Welcome toTell_Story

Welcome to "My Tell_Story"

Monday, November 9, 2015

Si Pitung Jagoan Betawi

         Dalam rangka memperingati hari pahlawan, Bunda akan menceritakan suatu legenda dari Betawi. Yang pasti kamu sudah tahu, legenda dari betawi, yang selalu membela masyarakat yang lemah dan siap melindungi. Dia adalah si Pitung.

         Pitung adalah pemuda yang saleh dan berbudi luhur dari Rawa Belong. Selain belajar ilmu agama, Pitung juga belajar ilmu bela diri. Karenanya, selesai mengaji, ia belajar silat dari Haji Naipin. Semakin hari kemampuan agama maupun silatnyasemakin bertambah. Si Pitung pun menjadi pendekar yang gagah berani, berakhlak tinggi, dan selalu membela kaum yang lemah.

          Ketika itu, Belanda masih menjajah Indonesia. Para kompeni (sebutan untuk orang Belanda) bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Para tauke (pemilik toko, pabrik, dan lainnya) dan para tuan tanah hidup bergelimang harta. Sedangkan, rakyat biasa hidup miskin dan kelaparan. Kompeni, Tauke, dan tuan tanah hidup di atas penderitaan rakyat dengan cara memeras rakyat miskin. Rumah dan ladang para penguasa tersebut dijaga oleh para centeng (tukang pukul) yang galak dan kejam.

          Melihat rakyat jelata tertindas dan keadilan tidak ditegakkan, hati Pitung tergugah. Ia bersama dengan temannya, Rais dan Jii, berusaha melindungi dan membela kaum lemah. Mereka merencanakan merampok harta benda milik kompeni, tuan tanah, dan para tauke yang kaya raya. Kemudian, hasil rampokan tersebut ia bagikan kepada orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Untuk keluarga yang miskin, Pitung dan teman-temannya memberikan sepikul beras kepada mereka. Untuk keluarga yang terbelit hutang, mereka berikan santunan. Sedangkan untuk anak yatim piatu, mereka berikan baju dan hadiah lainnya.

         Para penduduk sangat berterima kasih kepada Pitung dan teman-temannya karena telah membantu dan melindungi kaum yang tertindas. Namun, tindakan Pitung bersama teman-temannya yang merampok harta kompeni, tuan tanah, dan para tauke memancing kemarahan para pembesar itu.

         "Pitung dan teman-temannya sudah tidak bisa didiamkan lagi. Kita harus tangkap mereka hidup atau mati," ucap salah seorang tuan tanah.

          "Iya, aku setuju. Tapi, bagaimana kita menangkapnya ? Para centengku yang andal saja tidak mampu melawannya," tanya seorang tauke yang merasa bingung menghadapi si Pitung.

           "Ya, kami saja yang memiliki pistol tidak mampu membunuhnya. Peluru kami tidak bisa menembus tubuhnya," ucap seorang kompeni.

           Para pembesar yang sudah geram dengan perbuatan si Pitung bertekad untuk menangkapnya. Namun, Pitung tidak mudah ditemukan. Para penduduk yang merasa telah berhutang budi kepada si Pitung juga melindungiya. Tidak ada satu pun penduduk yang mau membuka mulut tentang keberadaan si Pitung. Selain itu, Pitung juga tidak mudah untuk dibunuh. Ia memiliki ilmu kebal terhadap senjata apa pun juga.

           Hal ini membuat para pembesar yang serakah itu pusing tujuh keliling. Mereka terus mencari akal untuk melenyapkan si Pitung dan teman-temannya. Akhirnya, mereka menggunakan cara kekerasan untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan si Pitung. Mereka mengancam bahkan menyiksa para penduduk yang telah ditolong oleh si Pitung. Para penduduk dipaksa untuk memberitahukan keberadaan si Pitung dan keluarganya. Usaha mereka tidak sia-sia, akhirnya didapatlah informasi mengenai keluarga si Pitung.

          Para Kompeni segera menangkap dan menyiksa kedua orang tua Pitung beserta Haji Naipin. Kompeni-kompeni itu menyiksa orang tua Pitung dan Haji Naipin dengan kejam. Mereka dicambuk berulang kali sampai pingsan.

         "Hai, cepat katan di mana anak kalian! Kalau tidak, kami akan mencambuk kalian dan menyiksa kalian terus menerus," teriak salah seorang kompeni. "Kami tidak akan memberitahukan di mana Pitung," kata kedua orang tua si Pitung.

         "Apa susahnya untuk kalian memberitahukan di mana Pitung berada. Paling tidak rahasia kekebalan Pitung. Jika kalian beritahu kami, kalian akan bebas. Bahkan, kami bisa memberi kalian hadiah. Tapi, jika kalian tetap bungkam, kalian akan mati perlahan-lahan dengan siksaan yang sangat pedih," ancam kompeni.

         Dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Pitung. Selain itu, mereka juga mendapatkan informasi yang sangat berharga, yaitu mengenai rahasia kekebalan si Pitung.

        "Cepat tangkap si Pitung bersama teman-temannya itu! Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya mati. Sudah cukup banyak kita dirugikan karena perbuatannya. Enak saja dia mencuri harta kita," teriak kompeni.

        Para tentara kompeni pun segera menyergap dan menangkap si Pitung beserta teman-temannya. Pitung dan teman-temannya berusaha melawan sergapan para tentara kompeni. Tapi, apa hendak dikata, rahasia kekebalan si Pitung sudah diketahui oleh para kompeni. Pitung dilempari telur busuk. Setelah seluruh tubuhnya terkena telur busuk, ia pun segera dihujani dengan tembakan dari para tentara kompeni. Si Pitung yang sudah hilang kekebalannya akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di tangan kompeni.

          Meskipun si Pitung sudah mati ditangan kompeni, jasanya terhadap rakyat miskin yang tertindas tetap dikenang. Sampai saat ini, ia masih dikenang oleh masyarakat Betawi sebagai pendekar yang gagah berani melawan penjajah.


Pesan Moral :

Kisah si Pitung memberikan gambaran pada kita bahwa betapa besarnya jasa para pahlawan yang dahulu membela negara kita dari kaum penjajah. Oleh karena itu, jangan pernah kita lupakan jasa para pahlawan yang telah membela tanah air. Kita sebagai penerus bangsa, harus menjadi anak yang baik terhadap sesama, dan saling menolong. Menolong orang yang membutuhkan pertolongan adalah tindakan terpuji dan mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.


Itulah kisah Si Pitung yang legendaris dari Betawi dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November.

No comments:

Post a Comment