Hi ..... kamu tahu gambar apa di samping ini ? Pasti kamu tahu ..... ini adalah gambar keong atau siput. Dia adalah binatang yang sangat lambat jika berjalan dan akan meninggalkan jejak yang berlendir. Tapi keong dapat juga dibuat tepung, lho? Dulu Bunda pernah membuatnya waktu masih duduk dibangku SMA dengan jurusan IPA/ MIA. Biasa tugas sekolah dan praktek untuk LAB. Tapi di sini Bunda akan bercerita tentang Keong Mas, legenda yang berasal dari daerah Jawa, tepatnya Jawa Timur.
Di sebuah kerajaan bernama Daha, tinggal seorang raja bijaksana bernama Kertamarta. Ia memiliki dua orang putri cantik, Galuh Ajeng dan Candra Kirana. Candra Kirana sudah memiliki tunangan bernama Raden Inu Kertapati, putra mahkota dari kerajaan Kahuripan.
Raden Inu Kertapati adalah pemuda yang baik dan tampan. Banyak putri-putri cantik menyukainya, termasuk Galuh Ajeng. Galuh Ajeng sangat menyukai Raden Inu Kertapati. Tetapi, justru Candra Kirana yang bertunangan dengan Raden Inu. Timbullah rasa iri dalam diri Galuh Ajeng. Ia ingin merebut Raden Inu dari Candra Kirana.
Rasa iri Galuh Ajeng semakin lama semakin menjadi. Muncul siasat buruk untuk mencelakai saudara kandungnya. Akhirnya, ia menemui seorang nenek sihir.
"Nenek sihir yang sakti, tolong bantu saya. Saya akan membayar berapa pun asalkan keinginan saya dapat tercapai," pinta Galuh Ajeng kepada nenek sihir.
"Apa yang harus saya lakukan, Putri Galuh?" tanya nenek sihir. "Kutuklah Candra Kirana, nek," jawab Galuh Ajeng.
Nenek sihir itu pun melaksanakan perintah Galuh Ajeng. Namun, kejahatan Galuh Ajeng tidak hanya sampai di situ. Ia pun memfitnah Candra Kirana sehingga terusir dari istana.
Betapa malang nasib Candra Kirana. Ketika ia sedang berjalan menyusuri pantai, nenek sihir itu pun menyihirnya menjadi seekor keong emas dan membuangnya ke laut. Hanya ada satu cara untuk menghilangkan sihir itu, yaitu jika Candra Kirana yang sudah berubah menjadi keong bertemu dengan tunangannya.
Suatu hari, seorang nenek yang sedang asyik menjala ikan menemukan keong emas. Keong emas itu tersangkut di jala ikan sang nenek. Keong emas pun akhirnya di bawa pulang olehnya dan diletakkan di dalam sebuah tempayan.
Keesokan harinya, sang nenek kembali ke laut untuk menjala ikan. Tapi, tak seekor ikan pun tersangkut di jalanya. Berkali-kali sang nenek mencoba menebarkan jalanya, hasilnya tetap saja nihil. Dengan perasaan kecewa bercampur lelah ia kembali ke gubuknya.
Setibanya di gubuk, ia melihat masakan-masakan yang sangat lezat berada di atas mejanya. "Ya ampun. Benarkah apa yang aku lihat? Siapa yang memasak makanan-makanan ini dan membawanya ke gubukku?" tanya sang nenek heran. Karena rasa lapar yang tiada tertahan, nenek itu memakan semua masakan yang sudah tersedia di meja.
Keesokan harinya, sang nenek kembali melakukan kegiatan yang sama, yaitu menjala ikan. Saat kembali ke gubuknya,kejadian kemarin terulang kembali. Nenek itu pun bingung. Siapa orang yang telah berbaik hati menyiapkan makanan lezat untukku.
Pada keesokan paginya, nenek itu diam-diam mengintip dari balik gubuknya. Betapa terkejut dirinya melihat keong emas yang berada di tempayan berubah menjadi seorang gadis cantik. Gadis itu memasak makananyang lezat untuk dirinya. Kemudian, si nenek mendatangi keong emas. "Hei gadis cantik, siapa kamu sebenarnya?" tanya sang nenek.
