang didapatkannya, melainkan kawat emas.
"Kalau tali kawat ini panjang, aku bisa kaya mendadak!" teriaknya.
Satu depa (depa; ukuran sepanjang kedua belah tangan merentang dari ujung jari tengah tangan kiri sampai ke ujung jari tengah tangan kanan), dua depa, tiga depa, kawat emas itu ia tarik. Tapi, tali kawat belum juga habis. Nelayan itu belum juga merasa cukup. Dengan serakah, ia menarik terus tali kawat emas hingga seluruh perahunya terisi kawat emas. Meski pun si nelayan sudah menariknya berkali-kali,tali kawat itu belum juga habis.
"Aku benar-benar menjadi orang kaya!"
"Tiba-tiba dari dalam air terdengar teriakan, "Sudaaaah ..... sudaaah ..... sudah cukup kau tarik kawat ini."
Meski pun mendengar teriakan itu, si nelayan tidak menggubrisnya. Dengan serakahnya, ia terus menarik kawat hingga perahunya mulai sedikit tenggelam. "Sudah ..... sudah cukup kau ambil kawat emas ini! Janganlah kau tarik lagi! Potong saja talinya!" teriak suara dari dalam air.
Sekali lagi, si nelayan tidak menggubris peringatan itu. Perahu yang ia tumpangi tanpa disadarinya mulai tenggelam. Ia baru tersadar setelah air yang masuk ke perahunya sudah sampai ke lutut. Semakin lama, perahu semakin tenggelam karena beban berat dari kawat emas.
"Tolong ..... tolong ..... tolong aku!" teriak nelayan yang sudah mulai tenggelam bersama perahunya.
Meski pun berkali-kali ia meminta tolong dengan suara yang hampir habis , tetap saja tidak ada yang membantu. Ia tidak sadar bahwa dirinya berada di tengah-tengah sungai yang gelap dan tidak ada seorang pun berada di sana. Akhirnya, ia mati tenggelam bersama perahu dan kawat emasnya. Seandainya ia tidak serakah dan mematuhi peringatan dalam air itu tentu saja ia tidak akan mati sia-sia.
Nach, ..... itulah cerita atau legenda dari Kalimantan Barat. Bagus bukan ? Nantikan legenda selanjutnya ya. Sebab masih banyak lagi dari provinsi lain yang ada di Indonesia tercinta ini. Dan baca juga ya pesan moralnya.
Pesan Moral :
Jadilah orang yang pandai bersyukur. Jika apa yang didapatkan sudah mencukupi kebutuhan hidup, berhentilah. Sebab,jika kita selalu ingin hidup berlebihan dengan sifat serakah, justru akan mencelakai kita.



No comments:
Post a Comment