"Namaku Candra Kirana. Aku adalah seorang putri dari kerajaan Daha. Karena sifat iri hati saudara kandungku, aku disihir menjadi seekor keong emas," jawab Candra Kirana yang kemudian berubah kembali menjadi keong emas.
Di tempat lain, Raden Inu Kertapati yang kehilangan tunangannya tampak gelisah. Ia sangat merindukan tunangannya yang pergi tanpa jejak. Meski pun demikian, ia tinggal diam. Diam-diam Raden Inu pergi dari istana mencari tunangannya dengan menyamar sebagai rakyat biasa.
Nenek sihir yang jahat mengetahui tindakan Raden Inu. Ia pun mengubah dirinya menjadi seekor burung gagak yang hendak mencelakai Raden Inu. Raden Inu sangat kaget melihat seekor burung gagak yang mampu berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap bahwa burung itu adalah burung yang sakti. Raden Inu diberikan petunjuk arah yang salah oleh burung jadi-jadian itu. Di perjalanan, Raden Inu bertemu dengan seorang kakek tua yang kelaparan.
"Maaf Tuan, bisakah aku meminta sedikit makanan untuk mengganjal perutku yang sejak kemarin belum terisi?" pinta sang kakek dengan terbata-bata.
"Sepertinya aku memiliki sedikit sisa perbekalan," jawab Raden Inu sambil mengeluarkan sisa perbekalannya yang kemudian diberikan kepada kakek tua itu. "Hanya ini sisa perbekalan yang aku punya. Ambillah kek. Semoga cukup untuk mengurangi rasa lapar," ujar Raden Inu kembali.
"Terima kasih nak." Sang kakek pun memakan makanan yang diberikan Raden Inu dengan lahap.
Tak disangka, kakek tua itu seorang yang sakti dan baik hati. Ia mengetahui bahwa burung gagak yang mengikuti Raden Inu merupakan burung jelmaan nenek sihir yang jahat. Akhirnya, sang kakek mengayunkan tongkat yang dibawanya dan dipukulkan ke burung gagak. Dalam sekejap burung gagak berubah menjadi asap.
Kakek sakti juga mengetahui bahwa Raden Inu hendak mencari Candra Kirana. Akhirnya, ia memberi petunjuk kepada Raden Inu untuk pergi ke desa Dadapan tempat Candra Kirana berada. Raden Inu pun pergi ke desa Dadapan.
Setelah berhari-hari Raden Inu menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya tibalah ia di desa Dadapan. Sesampainya di desa itu, perbekalan yang dibawanya habis.
Saat itu, ia melihat sebuah gubuk tua. Ia berharap si pemilik gubuk berkenan memberinya seteguk air. Betapa terkejutnya Raden Inu saat melihat dari balik jendela sesosok gadis cantik yang dikenalnya sedang memasak. Gadis itu adalah Candra Kirana. Kebahagian menyelimuti perasaan keduanya. Akhirnya, sihir terhadap Candra Kirana hilang begitu saja karena ia telah berjumpa dengan Raden Inu. Lalu, Candra Kirana memperkenalkan sang nenek yang telah menolongnya kepada Raden Inu.
"Terima kasih telah menolong tunangan saya. Sebenarnya saya seorang pangeran yang menyamar menjadi rakyat biasa untuk mencari tunangan saya yang hilang. Oleh karena itu, saya hendak memboyong Candra Kirana dan nenek untuk pergi ke istana," ucap Raden Inu.
Mereka pun pergi ke istana. Sesampainya di istana, Candra Kirana menceritakan kejahatan Galuh Ajeng kepada Baginda Kertamarta. Alangkah murkanya Baginda Kertamarta sehingga memerintahkan Galuh Ajeng untuk dihukum berat.
Takut akan hukuman Baginda Kertamarta, Galuh Ajeng melarikan diri ke hutan. Tapi sial menimpa Galuh Ajeng, ketika menyelusup ke dalam hutan ia terpeleset dan jatuh ke jurang. Pernikahan Raden Inu dan Candra Kirana berlangsung juga dengan meriah. Mereka pun menjadi pasangan serasi dan hidup bahagia.
Iya, ..... bagaimana ceritanya. Menarik bukan? Tapi jangan lupa ya, baca juga pesan moralnya dari Bunda.
Pesan Moral :
Kejahatan akan kalah dengan kebaikan. Serapat apa pun kebusukan ditutup-tutupi, baunya akan tetap tercium juga.
Di sebuah kerajaan bernama Daha, tinggal seorang raja bijaksana bernama Kertamarta. Ia memiliki dua orang putri cantik, Galuh Ajeng dan Candra Kirana. Candra Kirana sudah memiliki tunangan bernama Raden Inu Kertapati, putra mahkota dari kerajaan Kahuripan.
Raden Inu Kertapati adalah pemuda yang baik dan tampan. Banyak putri-putri cantik menyukainya, termasuk Galuh Ajeng. Galuh Ajeng sangat menyukai Raden Inu Kertapati. Tetapi, justru Candra Kirana yang bertunangan dengan Raden Inu. Timbullah rasa iri dalam diri Galuh Ajeng. Ia ingin merebut Raden Inu dari Candra Kirana.
Rasa iri Galuh Ajeng semakin lama semakin menjadi. Muncul siasat buruk untuk mencelakai saudara kandungnya. Akhirnya, ia menemui seorang nenek sihir.
"Nenek sihir yang sakti, tolong bantu saya. Saya akan membayar berapa pun asalkan keinginan saya dapat tercapai," pinta Galuh Ajeng kepada nenek sihir.
"Apa yang harus saya lakukan, Putri Galuh?" tanya nenek sihir. "Kutuklah Candra Kirana, nek," jawab Galuh Ajeng.
Nenek sihir itu pun melaksanakan perintah Galuh Ajeng. Namun, kejahatan Galuh Ajeng tidak hanya sampai di situ. Ia pun memfitnah Candra Kirana sehingga terusir dari istana.
Betapa malang nasib Candra Kirana. Ketika ia sedang berjalan menyusuri pantai, nenek sihir itu pun menyihirnya menjadi seekor keong emas dan membuangnya ke laut. Hanya ada satu cara untuk menghilangkan sihir itu, yaitu jika Candra Kirana yang sudah berubah menjadi keong bertemu dengan tunangannya.
Suatu hari, seorang nenek yang sedang asyik menjala ikan menemukan keong emas. Keong emas itu tersangkut di jala ikan sang nenek. Keong emas pun akhirnya di bawa pulang olehnya dan diletakkan di dalam sebuah tempayan.
Keesokan harinya, sang nenek kembali ke laut untuk menjala ikan. Tapi, tak seekor ikan pun tersangkut di jalanya. Berkali-kali sang nenek mencoba menebarkan jalanya, hasilnya tetap saja nihil. Dengan perasaan kecewa bercampur lelah ia kembali ke gubuknya.
Setibanya di gubuk, ia melihat masakan-masakan yang sangat lezat berada di atas mejanya. "Ya ampun. Benarkah apa yang aku lihat? Siapa yang memasak makanan-makanan ini dan membawanya ke gubukku?" tanya sang nenek heran. Karena rasa lapar yang tiada tertahan, nenek itu memakan semua masakan yang sudah tersedia di meja.
Keesokan harinya, sang nenek kembali melakukan kegiatan yang sama, yaitu menjala ikan. Saat kembali ke gubuknya,kejadian kemarin terulang kembali. Nenek itu pun bingung. Siapa orang yang telah berbaik hati menyiapkan makanan lezat untukku.
Pada keesokan paginya, nenek itu diam-diam mengintip dari balik gubuknya. Betapa terkejut dirinya melihat keong emas yang berada di tempayan berubah menjadi seorang gadis cantik. Gadis itu memasak makananyang lezat untuk dirinya. Kemudian, si nenek mendatangi keong emas. "Hei gadis cantik, siapa kamu sebenarnya?" tanya sang nenek.
"Namaku Candra Kirana. Aku adalah seorang putri dari kerajaan Daha. Karena sifat iri hati saudara kandungku, aku disihir menjadi seekor keong emas," jawab Candra Kirana yang kemudian berubah kembali menjadi keong emas.
Di tempat lain, Raden Inu Kertapati yang kehilangan tunangannya tampak gelisah. Ia sangat merindukan tunangannya yang pergi tanpa jejak. Meski pun demikian, ia tinggal diam. Diam-diam Raden Inu pergi dari istana mencari tunangannya dengan menyamar sebagai rakyat biasa.
Nenek sihir yang jahat mengetahui tindakan Raden Inu. Ia pun mengubah dirinya menjadi seekor burung gagak yang hendak mencelakai Raden Inu. Raden Inu sangat kaget melihat seekor burung gagak yang mampu berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap bahwa burung itu adalah burung yang sakti. Raden Inu diberikan petunjuk arah yang salah oleh burung jadi-jadian itu. Di perjalanan, Raden Inu bertemu dengan seorang kakek tua yang kelaparan.
"Maaf Tuan, bisakah aku meminta sedikit makanan untuk mengganjal perutku yang sejak kemarin belum terisi?" pinta sang kakek dengan terbata-bata.
"Sepertinya aku memiliki sedikit sisa perbekalan," jawab Raden Inu sambil mengeluarkan sisa perbekalannya yang kemudian diberikan kepada kakek tua itu. "Hanya ini sisa perbekalan yang aku punya. Ambillah kek. Semoga cukup untuk mengurangi rasa lapar," ujar Raden Inu kembali.
"Terima kasih nak." Sang kakek pun memakan makanan yang diberikan Raden Inu dengan lahap.
Tak disangka, kakek tua itu seorang yang sakti dan baik hati. Ia mengetahui bahwa burung gagak yang mengikuti Raden Inu merupakan burung jelmaan nenek sihir yang jahat. Akhirnya, sang kakek mengayunkan tongkat yang dibawanya dan dipukulkan ke burung gagak. Dalam sekejap burung gagak berubah menjadi asap.
Kakek sakti juga mengetahui bahwa Raden Inu hendak mencari Candra Kirana. Akhirnya, ia memberi petunjuk kepada Raden Inu untuk pergi ke desa Dadapan tempat Candra Kirana berada. Raden Inu pun pergi ke desa Dadapan.
Setelah berhari-hari Raden Inu menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya tibalah ia di desa Dadapan. Sesampainya di desa itu, perbekalan yang dibawanya habis.
Saat itu, ia melihat sebuah gubuk tua. Ia berharap si pemilik gubuk berkenan memberinya seteguk air. Betapa terkejutnya Raden Inu saat melihat dari balik jendela sesosok gadis cantik yang dikenalnya sedang memasak. Gadis itu adalah Candra Kirana. Kebahagian menyelimuti perasaan keduanya. Akhirnya, sihir terhadap Candra Kirana hilang begitu saja karena ia telah berjumpa dengan Raden Inu. Lalu, Candra Kirana memperkenalkan sang nenek yang telah menolongnya kepada Raden Inu.
"Terima kasih telah menolong tunangan saya. Sebenarnya saya seorang pangeran yang menyamar menjadi rakyat biasa untuk mencari tunangan saya yang hilang. Oleh karena itu, saya hendak memboyong Candra Kirana dan nenek untuk pergi ke istana," ucap Raden Inu.
Mereka pun pergi ke istana. Sesampainya di istana, Candra Kirana menceritakan kejahatan Galuh Ajeng kepada Baginda Kertamarta. Alangkah murkanya Baginda Kertamarta sehingga memerintahkan Galuh Ajeng untuk dihukum berat.
Takut akan hukuman Baginda Kertamarta, Galuh Ajeng melarikan diri ke hutan. Tapi sial menimpa Galuh Ajeng, ketika menyelusup ke dalam hutan ia terpeleset dan jatuh ke jurang. Pernikahan Raden Inu dan Candra Kirana berlangsung juga dengan meriah. Mereka pun menjadi pasangan serasi dan hidup bahagia.
Iya, ..... bagaimana ceritanya. Menarik bukan? Tapi jangan lupa ya, baca juga pesan moralnya dari Bunda.
Pesan Moral :
Kejahatan akan kalah dengan kebaikan. Serapat apa pun kebusukan ditutup-tutupi, baunya akan tetap tercium juga.





No comments:
Post a Comment